Jumat, 25 Mei 2012

Pendukung Musiman vs Pendukung Setia


*prolog*
Ceritanya ada perhelatan satu kejuaraan internasional dimana Negara kita ambil bagian.  Taruhlah ada K dan M yang sama-sama mengikuti ajang ini dari awal.  Seiring bergulirnya waktu, tanpa terasa pertandingan demi pertandingan pun telah bergulir dan kini memasuki fase knock-out.  Artinya, satu demi satu tim peserta akan berguguran.  

Nah, dalam suatu pertandingan sengit di perempatfinal ternyata tim kebanggaan Negara K dan M mesti terhenti langkahnya.  Sejarah yang bisa dikatakan mencoreng reputasi yang telah terbangun sejak 54 tahun terakhir: gagal lolos ke semi final.  

Sejak kekalahan yang bagi sebagian orang dianggap memalukan tersebut (kalau nyesek mah pasti), si K tetap lanjut menyaksikan hingga laga final.  Sementara si M, begitu kalah, sudah ogah-ogahan nonton dengan alas an tidak ada lagi yang bisa dan harus didukung.  

Nah, kira-kira apa sih makna dibalik kisah di atas? 

Jadi si K itu mewakili mereka yang betul-betul menggemari olah raga yang sedang dipertandingkan tersebut.  Sedangkan M, mewakili mereka yang suka tiba-tiba jadi berasa paling nasionalis dan ujug-ujug ‘suka’ sama oleh raga tersebut karena membawa nama Negara.  Salah? Enggak juga sih, Cuma penonton jenis kedua ini tipe pendukung tentative atau musiman.  Jadi mereka ya suka pas tim dukungannya lagi jaya-jayanya secara tiba-tiba, dan bisa begitu saja hilang animonya ketika sang tim (yang ceritanya) kebangaan terhenti di fase tertentu.  Sementara, si K itu masuk e dalam tipe pendukung setia, pendukung tetap.  Jadi, no matter what, karena dia emang pada dasarnya suka sama olah raganya, maka nilai plus ketika tim kebangaannya melenggang hingga partai puncak, tapi sekalipun gagal tidak menyurutkan minatnya untuk terus mengikuti pertandingan demi pertandingan hingga akhir.
***

Cinta Pada Pandangan Pertama

Sebenarnya tulisan di atas penulis dedikasikan untuk bulu tangkis nasional, olah raga yang sedari dulu mencuri perhatian penulis.  Penulis sama sekali gak jago main olah raga ini, tapi ketertarikan penulis terhadap olah raga tepak bulu ini sangat-sangat besar.  Dulunya sih padahal apa coba sekitar tahun 1997-1998 ketika pertama kali penulis menyadari keberadaan olah raga ini.  Umur penulis yang masih 7-8 th memang sudah bisa mencerna olah raga ini gitu? Namun begitulah sejak melihat pertandingan antara aa Opik yg masih abege saat itu melawan entah siapa di partai penentu Thomas Cup kecintaan dan ketertarikan terhadap olah raga satu ini semakin dan semakin tumbuh.  Bahkan ketika memasuki tahun 2000-an, saat prestasi perbulutangkisan tanah air yang makin merosot saban tahunnya, ketertarikan ini tak pernah luntur barang secuil.  Pun hari ini, bahkan sampai kemarin ketika secara kompak tim Piala Thomas & Uber  kita harus menelan pil pahit dikalahkan jepang di perempat final.  Bagi tim Uber, mungkin tidak seberapa mengejutkan mengingat posisinya yang sebagai underdog, tapi sebaliknya bagi tim Thomas yang justru diunggulkan.  Hasil tersebut menyisakan kekecewaan bagi banyak pihak, pun penulis.  Tapi, karena dasar kecintaan terhadap olah raga ini (bukan semata tim nasional), maka kekecewaan itu tidak berlarut hingga memutuskan berhenti menonton ajang Piala Thomas & Uber tersebut.  Bagi penulis adalah suatu kebahagiaan bisa menikmati pertandingan kelas dunia yang dimainkan pemain kelas dunia pula.  Bukan, bukan semat masalah nasionalisme karena toh nasionalisme itu semsetinya sudah secara otomatis tertanam dalam setiap diri anak bangsa.  Jadi, bukan menjadikan nasionalisme sebagai tameng untuk berhenti menyaksikan permainan berkelas di ajang Thomas Uber Cup pasca kekalahan tim nasional.  Hello, bulu tangkis bukan hanya milik Indonesia. Look! If you are really have a deep and big passion of this kind of sport (badminton), you will feel disappointed when you have no chance to watch several GREAT MATCHES!  Believe me! 
***

*epilog*
Emosional BGT gak sih tulisan di atas? Penulis Cuma tiba-tiba kepikiran dan ngerasa pingin dan emang perlu dibagikan perasaa yang sudah terlampau mendesak ingin dilkeluarkan ini.  Tapi, mohon dimaklumi ya, postingan ini emang sangat sangat personal bagi penulis pribadi.  Bukan ingin menyoroti kondisi bulu tangki nasional, tapi lebih kepada pendukungnya itu sendiri.  Suka geli aja soalnya kalau ada jenis pendukung kayak si M yang musiman tapi suka berasa sok iya dan paling tau gitu, geli dan gemesin!  Akhirul statement, no matter how and what, badminton never dies for me personally, GO BADMINTON GO!

Minggu, 20 Mei 2012

Broken Heart: Antara Keikhlasan & Ketulusan


Kisah klasik percintaan berbalut konflik persahabatan dengan penyakit sebagai bumbunya.  Kalau bukan factor aa Reza, entah penulis masih berminat atau tidak.  Sekali lagi, yang pertama dan terutama yakni factor aa Reza, yang kedua faktor Melly Goeslow *suka sama soundtrack aransemenan doski*.  Lanjutin ya, jadi ceritanya seorang editor cantik nan seksi *gak percaya nonton aja, tapi awas JANGAN BAWA ANAK KECIL* bernama Olivia (Julie Estelle) baru saja ditinggal tanpa kabar oleh sang kekasih, Jamie (Reza Rahardian).  Di saat itulah seorang penulis Best Seller benama Aryo (Darius Sinatrhya) pun muncul “mengganggu” hari-harinya.  Sempat mengalami penolakan, toh ekdekatan antara dua insane yang kemudian saling mencintai itu pun tak dapat terhindarkan.  Jadi, tak ada Jamie, Aryo pun jadi!

Selain ketiga tokoh di atas, porsi tokoh lain seperti geng gong-nya si Oliv sama keluarganya Jamie cuma dapet jatah yang kayaknya gak lebih dari 10 menit dari durasi yang sampai 90 menit.  Keliatan kan kalau ketiga tokoh saling terkait dengan seolah-olah menempatkan Oliv di tengah-tengah segitiga siku-siku.  Okay, kita ibaratkan hubungan ketiga tokohnya dengan segitiga.  Andaikata si segitiga dianggap siku-siku, maka Oliv di tengah.  Namun, jika ia sama sisi berarti semuanya bisa menjadi pusat.  Akan tetapi, penulis sendiri lebih sepakat menamai segitiga ini sebagai segitiga sama kaki dengan Jamie yang berada di tengah-tengahnya. 

Kenapa Jamie? Karena Olivia adalah kekasihnya, sementara Aryo  adalah sahabatnya.  Rasa sayang keduanya ke Jamie sama besarannya dengan rasa sayang Jamie pada keduanya.  Tapi, Oliv dan Aryo pun kemudian saling menyayangi dengan kadar yang berbeda dengan rasa sayang Aryo-Jamie ataupun Oliv-Jamie.  Seiring waktu hubungan mereka sampai pada titik terumit bak hubungan Irwan-Sika-Fey Pilih-Pilih Mnatu *laah*.  Jamie yang awalnya meminta Aryo untuk mencintai Oliv ehh tiba-tiba malah memintanya memutuskan Oliv yang baru aja sembuh dari luka karena ditinggal Jamie.  Padahal Aryo udah kadung sayang ma Oliv, pun sebaliknya.  Di titik yang jadi klimaksnya ini yang paling agalau adalah Aryo yang dihadapkan pada pilihan klasik: Persahabatan atau Cinta.  Nah, yang paling egois ya Jamie.  Oliv? Paling innocent, objek, yang cuma tahu-tahu ada cinta baru, tahu-tahu patah hati lagi.

Kenapa coba Jamie kudu merelakan Oliv dipacarin Aryo, sahabatnya sendiri?  Apalagi kalo bukan karena si Jamie ini divonis menderita Anorexia Nervosa.  Penyakit yang digambarkan bikin doi gemetar, perut membuncit, bibir pias sepias-piasnya, muka udah bikin gak nafsu *eehh*.  Jadi tadinya si Jamie pengen ada yang gantiin ngejagain dan membahagiakan Oliv, apalagi ketika ia sudah tiada *maklum divonis gak lama lagi oleh dokter, konon*.  Tapi, seiring waktu ia masih gak rela melihat wanita yang dicintainya makin mesra dengan sahabatnya sendiri.  Tidak jelas juga mengapa si Jamie ujug-ujug mengidap penyakit ini.  Sampai akhirnya Jamie minta mereka putus, Aryo gak tahan untuk membongkar semua rahasia tentang dirinya dan Jamie, Jamie yang pingsan ‘kabur’ ke Semarang, Aryo yang menyusul di tengah kepanikan kemudian……*apa coba??* enk ink enk…seratus buat Anda!  Something happened to one of them! Totally fatal!  Penasaran? Nonton gih ke bioksop terdekat kesayangan Anda! J

***
Well, nonton film ini jujur aja penulis sedikit kecewa.  Kecewa dalam artian apa yang penulis tonton itu tidak sesuai dengan ekspektasi penulis.  Katanya aa Reza main di film ini karena ada faktor apalah gitu mengingat ini jenis genre film romantic yang klasik.  Persahabatan dan penyakit, mau gak klasik gimana, iya gak sih?  Penulis fikir dengan tiga pengisi jajaran cast utama film ini bakal memberikan sesuatu yang lebih dari sekedar kisah cinta, drama romantic kebanyakan dengan plot dan formula yang hamper sama.  Tapi ternyata?  Kalau gak mau dibilang sama, ya gak jauh beda lah begitu.  Malah, penulis cenderung banyak merasa bosan di beberapa scene, terutama yang meilbatkan Jamie dan Aryo.  Beberapa scene lainnya pun, kayak pas di awal saat Aryo PDKT ke Oliv, berasa terlalu slow.  Okay, penulis akui di beberapa scene emang berhasil mengundang air mata penulis, tapi seperti kata temen penulis “that’s it, setelah nangi the ya udah gak ada perasaan apa-apa lagi”, dan memang begitulah adanya.  Selain itu, penulis rada kurang sreg dengan pemilihan Darius di tokoh Aryo.  Ini sih personal ya, karena kadung melekat kalo doi sudah beristri dan beranak tiga, kayaknya bakal jauh klebih berasa dilemanya kalau yang main itu Vino G. Bastian atau Fedi Nuril misalnya, misalnya lho.  Ada lagi, penulis juga gak begitu paham ya kenapa tuh cast ceweknya mesti berkostum serba mini begitu.  *to be continue*


Sabtu, 12 Mei 2012

Lovely Man: When Father Meets Daughter



"Aku Cahaya...."
"Jangan lari dari masalah..."
 
Pemain         : Donny Damara, Raihaanun
Sutradara     : Teddy Soeriaatmadja
Skenario        : Teddy Soeriaatmadja

Sesudah dikecewakan oleh film yang konon memnag tidak dibuat untuk kepentingan komersil, akhirnya hai ini penulis berhasil menyakisikan salah satu film yang telah masuk daftar tunggu sejak 2011 silam.  Meskipun harus merogoh kocek yang lumayan dalam bagi seorang mahasiswa tok seperti penulis , namun toh setimpal lah dengan apa yang penulis rasakan setelah menonton film ini.

Seorang waria berjalan lunglai dengan muka babak belur dan bertalanjang kaki  menuju tempat tinggalnya.  Di tempat lain, seorang gadis muda berkerudung sedang menikmati pemandangan yang dilaluinya melalui jendela kereta yang ditumpanginya.  

Setibanya di stasiun pada sore hari, sang gadis bergegas mencari tahu satu alamat yang membawanya ke satu rusun di Jakarta.  Di rusun tersebut ia mendapatkan informasi tentang seseorang yang sengaja dicarinya jauh-jauh dari Jawa.  Ia pun menuju lokasi yang disebutkan tetangga Pak Saipul, sang ayah yang dicarinya.

Menjelang tengah malam, waria yang belakangan diketahui bernama Ipuy sedang meladeni seorang pelanggan lalu mangkal lagi seperti yang biasa dilakukannya tiap malam.  Ipuy yang sadar ia tengah dicari seorang gadis berkerudung yang malah lari begitu melihatnya menjadi penasaran.  Ia pun mengejar sang gadis. 

Setengah berlari Ipun mengejar si gadis, bahkan mengomelinya yang enggan membuka mulut.  Sang gadis yang terdesak akhirnya menyebutkan namanya sambil terisak.  “Aku Cahaya” ungkapnya getir, dan seketika membuat Ipuy tak mampu berkata-kata sejenak sebelum ia bertanya “ngapain lu kesini?”.

Jelaslah sudah bahwa si gadis yang bernama Cahaya ini merupakan anak dari Pak Saiful alias Ipuy yang sudah tidak saling berjumpa sejak 14 tahun lalu.  Cahaya yang sampai ‘kabur’ demi bisa bertemu dengan sang ayah hamper berpisah lagi begitu saja jika ia tidak muntah.  Bagaimanapun, Ipuy tetap seorang manusia yang punya rasa perikemanusiaan ketika meilhat orang lain menderita, dalam hal ini mengetahui fakta bahwa seorang gadis lugu dari daerah nun jauh disana, seorang diri, masuk angin.  Diajaklah ia makan.

Sempat merasa risih karena bagi Ipuy tidak lumrah seorang waria jalan bareng anak kecil, berkerudung pula, ahirnya Cahaya melepas penutup kepalanya setelah memuntahkan isi perutnya di kamar madi/  “begini, lebih bebes kan” katanya saat kembali ke meja makan.  

Setelah makan, Ipuy sebenarnya memilih segera meninggalkan sang anak dan memintanya untuk segera melupakannya, dan menganggap bahwa hubungan meraka berakhir sampai disitu.  Namun, takdir berkata lain.  Saat Ipuy hendak kabur dari satu kelompok yang yang uagnya konon dirampok olehnya sebesar 30 juta, ia malah bertemu kembali dengan Cahaya yang serta merta memeluknya.  Akirnya sisa malam itu dihabiskan keduanya berdua dengan satu syarat: hanya semalam dan hubungan mereka berakhir saat mereka berpisah!

Beragam kisah pun bergulir kala keduanya menghabiskan sisa malam bersama.  Bagaimana Ipuy akhirnya melunak dan mau menerima sang anak.  Tak lupa kisah masa lalu seputar perpisahnnya dengan ibu Cahaya pun ia sampaikan.  Pun Cahaya akhirnya tak mampu lagi menutupi kehamilannya uang kontras dengan latar belakangnya sebagai lulusan pesantren.  Meskipun singkat pertemuan itu sangat berkesan, menyentuh, sekaligus mengharukan. 

Sempat diselingi adegan kekerasan baik fisik maupun seksual yang menimpa sang ayah sementara si anak menunaikkan shalat subuh, bagaimana ketika Cahaya kepergok oleh kekasih sang ayah di taman hiburan, Cahaya diperkenalkan pada teman-teman sesama waria sang ayah, kisah ini berakhir keesokan harinya ketika sang fajar menyingsing dan cahaya harus kembali ke kota asalnya dengan dihantarkan sang ayah dalam wujud seorang lelaki dan diiringi satu pesan: jangan lari dari masalah.

***
Kan, bener, gak nyesel tuh udah merogoh kocek yang tidak sedikit demi memonton film ini.  Gak sia-sia juga penyesalan serta penantian sampe akhirnya film ini diberi kesempatan untnuk dilihat khalayak yang lebih luas.  Meskipun tadi pas nonton sempet keganggu oleh sesuatu hal, tapi tetap tidak bisa bikin acau feel dan mood filmnya.  Beberapa adegan bikin gemes, greget, sekaligus menyayat.  Tapi juaranya pas adegan Cahaya mendapati bahawa Pak Saipul adalah seorang IPu, terus lari, dikejar Ipuy yang penasaran, diomelin, terus bilang “Aku Cahaya” sambil nangis tertahan yang diluapkan tea….ssukses bikin air ngocor dari mata penulis!  Akting mas Ipun ayey banget, gak heran ya kalau mas Donny dapat award di Asian Film Festival, wong total gitu.  Sebetulnya ada beberapa latar cerita yag penulis kurang suka, tapi da memang begitulah realitanya, contohnya yang terjadi pada tokoh Cahaya.  Apa itu? Cukup tau lah ya.. yang penasaran gih buruan, nyesel lah kalau gak nonton, buru kunjungi bioskop terdekat di kota Anda! :))




Minggu, 06 Mei 2012

The Avengers: When 4 Heroes Againts One "Big" Enemy




Penasaran melihat empat jagoan “mengeroyok” (baca: bahu membahu) satu musuh?  Noh, The Avengers jawabannya.  Loki yang datang dari negeri Asgard menebar ancaman di bumi akibat satu benda yang menjadi sumber sekaligus solusi bencana yang mengancam bumi pasca kedatangannya: Tesseract.  S.H.I.E.L.D. yang merasa tak sanggup menghadapi seorang Loki yang bisa membunuh siapa saja seenaknya dengan tongkatnya akhirnya memutuskan meminta bantuan para jagoan.  Captain America yang sempat terjebak dalam balok es selama puluhan tahun, Tony Stark si Milyuner sang Iron Man, Thor yang juga kakak angkat Loki, serta Dr. Bruce Banner alias Hulk akhirnya dipersatukan oleh S.H.I.E.L.D. dibawah arahan Kapten Nick Furry dan dengan bantuan agen Natasha. 

Dengan segenap teknologi canggih, keempat jagoan bersama tim S.H.I.E.L.D. tsb menjalankan misi melumpuhkan Loki dan merebut kembali Tesseract dari satu anjungan yang mengudara bahkan kasat mata.  Kecanggihan teknologi memudahkan tim ini untuk melacak keberadaan Loki yang memang tidak bersembunyi sekaligus membuat keberadaan mereka tidak terlacak.  Namu, Loki bukanlah musuh sembarangan.  Di bumi ia dibantu oleh seorang agen S.H.I.E.L.D. yang tengah membelot.  Karenanya proses menangkap musuh yang licin ini tidaklah mudah.

Dalam suatu penyerangan akhirnya Loki tertangkap dan dikurung dalam suatu kapsul berlapis kaca tebal.  Namun sekalipun dalam kurungan, ia tak menghentikan perlawanan.  Berdasarkan informasi yang berhasil dikorek agen Sela, terungkap bahwa sang tawanan berniat mengadu domba para jagoan.  Para jagoan itu sendiri sedari awal menaruh curiga dengan keterlibatan mereka dengan S.H.I.E.L.D., Loki, dan Tesseract.  Selain itu perselisihan-perselisihan kecil mewarnai kebersamaan mereka.  Maka, tak heran sekali saja Hulk dipancing amarahnya, kapal yang menjadi markas mereka terancam hancur.  Ditambah lagi serangan dari kolega Loki yang berhasil mendeteksi keberadaan kapal tersebut dan bahkan menyerangnya hingga mengakibatkan satu turbin tak berfungsi. 

Penyerangan oleh komplotan Loki tersebut mengakibatkan kekacauan di markas.  Hulk mengamuk, Captain America dan Iron Man bahu membahu memperbaiki turbin yang rusak supaya kapal tidak terjatuh, sementara Thor malah balik terjebak dalam kapsul Loki dan dibuang ke darat.  Loki, ya sudah pasti berhasil kabur ke bumi untuk melancarkan misisnya menjadi penguasa di muka bumi.  Akhirnya pasca kaburnya Loki, kekacauan pun beralih ke bumi, ke sekitar menara Iron Man. 

Pertarungan yang belum usai pun berlanjut di bumi.  Loki mendapat pasukan bantuan dari monster luar angkasa.  Kota yang padat pun menjadi kisruh seketika.  Pihak senator yang mencium gelagat kehancuran yang akan menimpa negeri mereka meminta pemimpin S.H.I.E.L.D. untuk meluncurkan nuklir supaya semua kekacauan itu segera berakhir.  Namun sang pimpinan S.H.I.E.L.D. jelas menolak walaupun terlambat.  Satu misil berhasil diluncurkan dan mengancam penduduk sekitar lokasi perang.  Beruntung Iron Man dengan sigap “mengamankan” nuklir tersebut dan “membuangnya” ke tempat asal para monster.  Dan…para monster pun musnah, Loki tertangkap, dan kota pun kembali tentram. 


***
Nah, begitulah kurang lebih kisah The Avengers, tentang empat jagoan yang melawan satu musuh dibawah komando satu organisasi keamanan internasional S.H.I.E.L.D. demi  merebut satu benda yang paling diburu: Tesseract.  Film ini bagi penulis memberikan paket lengkap: actionnya dapet, tegangnya dapet, visual effectnya keren banget, tanpa kehilangan selera humor!  Ya, meskipun nonton film ini bisa dibilang accident da nasal milih, tapi ini sama sekali bukan pilihan yang tidak tepat; malah kayaknya tepat sekali! Heu  abis kalau gak begitu, penulis kayaknya bakal milih nonton lewat DVD aja soalnya sebelum film ini, penulis belum pernah nonton film tersendiri para jagoannya.  Selain itu, penulis emang gak begitu suka sama film bergenre perang sci-fi model begini, cape…denger dar der dor suara pistol, deru helicopter, kejar-kejaran, ya yang begitu-begitu deh.  Gak nyangka juga ya kalau film ini dapet review bagus di IMDB dan Tomatto *au nih bener apa salah, itu lah maksudnya situs film* yang biasa penulis jadikan rujukan terpercaya.  Jadi, buruan deh tontonn nih film di bioskop terdekat kesayangan Anda!  Jangan nonton di DVD, gak seru, malah kalo koceknya lagi rada tebel mending nonton yang 3G dijamin makin seru! J

Sebagai penutup, seperti biasa akan penulis tampilkan sejumlah hal unik dari film ini di mata penulis…
  • Kenapa ya jagoan vs musuh itu selalu  perbandingannya lebih banyak jagoannya, seorang Loki aja musti ditaklukan dengan susah payah oleh empat jagoan ditambah dua agen S.H.I.E.L.D., contoh lain di The Raid, gimana seorang mat Dog baru bisa dilumpuhkan oleh dua orang dan itupun dengan bantuan senjata!
  • Betapa mewahnya apartemen milik sang Iron Man,
  • Kecanggihan teknnologi yang ditampilkan, beuh segala sesuatu gampang aja di klik-klik via monitor laser *gak tau apalah itu istilahnya yang jelas udah kayak infokus aja, otyomatis gening*

Terjebak! Dijebak atau Menjebak Diri Sendiri!


Terjebak!

Apa sih makna kata “terjebak” buat para pengunjung yang budiman?

Kekurung di lift yang tiba-tiba mati?

Kekunci di kamar mandi?

Dihukum gak boleh keluar kamar atau rumah?

Lantas kalau kita berada di suatu tempat mewah nan nyaman bergelimang fasilitas tapi kita tak senyaman tempat itu, bisa dikatakan terjebakah?

Kadang penulis heran, banyak hal, banyak sekali hal yang kadang bagi penulis menjebak penulis untuk berada di lingkungan yang kurang membuat penulis nyaman.  Okelah, kan kita tidak akan selamanya ada di zona nyaman kita, tapi kan untuk keluar dari zona itu pun tentu butuh proses.  Nah, isunya kemudian adalah seberapa cepat kemampuan kita untuk beradaptasi di lingkungan yang berada di luar zona nyaman kita tersebut? 

Atau pernahkan para pengunjung yang budiman merasa terjebak dengan ucapan kita sendiri?  Penulis sih…yaa kalau dikatakan sering tidak yakin juga, tapi pernahlah..seperti kejadian beberapa waktu lalu.  Maksud hati ingin menyampaikan A, eeh…malah menghasilkan informasi yang menyiratkan U, jadi menghasilkan keputusan Z.  Semakin menjebak bila keputusan Z yang diambil akibat informasi U sebagai hasil pencernaan dari pernyataan A tsb melibatkan orang lain.  kan, itu tadi maksud kita sebenarnya bukan begitu, tapi apa daya orang lain menginterpretasikan secara berbeda, dan akibatnya bukan hanya merugikan kita, pun orang lain.  Fenomena semacam ini nih bahkan lebih menjebak daripada sekedar “Super Trap”.

Hal lain yang membuat penulis merasa terjebak ialah ketika kita secara ajaib *baca: tidak sengaja* terperngkap dalam satu situasi yang malah membuat kita yang tadinya sama sekali berada di luar area justru terlibat dan bahkan menjadi salah satu komponen intinya.  Makin merasa terjebak ketika awal keterlibatan kita karena campur tangan seseorang yang di tengah jalan justru ia tidak berlanjut, sementara penulis sebagai yang awalnya follower malah terus berlanjut.  Dan sebalnya, kejadian model begini bukan sekali dua kali dialami penulis.

Entahlah, bahkan terkadang penulis ngerasa ini semua tidak adil.  Kenapa orang yang menyeret penulis masuk dalam “pusaran” justru begitu saja meninggalkan penulis di pertengahan, bahkan sebelum penulis bisa menyeimbangkan diri *baca: beradaptasi* untuk tetap bertahan di “pusaran” tersebut.  Dan, tak jarang penulis merasa seolah menjebak diri sendiri.  Artinya kurang lebih kenapa juga dari awal penulis merelakan diri untuk diseret ke “pusaran” yang entah seberapa ganasnya.  Penyesalan, ya ketika akhirnya perasaan terjebak itu muncul sebersit penyesalan senantiasa menyertainya.  Namun benar kata pepatah “menyesal kemudian tidaklah berguna”,  jadi ketika sudah merasa terjebak *karena penulis termasuk yang menyakini bahwa perasaan terjebak ini hanyalah persepsi kita, bukan sekonyong-konyong kenyataan* lantas apa kira-kira yang mesti kita lakukan?

Nothing but tries to face and enjoy it.  So simple, right? Is this that simple? No, not at all.  As I mentioned before, the key is how to adapt in those kinds of situation.  The problem is how fast we adapt. 
*bersambung…….*


Modus Anomali: John Evan...you!


Begitu sang sutradara pasang tweet seputar judul film terbarunya, penulis kepo dh…..cari thriller-nya, dan menemukan a Rio Dewanto who is casted as the main role!  Dan, ya bisa didugalah ya, this movie becomes one of the most wanted movie in my list.  Terpaksa mengiringkan niat untuk menonton pas premiere karena sore harinya harus sudah otw ke luar kota, tanpa kesulitan berarti penulis pun menemukan teman yang suka hati diajak menonton film ini.  Fakta bahwa film ini merupakan film thriller yang mungkin saja sedikit berbau mistis bikin penulis emoh nonton seorang diri, maka yaa bersyukur sekali ketika ada teman yang bersedia diajak tegang dan ketakutan bersama..hehe.



Filmnya fokus pada tokoh John Evans(Rio Dewanto)(berdasarkan identitas di dompet yang ada di saku celananya) yang sedang mencari kedua anaknya dan memburu sekaligus mencari pembunuh istrinya yang tengah hamil besar (Hannah Alrashid).  Dari sore hingga malam hari ia terus menelusuri hutan mencari anak-anaknya.  Beberapa kali ia mendapati sosok misterius yang dicurigai sebagai penyebab kekacauan liburan.  Liburan ya liburan, informasi seputar liburan didapatnya ketika memutar rekaman video di lokasi ia menemukan sang istri telah terbujur kaku berlumuran darah. 



Di tempat lain, kedua anaknya tengah bersembunyi di tengah hutan dan mencari ayahnya yang berada di sisi lain hutan.  Nahas ketika mereka tengah berpencar mencari sang ayah keduanya justru menyusul sang bunda melalui tangan ayah mereka!  Ya, sang ayah secara tak sengaja telah membunuh kedua anaknya: dijebak dengan pagar runcing dan ditebas lehernya.  Kejadian tersebut membuat John frustasi hingga akhirnya menemukan satu bunyi alarm jam yang setelah ditelusuri membawanya pada satu titik yang ternyata terdapat sesosok mayat pria di dalamnya!  Ada satu petunjuk yang terltulis di dada sang mayat yang menggiring John ke suatu tempat yang membuat penonton ngeh dengan anomali yang dijadikan modus dalam film ini.



John pun kembali ke tempat semula ia terkubur hidup-hidup, menemukan suatu kotak dan menggunakan apa yang ada di kotak itu, mengerang kesakitan, pingsan, tersadar dengan mimik 180 derajat berbeda, kembali ke mobil yang ditutupi dedaunan di tengah hutan, mengendarai mobil, menelepon keluarga sambil mengintip foto keluarga kecil mereka (sepasang suami istri dengan satu anak), dan berhenti ketika menemukan satu keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan dua anak lelaki remaja tiba di sebuah rumah masih di tengah hutan yang sama.  Bergegas ke bagasi, berganti pakaian, dan berkunjung ke rumah tersebut.  Kunjungan pria yang berpuluh menit sebelumnya bermimik tegang namun kini begitu tenang dan culas membawa pada satu peristiwa yang menyingkap tabir dibalik rentetan kejadian yang terjadi malam sebelumnya.  Penasaran apa yang sebenarnya terjadi? mumpung belum turun layar buruan gih kunjungi bioskop terdekat kesayangan Anda! :)
***



A bit boring in the midlle of the story, but the ending is so GOKIL!  itu kesan penulis begitu credit tittle muncul di layar.  Gak heran deh kenapa dijudulin "Modus Anomali" kalo begitu ceritanya.  Sedikit ngebosenin di tenga itu bisa jadi karena fokus cerita yang berpusat pada seorang pria beridentitas John Evans, yang secara intens menguasai tiga perempat bahkan lebih durasi film. Kehadiran tokoh-tokoh lain kayak sepasang anak yang mencari ayahnya, seorang istri yang tengah mengandung--meski hanya muncul melalui video, dan tentu saja satu keluarga lain di akhir cerita memberikan warna tersendiri dalam film ini.   seganteng apa pun itu mas Rio Dewanto, tapi psstt.....bosen juga bro liat doi lari-lari sendiri, bersembunyi dari satu batu ke batu lain dengan sesekali ditemani kenyaringan "alarm" yang juga mejadi salah satu petunjuk di film ini.   Meskipun ada beberapa hal yang masih kurang masuk akal kayak pas Rio dibakar dalam peti padahal kan....sstt... *cari tau sendiri aja*, nah kan gimana coba maksudnya siapa toh yang ngebakar?  tapi yasudahlah yang jelas modus yang ditampilkan oleh si tersangka di film ini emang bener-bener sebuah anomali.  Buat kalian yang suka film thriller, nih film cocok sekali, buat para penggemar Rio Dewanto, gak pol ah kalau belum nonton film ini, buat pengagum karya Joko Anwar, nih another crazy movie of him, buat yang ngaku cinta dan peduli sama film INDONESIA, silakan berbondong-bondong kunjungi bioskop terdekat di kota Anda sebelum turun layar *mumpung tayangnya lagi relatif lama*! :D
x

Sabtu, 05 Mei 2012

Sanubari Jakarta


Hanya baca sekilas secara tidak sengaja di salah satu blog atau media online…ahh lupa, yang jelas langsung ngerasa kalau film ini waib masuk list film yang mesti ditonton.  Penulis mengajak dua orang teman yang satu diantaranya justru paling semangat setelah sempat menolak secara tidak langsung dengan mempertanyakan “film apaan tuh?”.  Tapi untunglah setelah baca tweet-nya seseorang, lancer sudah transaksi di depan mbak penjaga loket tiket beberapa hari kemudian.  Nonton tanpa ekspektasi apapun—hanya berbekal sedikit informasi tentang garis besar filmnya yg ala Cokelat-Stoberi  n Butterfly *film lokal sejenis yg penulis tonton—gak nonton Arisan sih penulis*--jreng jreng penulis disuguhi sepuluh cerita yang bagi penulis pribadi gak kalah “serem” sama Film “Hi5steria” yang penulis tonton semingguan sebelumnya, juga dengan teman yang sama.  Di sisi lain, kenyataan yang coba digambarkan film ini member kegetiran tersendiri lewat cerita yang pada akhirnya mesti diakui menyentuh. 

Sepuluh cerita dengan benang merah yang sama: fenomena yang dianggap tabu di masyarakat yang sebenarnya memang ada: kaum marginal.  Ada kisah mengenai pasangan sesama jenis baik yang lelaki ataupun perempuan, kisah seorang yang harus berganti identitas karena tuntutan pekerjaan dan akibat pekerjaan, bahkan hingga berganti jenis kelamin!  Semuanya terangkum dalam “sanubai Jakarta”.

Ada kisah tentang seorang lelaki yang menciptakan bayangan seorang wanita agar bisa melakukan hal yang tidak bisa dilakukannya dengan sang kawan lelakinya.  Lalu, kisah seorang kepala keluarga yang terpaksa menjaid waria di malam hari demi memenuhi kebutuhan rumah tangga.  Dilanjutkan kisah cinta terlarang antara guru TK dengan wali muridnya yang ternyata sesama wanita.  Disambung dengan kisah dua lelaki yang melulu gagal bercinta karena berbagai gangguan hingga berakhir dengan salah seorang memilihmeninggalkan lokasi pasca pertengkaran sepasang kekasih.  Ada juga kisah sepasang kekasih yang sama-sama wanita yang juga gagal bercunta di hari terakhir pertemuan mereka karena salah seorangnya sedang haid.

Selain kelima kisah tersebut, masih ada kisah seorang wanita bernama Srikandi yang menyamar sebagai lelaki di kantornya demi mendapat penghormatan dari reakan lelakinya pasca diperlakukan semena-mena karena kewanitaannya.  Juga seorang lelaki paruh baya yang menceritakan kisah seorang gadis yang ternyata adalah dirinya di masa lalu.  Ada juga kisah dua wanita, yang merasa terjebak dalam keteraturan dan putus cinta dari teman wanitanya, yang dipertemukan secara tak sengaja di toko bra.  Llau, ada kisah tentang sepasang lelaki yang hubungannya mulus sampai muncul pertanyaan tentang apakah semua itu nyata.  Dan, kisah pun ditutup dengan satu kisah manis antara lelaki dan perempuan yang ternyata bermasa lalu seorang lelaki!


Wuih…dengan kesepuluh cerita di atas, penulis tuh berasa nonton film horror atau thriller deh, cape…. Adrenalinnya dipompa…kenyatan yang….bikin senum simpul sambil mengernyitkan dahi.  Sempayt terkecoh sekaligus bahagia dengan kisah penutup yang seolah relative normal, antara lelaki dan wanita, tapi ternyata….oow….tapi walopun gitu, yaa itu endingnya so sweet dan jujur sangat menyentuh.  Mata penulis pun ya sampai berkaca-kaca.  Hemm…khawatir makin lama penulis mkain subjektif dan cenderung mengundang kontroversi, nampaknya resensi ini akan segera penulis akhiri saja.  Overall, ini film a must see ya, terutama buat menyadarkan kita bahwa fenomena yang digambarkan dalam film ini tuh emang ada, dan bahkan mungkin dekat dengan kita.  *tersenyum simpul*