Jumat, 24 Februari 2012

Dilema: Ketika Pilihan itu Bak Buah Simalakama




Pemain: Reza Rahardian, Ario Bayu, Baim Wong, Pevita Pearce, Slamet Raharjo, Roy Martin, Tio Pakusadewo, Jajang C. Noer, Winky Wiryawan, Wulan Guritno, Ray Sahetapy, Lukman Sardi
Sutradara: Adila Dimitri, Bobby Eryanto, Robert Ronny, Yudi Datau, Rinaldi Puspoyo
Produser: Wulan Guritno, Adila Dimitri
Sinopsis:

Upacara di lapangan kepolisisan membuka kisah film ini.  Ada Ario (Aryo Bayu), perwira pplisi yang baru saja dipindahtugaskan dari Medan (akan diketahui menjelang akhir film) yang sudah ditunggu Komandan Bowo (Tio Pakusadewo) di parkiran.  Dan, setelah permintaan maaf mebuat menunggu mereka pun bermobil bersama menuju satu titik.

Di sudut lain, sekelompok masa yang mengatasnamakan jamaah anu (mirip front pembela agama itu loh) sedang menggelar shalat berjamaah dengan diimami Ibnu (Baim Wong) yang bersama rekannya Said (Wingky Wiryawan) hendak memimpin ‘perjuangan’ memberantas ormas lain yang dinilai menyimpang dan menodai agamanya.  Puluhan polisi sudah bersiaga menghadapi kemungkinan bentrokan dan kerusuhan yang memang sudah tak terelakkan lagi. Di tengah-tengah bentrokan terlihat Ario yang baru saja memarkir mobilnya bersama komandan Tio berusaha menyelamatkan seorang nak kecil yang berteriak-teriak “Abi…..Abi……” dan lalu buuuk! Sebuah pukulan mendarat di kepala Ario.  Gelap.

DILEMA besar-besar muncul di layar gelap tadi.  Kisah pun beralih ke sebuah pantai dimana seorang gadis muda nan jelita Dian Wibisana (Pevita Pearce) sedang  menikmati berjemur di bawah terik matahari pantai tak jauh dari hingar binger pesta yang memecah ‘kedamaiannya’.  Sempat dihampiri seorang pemuda yang hendak mengambil bola sambil mengajaknya bergabung, ia menolak, “gak perlu diundang gue bakal datang sendiri kalau gue mau” jawabnya datar atas ajakan itu.  Tidak lama ia dihampiri lagi, kali ini oleh seorang perempuan hamil yang mengenalkan dirinya sebagai Rima.  Setelah berbincang beberapa saat mereka pun menjadi akrab bak kawan dekat.  Akrab dalam hitungan jam, hati-hati!

Kembali ke ibu kota, di sebuah ruangan yang tertata rapi, Adrian (Reza Rahardian) kedatangan seorang tamu bernama Hetty (Jajang C. Noer).  Wanita paruh baya yang ditemani dua pengawal itu menyerahkan sebuah kartu nama dan memintanya mengunjungi orang yang disebutnya Bapak di alamat tersebut.  Sempat tak acuh, ia pun acuh juga setelah kawan sekaligus rekan kerjanya (Abimana) menyebutkan nama Soni Wibisono setelah membaca kartu nama yang tergeletak begitu saja di atas meja.  Sempat ragu, ia pun akhirnya menyempatkan diri memeuhi undangan itu.  Disambut Hetty yang menjanjikan bahwa ia akan pulang dalam keadaan baik-baik saja, iapun menunggu sosok SW yang tersohor dan entah mengapa mengundangnya itu.

Di sudut Jakarta lainnya, di kawasan pinggiran, seorang lelaki paruh baya yang belakangan diketahui bernaa Sigit (Slamet Raharjo) perlahan-lahan kembali masuk ke kasino tempatnya bermain judi, aktivitas yang sudah cukup lama ia tinggalkan dan menyebabkannya ditinggalkan anak istri.  Sekedar melintas tadinya, toh ia kembali tergiur untuk beraksi lagi, apalagi pasca melihat jam warisan kesayangannya yang ia gadaikan akibat kekalahan berjudi.  150 juta, harga yang tidak sedikit, untuk menebusnya.  Sempat diperingatkan (Lukman Sardi) untuk segera pulang dan tidak lagi terlibat dalam perjuadian itu, ia malah justru menerima tantangan si empunya kasino (Ray Sahetapi).  Bermodalkan pinjaman sepuluh juta, sekali dua kali main ia kalah, merugi, berhutang.  Pinjam Lukman Sardi tak diberi, seseorng akhirnya bersedia meminjaminya dengan bungan 25% per hari (judi..oh judi).  Sebagai mantan penjudi tangguh, tanpa ragu ia banyak melakukan all in.  Dan, tidak sia-sia, jam tangan seharga 150 juta itu pun kembali ke tangannya, tepat sebelum polisi menggerebek lokasi kasino serta meringkus semua yang ada disitu.

Sementara itu, Soni Wibisono (Roy Marten) orang paling ‘disegani’ an mengaku sebagai penguasa Jakarta tengah dalam kondisi sakit.  Istrinya telah meninggal, anak perempuannya tak mungkin mau meneruskan dan mewarisi bisnisnya katanya satu kali.  Maka, ia yang merasa kerja kerasnya selama ini mesti ada yang melanjutkan memutuskan memanggi anak lamanya, untuk memberi tahu sekaligus mewariskan apa yang ia punya.  Sayang, orang yang ditunggunya dengan sedikit gugup sekaligus harapannya menolak mentah-mentah.  Apalagi setelah tahu bahwa kemapanan karir dan keberhasilan hidupnya selama ini adalah hasil campur tangan orang yang sekarang tiba-tiba mengaku sebagai anaknya.  Ya, dialah Adrian.  Adrian lantas pergi setelah mengamuk, merebut pistol dan Laptop SW.  Hetty pun tak kuasa mencegahnya. “Biarkan anak itu pergi” kata SW kemudian sambil terengah-engah.

Malam harinya, Ario menemani komandan Bowo alam sebuah operasi penggerebekan sebuah rumah kasino.  Lokasi dimana ia menyksikan sendiri seorang yang amat ia kenal ikut diringkus dalam penggerebekan itu, seseorang yang tadinya ingin ia beri kejutan namun malah justru mengejutkannya.  Kejutan apakah itu? Di sebrang pulau, di tepi pantai, Dian akhirnya mau bergabung di perta yang diadakan Raymond dan bersedia meminum obat yang diberikan Rima, barang yang sebenarnya sudah ia tinggalkan.  Ia menari, ngobat, hingga bercinta untuk sejenak melupakan kepenatan ditinggal sang bunda tercinta dan ‘ditelantarkan’ sang ayah yang takan mencarinya menurutnya.  Apakah kesenangan malam itu akan memberikan kehidupan baru baginya?  Bagiamana dengan sang ayah?

Sementara di sudut ibukota lainnya, Ibnu yang tersadarkan akan demo-demo tak bertujuan yang malah menciderai agamanya dan membuatnya dijauhi sang gadis pujaan mulai ‘tobat’ hingga membuat Said, yang belakangan diketahui menjual agamanya dengan memprovokasi kawan-kawannya berdemo dan mebuat aksi kekacauan lainnya dengan disokong para donator sekaligus dalang yang salah satunya adalah SW, begitu marah.  Apakah ia akan benar-benar berhenti? Mampukan ia menyadarkan Said yang masih memiliki anak perempuan kecil?  Lalu akankah Adrian bisa bebas begitu saja setelah ‘pemberontakan’nya atas SW--terlebih dengan membawa laptop yang berisi data-data berharganya? Lantas bagaimana nasib kerajaan SW pasca peninggalannya kelak setelah sia hali waris yang diharapkan justru menolak bahkan memberontaknya?  Apa yang akan ia lakukan pada anak ‘durhaka’ tak tahu diuntung itu?  Akan setega apa pada anak kandungnya? Nasib anak perempuannya pun bagaimana?  Bagaimana pula nasib sang penjudi yang setelah terbebas berkali-kali berkat nama besar ayahnya yang orang penting di kepolisian itu pasca diringkus di tempat kasino itu?


Temukan semuanya di film DILEMA ini, buruan kunjungi bioskop terdekat kesayangan Anda sebelum film ini turun bioskop (lagi-lagi, untuk kesekian kalinya, nonton hanya bertemankan kurang dari sepuluh orang lainnya di bioskop yang berkapasitas sekitar 200 orang).


***
he always charming! 
Lima cerita yang akhirnya menyatu.  Alasan utama penulis menonton film ini tak lain dan tak bukan karena sosok aa REZA RAHARDIAN.  Jadi pengusaha muda yang sukses walaupun yatim piatu sejak kecil.  Hidup di panti asuhan setelah ortunya wafat dalam sebuah kecelakaan, hidupnya yang seharusnya sulit itu entah mengapa terasa begitu mudah dengan beasiswanya dan kesuksesan bisninsnya sekarang.  Usut punya usut ternyata semua bisa menjadi begitu mudah karena semua itu dirancang oleh seseorang.  Beasiswa itu, perusahaan itu.  Kebayang gak remuk redamnya, usaha dan kesuksesan yang selama ini kita bangun susah payah dan bangga-banggain ternyata adalah hasil ‘karya’ orang lain.  Water lah si aa disini mana endingnya…ahh…so poor lah aa Reza disini.

Setelah sekian lama *ehh…pernah nonton apa ya filmnya dia the? Eiffel gitu ya?—lupa*, akhirnya liat lagi Pevita Pearce di layar lebar!  Doi berani pisan lah disini.  Berbikini ria, ciuman—bahkan sama tokoh Rima (Wulan Guritno) yang entah bener nempel dan emang Cuma secup udah atau efek sensor juga, yang jelas latar-nya remang-remang jadi emang samar, sampai adegan ranjang segala.  Karena settingnya pantai kali ya, ahh dunno lah, yang jelas doi jadi cewek frustasi yang berkali-kali nyoba bunuh diri *ada luka bekas sayatan di pergelangan tangnnya di salah satu scene* dan berhasil dibujuk kemblai ngobat.  Wulan Guritno juga Nampak sangat berbeda disini dengan rambut pendeknya.  Tadinya sebelum sadar doi ternyata pengedar gitu, kirain mau jadi lesbi disini apalagi pas ada adegan nyium si Dian (Pevita).

Yang rada ganggu dari film ini buat penulis yakni jambang Said yang kalo dari deket keliatan pisan lah palsunya!  Terus ya gak tau kurang suka juga sama perannya, kurang ngena.  Belum lagi tempelan kayak pamflet sedanya *dari kertas tipis yang warna-warni* bertuliskan “Pemerintah Vs Pejuang”.  keliatan Banget maksanya, meski ditempel di berbagai sudut tapi tetep kesan maksainnya buat penulis pribadi loh ini tetep kerasa ganggu!   Terus sub-tittle yang ada di film ini juga jadi bikin penulis geli buat curi-curi liat dan ngebandingin (karena kebetulan konsentrasi studi penulis di penerjemahan) sampai-sampai sesekali ya kelewat aja adegan-adegannya, begitu.  Tapi, diantara semuanya yang paling bikin penulis berkali-kali mengrenyitkan dahi adalah latar waktu yang gak sinkron antara satu kisah dengan kisah lain, perasaan sepanjang adegan aa Reza itu full cahaya matahari meski dalam kamar; di Pevita ada pagi-siang-malam-pagi; di Ario pagi-siang-malam; di Slamet Raharjo siang-malam; di Baim-Winky siang-malam-subuh.  padahal mereka seolah satu kesatuan cerita kan pada akhirnya mah, nah loh?

Secara keseluruhan film ini mood-nya suram,  gambarnya, settingnya, karakternya.  Iya, makanya dikasih judul DILEMA juga karena begitu kali ya.  Nonton lah, cast-nya bagus-bagus, ceritanya juga sedilematis judulnya, klimaksnya, kalo bagi penulis dapet meski ada beberapa hal yang kalau bagi penulis mesti butuh penjelasan lebih lanjut kayak tokohnya om Tio yang polisi oknum korupsi.  Menonton film ini seorang diri tidak membuat penulis menyesal karena dengan mood suram tadi film ini berpotensi membuat penonton-penonton tertentu cepat bosan *bahkan penulis sendiri sempat sekali dua menguap, heu*.  Setidaknya penulis gak perlu merasa gak enak karena mengajak teman yang ternyata merasa menonton film ini hanya buang-buang duit soalnya filmnya bosenin banget *sudah terlalu pesimis dengan penonton Indonesia yang dalam hal ini teman2 penulis,--so sorry guys*.  Ehh..yang unik juga, menonton ini entah mengapa bikin penulis sedikitnya ngeh sama istilah-istilah di meja judi kayak “all in” sama “full house”!  yang jelas, yuk semarakan film Indonesia berkualitas dengan menontonnya di bioskop! J


2 komentar:

ilmu dan jalan sunyi mengatakan...

nice blog nih :)
follback aku yaa ka..
di IPM juga yaa ka, salam pejuang ikatan deh :)
ditunggu silaturahmi di blog akuu :)

Pebzna mengatakan...

maksih yaa sudah menyempaykan berkunjung nenk Halida :)
tapi, masa iya sih gak kenal? heuu
okay, I'll visiti ur blog soon :)