Selasa, 19 Oktober 2010

Sinema 20 Wajah Indonesia: Mak Rasidah

Pemain : Deddy Mizwar, Aty Cancer, Hefri Olivian, Feby Febiola, Audhinatha

Sutradara :

Produksi : SCTV,

Sinopsis:

Adalah Rusdi, seorang direktur perusahaan besar asal minang yang suatu hari pulang kampung demi memboyong sang ibunda, Emak Rasidah, ke ibu kota. Di Jakarta, ia tinggal bersama Nadine (Febi Febiola), sang istri, dan Meriska (Audhinatha) anak perempuan semata wayang mereka. Nadine yang juga wanita karir dan satu perusahaan dengan sang suami, Rusdi, amat menyayangi mertuanya. Pun Meri yang juga menyayangi neneknya. Meski terbilang kolot, mak Rasidah sebetulnya seorang pribadi yang menyenangkan dan penyayang. Sebagai orang tua ia amat menyayangi anak-mantunya, dan sebagai nenek ia pun amat menyayangi dan mencintai cucu semata wayangnya. Ia pun merupakan seorang hamba yang taat.

Rusdi sendiri bersama sang istri dengan perusahaannya sedang terlibat kerjasama dengan Pak Husein (Deddy Mizwar), seorang pengusaha kayak yang lebih bahagia jika perusahaannya diresmikan oleh ibundanya jikalau masih hidup ketimbang dibuka oleh menteri atau pejabat setingkat lainnya. Sesuatu yang dianggap tak lazim oleh pasangan itu, namun begitulah Pak Husein. Bahkan, berkali-kali hasil presentasi prodak perusahaan Rusdi ditolak dengan alasan ada detail yang belum tergarap. Karena sekali lagi pak Husein menegasakan, ia lain dari orang biasa dan kebanyakan sehingga seleranya pun lain pula.

Semakin lama sang amak tinggal bersama keluarganya, semakin Rusdi merasa tak nyaman. Dari mulai cerita kancil mencuri ketimun hingga main perang-perangn dengan Meri, semua dipermasalahkan. Belum lagi sang amak yang senantiasa mengingatkan hal-hal remeh temeh yang sering kali terlupakan seperti berdo’a sebelum makan, mengaji, dll. Juga masalah makan, maklum sebagai orang Padang lidahnya terbiasa dengan makanan pedas sedang orang-orang di rumah Rusdi tidak terbiasa dengan masakan pedas. Suatu hari, Rusdi bahkan melarang sang amak memasuki kamarnya setelah mendapati lipstick Nadine patah. Bahkan di lain hari ia dengan ketus melarang sang ibu mengurusi anaknya lagi saat Mariska jatuh sakit dan kemudian dibawa ke rumah sakit pasca diajak mengelilingi Jakarta olehnya.

Rupa-rupanya waktu itu emak mengajak Nadine mengantarkan paket amanah orang kampung yang belum (juga) sempat tersampaikan oleh Rusdi. Makanya, Mak rasida yang kecewa nekat mengantarkan sendiri paket itu ke alamat yang dituju. Mak Rasida pun bahkan kecewa dengan sikap anak dan kerabatnya yang telah sukses namun dianggap hanya memikirkan diri sendiri saja tanpa bersimpati pada kerabatnya di kampung halaman yang hidup dalam keterbatasan.

Kekecewaan Mak Rasida membuatnya memutuskan untuk kembali ke Padang dengan hanya menitipkan sepucuk surat untuk Rusdi. Dalam suratnya, sang ibu mennyatakan beberapa kekecewaannya pada sikap sang anak yang dinilai kurang baik. Rusdi pun kemudian menyadari bahwa ia telah menyakiti sang amak. Kepada Nadine ia mengaku bahwa dirinya belaku seperti itu karena khawatir sang istri kurang sreg dengan sang bunda, padahal sebenarnya Nadine merasa tak keberatan karena ia pun menghormati dan menyayangi mertuanya tersebut. Belum lagi meri yang merasa amat kehilangan neneknya. Maka, kemudian mreka bertiga pun menyusul amak ke Padang, dan tinggal selama beberapa hari disana. Tak lupa, Rusdi bersimpuh memohnkan ampunan sang Bunda, dan Meri bahagia bisa kembali bermain bersama sang nenek.

Pesan Moral dari sinema ini sebetulnya sederhana saja yakni jangan sampai kesuksesan membuat kita lupa diri sehingga 'lupa' bahkan melupakan segalanya, masa lalu, orang tua, sanak famili, serta semua yang telah berjasa di masa lalu. Jangan sampai ada malin kungang malin kundang yang lain lagi deh..intinya mah. :)

--My Own Review--

Haduh..maaf yah sodara2 penulis belum sempat meriview nih, yah dalam waktu dekat akan segera penulis cantumkan reviewnya, sabar yaa.. (GeeR amat yah kayak bakal ada yg nungguin reviewnya aja! yah tapi ngarep mah boleh donk kan!? hahaha) :D

Tidak ada komentar: