Selasa, 10 April 2012

The Raid

Donny Alamsyah, Donny Alamsyah, Donny Alamsyah, Iko Uwais…..Joe Taslim!  Itu tuh kata-kata yang bakal terlontar kalau penulis ditanya seputar “The Raid”.  Film aksi Indonesia yang udah heboh sangat di pra pemutaran perdananya di Indonesia ini rilis sehari lebih cepat di AS sana.  “Untuk menghindari aksi pembajakan” kata si produser.  Film yang diakui secara internasional ini diproduksi oleh produser yang sama dengan film Merantau tiga tahun silam.  Bintang utamanya pun, Iko Uwais, merupakan bintang film yang sayangnya agak mengecewakan di pasaran.  Karena itu pulalah dalam film ternyarnya ini, Rio sang produser mengganti strategi pemasarannya dengan terlebih dahulu menjajakan film ini di berbagai festival film internasional.  Hasilnya? Sony Picture dan Mike Shinoda ikut trelibat dalam distribusi dan pembuatan scoring film arahan Gareth Evans. 

Fakta di atas tentu menajadi umpan yang pas untuk memancing perhatian bukan hanya penonton tanah air, tetapi juga dunia.  Khusus untuk penonton dalam negeri sebenarnya penulis gak begitu surprise ya mengetahui sambutan hangat yang mereka berikan.  Secara ya itu dia promosinya yang udah gila-gilaan duluan yang bikin para pemirsa tanah air ya  mau gak mau dipaksa melek dan akhirnya melirik film ini.  Film arahan Gareth Evan yang asli Australia ini kembali memasang Iko Uwais sebagai aktor utama setelah di Merantau.  Bahkan Iko pun akan kembali bermain di film arahan Evan lainnya yang direncanakan beeredar tahun depan.  Maklum saja, berdasarkan info dari sejumlah sumber yang penulis baca, kisah-nya bang Iko ini akan dijadikan trilogi.  Filmnya boleh berbeda, tapi genre ceritanya pasti action lagi. 

Ya, sepertinya itulah benang merah film triloginya Evan, sang sutradara.  Seperti “Merantau” yang sarat adegan bela dirinya, The raid pun hampir 99% nya berisi adegan laga.  Hanya di awal, tengah, dan akhir film saja penonton dibiarkan bernafas lega.  Sisanya?  Mungkin lain cerita bagi mereka pecinta film action, tapi bagi penonton tipikal penulis yang ya lebih menikmati jenis drama film ini jelas sangat memacu adrenalin.  Saking gak nahan sama kekerasan yang tersaji di layar bioskop, penulis sambil nyubitin teman di sebelah penulis yang dianugerahi sang Maha Pencipta dengan tubuh yang jika ia dicubiti pasti tidak akan begitu berasa.  Kurang dari lima menit, letusan peluru, pertarungan tangan kososng, pengeroyokan, cipratan darah, gerakan silat, teriakan-teriakan, hembusan nafas  terengah-engah, dll bergantian ‘meneror’ para penonton.  Dan, terror itu baru berhenti didua-satu menit terakhir!  Lima menit plus dua menit berarti hanya tujuh menit dari keseluruhan 109 menit yang tanpa adegan kekerasan.  Sisanya? Hemm…dah berasa nonton film horor aja  kali saking berulang kali menutup muka dan memejamkan mata sepanjang film.

Dari banyak resensi atau ulasan yang penulis baca, hampir semuanya mengapresiasi film ini dengan positif apalagi dari sisi teknis.  Sayangnya tidak sedikit diantara mereka yang merasa film ini secara penceritaan cukup mengecewakan.  Kenapa? Ceritanya dianggap terlalu dangkal atau kurang kuat.  Memang siih tidak sedikit pula yang memaklumi bahwa porsi penceritaan yang kurang kuat ini terlunasi oleh adegan laganya yang begitu pol dan nyata.  Penulis sendiri cukup sepakat ya kalau inti ceritanya itu terlalu sederhaa untuk berkembang sebegitu jauh.  Bayangkan ya, ada 20 polisi elit, masuk ke markas gembong narkoba di apartemen tak teurus yang semua penghuninya bersedia melakukan apapun demi si bos mafia yang notabene tuan rumah demi masih tetap bisa tinggal disitu.

Kebayang gak sih, apartemen 15 lantai yang pastinya dihuni banyak orang walau terlihat sepi, dikepung oleh hanya dua puluh orang pasukan elit dibawah komando satu kapten pengecut yang enggan membuka dalang penggerebakan pun menolak menambah pasukan?  Sekalipun mereka dibekali oleh seperangkat senjata canggih, namun terbukti jumlah yang juah lebih sedikit hanya mengantar mereka menyerahkan nyawanya cepat atau lambat.  Jangan heran ya kalau pada akhirnya sepanjang film fokus mereka bukan lagi pada bagaimana memburu sang target utama, namun lebih kepada bagaimana untuk bisa kembali keluar dari tempat yang bak neraka itu hidup-hidup. 

Adalah Rama yang bergabung dengna tentara elit dibawah pimpinan Jaka yang pagi itu mendapat misi khusus menyerbu marka gembong narkoba terkemuka Tama dibawah perintah sang komandan (Pierre Gruno).  Misi yang memaksanya meninggalkan sang isteri yang tengah hamil 7 bulan dan sang ayah yang sudah mulai renta.  Misi pertamanya sebagai anggota baru sekaligus misi personalnya untuk membawa ‘pulang’ sang kakak seperti janjinya pada sang ayah.  Awalnya semua berjalan lancar,  mereka berhasil melumpuhkan penjaga di bawah untuk menyelundup ke dalam apartemen.  Namun, misi nekat mereka mulai berubah menjadi mimpi buruk setelah seorang anak penghuni apartemen yang kedapatan berkeliarn di koridor  saat mereka mulai merasuk ke lantai lima apartemen itu lari dan memencet tombol yang terhubung ke monitor di ruangan Tama.  Sejak saat itu, satu persatu kawannya terbunuh.  Jika tidak sigap ia kapanpun bisa menjadi korban berikutnya. 

Semua pasukan yang tersisa tidka lebih dari setengah jumlah awal mereka pun sebisa mungkin menyelamatkan diri.  Hampir tidak ada sudut aman tersisa di gedung tua itu.  setiap  lantai tak luput dipasangi monitor yang tentu saja membuat langkah mereka menjadi sangat-sangat terbatas.  Bahkan, Rama mesti berpisah  dengan sang komandan yang pada akhirnya bernasib serupa anak buahnya.  Ia mesti melumpuhkan banyak orang baik dengan senjata atupun tangan kosong hingga di tengah kondisi terburuknya ia pun bertemu dengan sang kakak yang sudah menghilang enam tahun belakangan dan ternyata menjadi tangan kananya Tama.  Pertemuan ini pun tak luput dari intaian kamera Tama yang mejadi sangat murka.  Ia pun tak segan menjatuhi hukuman pada Raka, sang anak emas melalui tangan Mad Dog, tangan kananya yang lain.

Rama yang berhasil bernafas lebih panjang karena diselamatkan Raka akhirnya mendapati sang kakak tengah berada di ujung maut.  Akhirnya brdua mereka pun terlibat pertarungan tangan kosong dengan  Mat Dog.  Sementara itu sersan Piere dan salah satu rekan Rama yang masih bertahan hidup berhasil masuk ke kamar pribadinya Tama.  sayang setelah berhasil mengikat Tama, ia malah menembak rekan Rama hingga tewas dan menggunakan Tama sebagai alat untuk mengeluarkannya hidup-hidup dari gedung mematikan itu.  Duo kakak beradik Raka-Rama akhirnya bisa melumpuhkan Mat Dog denga satu tusukan di leher, sementara Tama pun akhirnya tewas diterjang peluru Piere.  Tanpa kesulitan berarti, Rama, yang telah mengetahui bahwa Piere lah yang paling bertanggung jawab atas tewasnya sang komandan dan rekan-rekannya yang lain, dengan bantuan Raka berhasil melumpuhkan sersan Piere.  Berempat dengan satu rekannya yang terluka parah di perut, Rama akhirnya berhasil keluar dari gedung itu hidup-hidup.  Janji pada sang isteri untuk segera kembali pun terpenuhi, sayang janjinya pada sang ayah urung terwujud karena sang kakak lebih memilih untuk tetap tinggal  di gedung neraka itu lantaran “udah ngrasa pas” katanya.

Begitu menjelang gerbang Raka teriak “buka pintu!”,
“lu ikut balik sama gue!” kata Rama
“sekarang gue bisa aman, tapi apa elu bisa ngejamin keselamatan gue di luar sana!?” balas Raka
“ada gue, polisi, yang bisa ngelindungin elu!” jawab Rama berusaha meyakinkan
Raka menghentikan iringan langkahnya, membiarkan Rama yang tengah menggiring Piere diikuti langkah pincang rekannya menjauh.
“kayak yang elu bilang dengan seragam itu, tempat ini udah pas buat gue Ram!” katanya setengah berteriak.
Rama hanya bisa menelan ludah sambil terus berjalan tanpa pernah menatap lagi ke belakang; Raka pun segera balik badan sesaat setelah meneriakan pendiriannya pada sang adik.
Begitu Rama dkk keluar dari gerbang, barisan cast pun mulai bermunculan di layar, ruang bioskop yang semula gelap pun perlahan mulai bercahaya, dan  puluhan (mungkin sampe ratusan) penonton pun menarik nafas lega setelah dijebak dalam baku hantam di sepanjang seratus menit durasi film.  Kalau penulis sendiri langsung bersyukur “akhirnya credit title juga…ffyuuh….”.

Capek ya ternyata dibombardir adegan yang beda sekali sama film drama yang mandayu-dayu (ya eyalah, lo pikir!?!).  Tapi penulis terpaksa mesti setuju ya kalau unsur drama nya kurang, maksudnya semua terasa ujug-ujug tanpa tedeng aling-laing.  Gak jelas siapa dalangnya, gimana asal muasal keterlibatan Raka dalam gembongnya Tama, kenapa para penghuni apartemen kayak udah terlatih untuk siap perang dan membekali senjata baik sekedar senjata tajam sampai senjata api, gimana gedung yang sudang usang namun masih berlokasi di sisi jalan raya ini luput begitu saja dari pengewasan aparat berwajib?  Siapa sebenarnya Tama?  Semuanya misteri bagi penulis perbadi sih..

Tapi ya kemurahatian penulis skenario dan sutradara yang  membiarkan dua kakak beradik Raka-Rama tetap hidup sudah cukup membayar segalanya.  Chemistry Donny-Iko sebagi kaka beradik bagi penulis sih udah klop ya.  Asik lah liat mereka berdua di layar, meskipun porsi adegan mereka tidak terlalu banyak, tapi diantara yang sedikit itu I really love it.  Tokoh lain yang mencuri perhatian penulis itu si Komandan Jaka yang diperankan Joe  Taslim.  Meskipun di beberapa ulasan aksinya banyak dikritik, tapi penulis  pribadi sih menikmati aksi si komandan.  Mimiknya pas marahin si sersan gak tau diri setelah jadi pihak yang paling bertanggung jawab atas melayangnya nyawa anak buahnya wih kayak bener-bener nunjukin jiwa  pemimpinnya ya.  Belum lagi sekalipun si sersan itu sumber petaka, tapi tanggung jawabnya sebagai pimpinan malah membuatnya tetap pasang badan buat si sersan. 

Ada satu fenomena unik yang penulis tangkap dari film model begini.  Si tokoh utama itu rata-rata digambarkan sebagai tokoh pendatang baru, entah baru ditugaskan atau baru dipindahtugaskan.  Selain itu selalu diceritakan sedikit latar belakang si tokoh yang umumnya sudah berkeluarga atau minimal kekasih yang tengah dalam kondisi hamil.  Jadi, selalu ada motivasi lebih dari sang tokohh untuk membuktikan kapasitasnya sekaligus bertahan hidup.  dan, itu pun terjadi di The Raid ini.  Di adegan pembuka digambarkan silih bergantian Rama yang tengah shalat dan berlatih, kemudian ia yang baru beres shalat tengah malam menghampiri istrinya yang terbaring  di tempat tidur.  Ia mengelus perut sang istri lalu mencium keningnya sambil berucap “Aku cinta kamu, sayang”  “Maafin aku, aku janji akan segera pulang”.  Nah, di tengah-tengah kondisi kritis doi keingetan si isteri yang lagi ngelus-ngelus perutnya sambil senyum deh yang bikin semangatnya kayak di-charge lagi. 

Anyway, ini postingan yang awalnya tidak niat panjang-panjang, malah sepertinya udah di luar batasan.  Jadi, mari kita simpulkan saja ya.  Secara keseluruhan ya ini film jaminan mutu deh terlepas dari unsur penceritaan yang bagi sebagian besar kritikus dinilai kurang kuat.  Maka dari itu, bagi yang belum sempat ataupun mnyempatkan diri mampir ke bioskop buat menyaksikan film ini, buruan deh.  Sekalipun film ini gak akan bernasib senahas film Indonesia lainya yang gak bertahan lebih dari seminggu, tapi bukan tidak mungkin film ini akan segera lenyap dari layar bioskop sebelum Anda sempat menyaksikannya.  Bbanyak Film yang mengantri untuk ditayangkan bung, ada Titanic yang tayang ulang pula!  Ahh…buruan lah sebelum kalian semenyesal penulis yang tidak sempat menyaksikan Mata Tertutup.  Yuuk…dukung FILM INDONESIA BERKUALITAS! J




Tidak ada komentar: