Sabtu, 06 Oktober 2012

Perahu Kertas Part 2: ketika hati (itu) dipilih



“hati itu dipilih, bukan memilih”
Ini kisah penghabisan Kugy-Keenan yang dibiarkan menggantung di akhir kisah PK 1 Agustus lalu.  Buat penonton PK 1 dan terutama pembaa novelnya, tentu jadi film yang paling ditunggu di Oktober ini.  Bukan, bukan uma di Oktober ini, melainkan ditunggu sepanjang tahun ini.  Dan hasilnya? Well, bagi pembaca novelnya tidak akan menemukan kejutan di endingnya--tapi pasti penasaran dengan eksekusi endingnya; nah bagi penonton PK 1 bagaimanapun endingnya yang jelas mereka memang butuh kejelasan akan nasib Kugy, Keenan, Remi dan Luhde. 

Dibuka reuni pasukan kura-kura ninja di nikahan Noni-Bimo, diteruskan dengan sejumlah adegan dengan porsi besar untuk keempat tokoh sentralnya.  Bukan pasukan kura-kura ninja ya, tapi dua orang pasukan kura-kura ninja ditambah pasangan mereka kini, yap Remi dan Luhde.  Pasa reuni, Kugy-Keenan kembali intens.  Bahkan Kugy sampai rela mematikan handphone-nya sampai-sampai membuat Remi khawatir setengah mati demi menikmati ‘penculikan yang indah’ bersama Keenan ke sebuah pantai di Jawa Barat.  Belum lagi proyek dongeng-gambar baru mereka.  Kugy menjadi tak fokus pada pekerjaannya di Advocado hingga Remi terpaksa harus ‘mengundurkan diri’ sebagai atasannya.

Puncaknya adalah ketika Kugy-Luhde bertemu seara tak sengaja saat Kugy tengah dalam perjalanan berlibur bersama Avoado di Bali.  Keduanya baru saling sadar setelah berpisah.  Dan semenjak itu seuanya tak lagi sama.  Baik Kugy ataupun Luhde menyimpan kepahitannya masing-masing.  Bagi Kugy semakin kompleks tatkala hatinya remuk, tiba-tiba Remi ‘membalut’ lukanya dengan cincin.  Akhirnya, mengasingkan diri menjadi pilihan utamanya setelah kembali ke Jakarta.  Dari Remi, Keenan, dan semuanya.  Luhde sendiri mulai merasa bahwa hatinya tidak dipilih Keenan sekali pun lelaki pujaannya itu menyatakan bahwa hati-nya memilihnya.  “Hati itu dipilih, De; bukan memilih,” terngiang olehnya nasihat Pak Wayan yang ternyata memiliki masa lalu kelam dalam urusan asmara bersama ibu Keenan, Lena. 

Hati dua wanita terpaut pada satu hati pria yang sama tapi yang satu terikat pada yang lain sementara yang satu merasa pertautannya rapuh.  Sementara sang pria yang dimaksud, akhirnya tahu dan juga mengakui akan satu hati tapi sudah terikat pula pada hati yang lain dan berusaha memantapkan pada yang telah terikat.  Satu pria lagi? Pada akhirnya ia mengerti akan semua kesamaran yang mewarnai hubungannya dengan Kugy.  Semua, keempatnya memekuri kepeddihan hatinya masing-masing.  Namun demikian, sepahit apa pun, mereka mesti memilih, dan pada akhirnya akan bagaimana pilihan mereka? Pada siapakah hati mereka masing-masing bertaut?  Hati siapakah yang akhirnya saling dipilih?  Hanya di bioskop terdekat kesayangan Anda akan menemukan jawabannya, so buruan gih!



***

Buat yang udah nonton, gimana endingnya? Awesome? Unpredictable? Memorable? Atau malah forgettable? Well…buat penulis sendiri yang baca novelnya plus nonton part 1 nya, ya memang PK 2 menjadi wajib tonton demi menggenpi kepenasaran.  Jujur, di PK 1 penulis agak dibut bosan dengan alur yang enderung lambat, bagi penulis.  Ditambah interaksi Kugy-Keenan nya yang minim.  Dan harapan terbesar penulis  di PK 2 ini to be honest ya adegan Kugy-Keenan nya dibikin massif. Terpenuhinkah? A bit.  Ya, a bit.  Memang interaksi keduanya lebih banyak, tapi kadarnya sedikit bertambah banyak dari yang pertama, tidak sangat banyak.  Tidak jauh beda dengan interaksi Kugy-Remi dan Keenan-Luhde. Eksekusi adegan terakhirnya (antara  pemeran utama) juga tidak semanis ataupun semeriah dan sesumringah di novel.  Tak ada adegan angkat mengangkat, meskipun ukup membekas. Jika bagian ini dibuat lebih manis psti bakal semakin membekas.  Tapi, suguhan ending lain pada beberapa karakter ukup bisa jadi penawar akan semua itu, so sweet.  Buktinya? Penulis aja sambil kepengen buat barang sekali lagi hadir di bioskop demi menyaksikan adegan penghabisan ini.  Kenapa? Soalnya memang momen itu yang penulis tunggu dari overall film-nya.  Udah ahh penulis sedang enggan berpanjang lebar, intinya silakan tidak akan rugi merogoh koek Anda demi menyaksikan kisah perintaan bernuansa lain ini.  Oh, ya, sebagai pembaca novelnya meskipun ada beberapa adegan yang dirubah sampai-sampai mebuat unsur dramatisnya berkurang—seperti pas proses Keenan tahu perasaan Kugy dari Noni, pertemuan di Rnca Buaya, adegan terakhir—tapi karena yang menulis ksenario adalah penulis novelnya sendiri, jadi tidak sebegitu menganggunya dan malah penulis menikmati PK & PK 2 arahan Hanung Bramantyo ini sebagai satu sajian visual yang menarik. :D

2 komentar:

Rachmat Sonjaya mengatakan...

nice post...
mohon ijin pasang link blog ini di blog saya dan klo tidak keberatan silahkan pasang link saya di sini ok :)
thx...

Rachmat Sonjaya mengatakan...

nice post...
mohon ijin pasang link blog ini di blog saya dan klo tidak keberatan silahkan pasang link saya di sini ok :)
thx...