Sabtu, 16 Juni 2012

Serba Seri EURO 2012 #JustShareMO


#Der Oranje Kritis!
Timnas Belanda yang digadang-gadang sebagai salah satu calon kuat peraih kampium Piala Eropa, di luar dugaan justru terseok-seok di fase grup.  Dikalahkan Denmark di laga pembuka dan kembali mengalami kekalahan kedua dari Jerman, membuat tim asuhan Bert Van Marwijk ini berada di ujung tanduk.  Menang di pertandingan grup terakhir melawan Portugal menjadi mutlak perlu demi mengamankan tiket ke semifinal yang masih terbuka.  Itu pun dengan dua catatan.  Pertama, paling tidak ada tiga gol yang mesti disarangkan ke gawang Portugal.  Dan, kedua Belanda layak berharap bahwa Jerman mampu mengalahkan Denmark di laga penutup grup B.  Jika salah satu saja tidak terpenuhi, maka habislah perjalan Belanda di EURO 2012 ini.

#Inggris dan Spanyol Berjaya!
Tim Spanyol yang sempat tertahan di laga pembuka setelah mendapat hasil imbang dengan Italia akhirnyamembuktikan kelasnya di laga kedua melawan Republik Irlandia.  Menampilkan Torres sejak menit awal dan mencadangkan Fabregas, strategi pelatih Vincente del Bosque terbukti jitu.  Pertandingan baru berjalan sekitar 4 menit,  Torres sudah membawa tim La Furia Roja unggul terlebih dahulu 1-0.  Kemudian, di babak kedua David Silva, Torres, dan Fabregas memperbesar keunggulan hingga 4-0.  Kemenangan ini sekaligus secara otomatis menghentikan langkah tim Irlandia sekaligus menegaskan kekuatan  sesungguhnya sang juara bertahan, Spanyol.

Di pertandingan lainnya, timnas Inggris yang di laga pembuka Grup C juga meraup hasil imbang melawan Italia akhirnya meraih tiga biji kemenangan setelah mengandaskan  perlawanan Swedia 2-1 di  pertandingan lanjutan grup D.  Hasil ini secara otomatis menghantar Ibrahimovic dkk menyusul Irlandia terhenti dari EURO 2012. Tiga biji gol kemenangan Irlandia masing-masing disarangkan oleh Andy Caroll, Theo Walcott, dan Dany Welbeck.  Kepastian tersingkirnya Swedia tak lepas dari kemenangan 2-0 yang dibukukan perancis atas tuan rumah, Ukraina. 

# GUNNERS in Action!
Para punggawa Gunners telah menjadi pahlawan tersendiri bagi negara masing-masing di pertandingan kedua fase grup EURO 2012 ini.  Selain yang masih berseragam Gunners hingga hari ini, mereka yang sudah tidak lagi tapi sempat cukup lama menjadi Gunners.  Mereka menyumbangkan gol, meski tidak melulu membawa kemenangan bagi tim mereka masing-masing.  Ada RvP dan Walcott yang masih menjadi Gunners.  Juga Bendtner, Nasri, dan Fabregas yang kini memang sudah tak berseragam Gunners, tapi sempat merasakan saat-saat manis di bawah asuhan opa AW.

RvP berhasil menyumbangkan satu gol ketika timnya, Belanda, dikalahkan 2-1 oleh Jerman pada pertandingan kedua Grup B.  Gol yang datang cukup terlambat, tetapi setidaknya mampu menjawab keraguan akan performa gilang gemilangnya bersama Gunners setelah seperti tak mampu berbuat banyak di laga pertama melawan Denmark.  Lain lagi dengan Walcott yang menjadi man of the match di laga kedua The Three Lions.  Sempat tertinggal 2-1 di pertengahan babak kedua, Walcott yang baru masuk di menit ke 72 langsung membuat gol penyeimbang yang sangat cantik dua menit kemudian.  Belum cukup, ia pun berperan besar dalam  gol kemenangan tim asuhan Roy Hodgson yang dieksekusi dengan tidak kalah cantiknya oleh Danny Welbeck.

Sementara Nasri, Bendtner, dan Fabregas masing-masing telah membukukan satu gold an memberi keeping angka bagi tim-timnya.  Nasri membukukan gol penyeimbang saat melawan Inggris di pertemuan pertama.  Bendter mencetak dua gol saat Denmark hampir saja menahan imbang Portugal sebelum akhirnya kalah 2-2.  Dan, eks kapten Arsenal, Fabregas pun menyumbang dua gol dari dua pertandingan yang telah dilakoninya bersama La Furia Roja. 

Sekalipun gol-gol tersebut tidak mampu memberi biji kemenangan bagi tim-nya masing-masing, akan tetapi setidaknya bahwa kualitas individu para pemain tersebut tentu saja tidak bisa diragukan.  Artinya, sebagai seorang GOONERS yang sayangnya tim favorit-nya di EURO kali ini masih belum pada beruntung, setidaknya masih patut berbangga dengan kemampuan yang ditunjukkan oleh para pemain ataupun mantan pemain Gunners tersebut.  walaupun sebenarnya penulis enggan ya mengakui mereka yang sudah berpaling dari tim London Utara ini, tapi yam au tidak mau sejarah telah mencatat bahwa mereka merupakan bagian dari Gunners…dulu, bahkan nama besar mereka diperoleh dari tim tersebut.

# Gunners in England’s Jersey
Jersey away timnas Inggris yang bernuansa Biru dan memasukan unsur biru turqois tidak bisa tidak mengingatkan penulis pada kostum Away Gunners.  Hanya beda design saja, selebihnya penulis fikir sama.  Okay, produsen kedua tim berbeda: Gunners Nike,  Timnas Inggris.  Tapi, akui sajalah kalau jersey-nya memang sangat Arsenal kan?  Warna yang cantik bukan?  Banyak orang yang sudah mengakui betapa kerennya jersey away tim London Utara ini.  Dan, ya sepenerawangan geje penulis, nampaknya faktor kostum ini sedikit banyak mempengaruhi performa Steven Gerrad dkk saat menghadapi keagresivan Ibrahimovic cs. 

#England Skuad’s Hug is so Awkward!
Sangat tidak mudah memang untuk menjadikan rival sebagai kawan, sebagaimana yang terajdi dengan banyak timnas di EURO 2012 ini.  Rivalitas mengakar di level klub sering kali masih terbawa hingga level timnas.  Maka, tak heran jika banyak muncul kabar si anu tidak akur dengan si anu, yang notabene rekan satu negara.  Ya, tentu menjadi satu PR besar bagi pelatih dan manajemen untuk menyatukan para pemain yang telah menjadi motor di klub-nya masing-masing.  Namun, yang mesti disadari ialah bahwa para pemain pun seharusnya mampu meredam ego pribadi demi keberlangsungan dan  kekompakan tim.  Kan, bukan lagi menjadi rahasia umum bahwa sepak bola yang mengandalkan kolektivitas tim, bukan semata skill individu, tentu saja menuntut kekompakan dalam tim menjadi hal yang mutlak perlu. 

Oleh karena itu, tidak heran jika akan terasa aneh begitu melihat mereka yang sudah terbiasa menjadi rival di level lokal (Negara masing-masing) tiba-tiba mesti menjadi kawan di level regional (baca: benua).  Seperti yang terjadi di ajang EURO Cup 2012 ini.   Saat laga Inggris melawan Swedia kemarin ada suatu pemandangan aneh saat Walcott berpelukan dengan Welbeck, Gerrad, Terry, dan Carroll.  Apanya yang aneh? Biasa toh dalam selebrai gol.  Memang seharusnya tidak ada yang aneh, tapi ya mungkin karena rivalitas di Negara masing-masing sudah kadung melekat, jadi pemandangan ketika ereka yang biasanya ‘beseteru’ di lapangan tiba-toba berpelukan….hemm…it’s so awkward for me anyway.  IMHO.

Kamis, 14 Juni 2012

Djarum Indonesia Open Super Series Premiere


Hajatan terakbar bagai insan perbulutangkisan nasional dan tentu saja internasional digelar selama seminggu ini.  Tempatnya? Dimana lagi kalau bukan ISTORA senayan! *bosen gak sih?*  yap, alagai kalau bukan Djarum Indonesia Open Super Series pake Premiere!  Udah gak mesti dijelasin lagi lah ya apa itu premiere dan blab la bla..googling aja pasti bejibun kok J.  Ada sejumlah misi *kalau banyak kesannya masruk gitu* yang dibawa para atlet Indonesia disini.  Paling tidak dua misis yang diusung: membayar hasil tanpa gelar di rumah sendiri dua tahun berturut-turut dan membayar kegagalan di Thomas Uber Cup.

Akan berhasilkah kira-kira?  Sejauh ini sih masih 50-50.  Kenapa? Karena baru sampai di Round 1 a.k.a babak 32 besar, udah bejubunnn pemain anadalan kalau gak bisa dibilang unggulan Indonesia yang pada berguguran.  Mereka yang non peletnas dan masih muda gak perlu disebutin satu-satu, kebanyakan dan terutama penulis gak pada kenal.  Nah buat pemain sekaliber pemain pelatnas pun ternyata eh ternyata teteup pada banyak yang bergurguran.  Sebut saja salah satu yang paling sulit dipercaya yaitu kekalahan ganda putra nomor 1 Indonesia saat ini, Moh Ahsan/Bona Septano.  Juniornya, Angga/Ryan pun menyusul.  Beruntung masih ada pasangan senior yang sayangnya nbelakangan mulai kurang fokus dan inkonsisten, markis Kido/Hendra Setiawan yang masih bertahan.

Di sektor lainnya, ganda putri muda andalah Indonesia Anneke/Nitya mesti mengakui keunggulan pasangan muda Cina dalam pertandingan yang berlangsung ketat.  Ada lagi Moh Rijal/Debby yang dipulangkan awal oleh pasangan d.  Nah, kalau di sektor tunggal baik putra dan putri sama-sama menyisakan sedikit pemain yang bertahan.  Dan percayakah bahwa diantara yang bertahan adalah Sonny DK yang mengawali DIOSSP ini dari babak kualifikasi dan langsung ditantang Peter Gade di R1. 

Luar biasa!  Di saat beberapa pemainmuda andalan masa depan seperti Tommy Kurniawan dipaksa mneyerah dari sesama pemain non unggulan, ini Sonny yang non unggulan bisa-bisanya mengalahkan Gade yang unggulan kedua!  Di putri, wakil Indonesia di tunggal putri OG nanti, Firdasari, mundur karena cedera saat kedudukan 7-7 melawan unggulan pertama, Wang Yihan.  Selain itu, Lindaweni yang tampil impresif di ajang Thomas Uber Cup beberapa waktu lalu, harus pulang lebih awal, bahkan sebelum masuk ke babak utama.  Masih ada Maria Febe sebenarnya, tapi sayang ia, pemain putri INA satu-satunya yang berhasil langsung menembus babak utama, ternyata tak berdaya menghadapi pemain  muda India.

#Result Round 32 DIOSSP
Dari hasil babak pertama secara keseluruhan, selain di Tunggal Putra, sektor lain relatif minim kejutan.   Di tunggal Putra, unggulan pertama Chen Jin mengundurkan diri saat tengah berhadapan dengan jan O Jogersen (Denmark).  Sementara Peter Gade ya itu dikalahkan oleh SDK. Chen Long pun hampiiir saja dikalahkan oleh M. Hafidz Hasyim (Malaysia).  Hasil maksimal yang ditorehkan SDK, diikuti pula oleh hasil positif dari sejumlah pemain Indonesia macam Taufik Hidayat, Hayom Rumbaka, dan Alamsyah Yuus yang berhasil mengalahkan lawan-lawannya. 

Di tunggal putri, taka ada kesulitan berarti yang dihadapai trio Wang yang menempati tiga unggulan teratas.  Sayangnya, pebulutangkis muda nomor satu Thailand saat ini, Ratchanok Inthanon, dipaksa menyerah lewat pertarungan ketat tiga set melawan tunggal Korea, Ju Ji Hyun.  Beruntung lah masih ada seorang Saina Nehwal yang menjadi juara bertahan turnamen ini dua kali bertutur-turut sebelum tahun kemarin dikalahkan srikandi-nya Thailand itu.  Mudah-mudahan Saina bisa terus melaju hingga ke puncak dan sempat direbut pemain lain itu di DIOSSP kali ini.  Ya, paling tidak kan bisa meminimalisisr peluang sapu bersih negaranya trio Wang.

Ganda Putri dan Putra, unggulan masih melaju, pun di Ganda campuran.  Kejutan-kejutan kecil seperti melajunya pemain non unggulan melibas pemain dengan peringkat lebih baik mewarnai ketiga sektor ini.  Namun tidak dominan.  Jika Bona Septano bersama M. Ahsan, pasangannya, dipaksa angkat koper lebih awal, maka hasil sebaliknya diraih saudara kandungnya, pasangan Markis Kido/Pia Zebadiah yang di luar dugaan bisa mengalahkan pasangan senior Denmark Thomas Layborn/Kamilla Rhytter Juhl. 

#Absennya Pemain Unggulan
Dua tunggal putra teratas duni sedari awal sudah memastikan absen di ajang berhadiah total US$ 650.000.  Sebagaimana kita ketahui bahwa tungga no 1 dunia, LCW mengalami cidera yang cukup parah di penyisihan grup Thomas Cup lalu.  Sementara Lin Dan, dengan alasan kelelahan turut absen.  Cukup? Belum, karena ternyata saat hari H, beberapa pemain menyusul absen seperti ganda putra unggulan pertama, Cai Yun/Fu Haifeng.  Dua ganda korea pun menyusul mundur yaitu Kim Min Jung/Ha Jung Eun dan Lee Yong Dae/Ha Jung Eun.  Ada juga Pi Hongyan, tunggal putri Perancis, dan beberapa pemain lainnya. 

Mundurnya Cai/Fu yang paling mengecewakan bukan saja penulis peribadi, melainkan juga seluruh pecinta bulu tangkis.  Gimana, ya, final klasik antara Cai/Fu vs JJS/LYD pasti dinantikan semua BL Lovers.  Penulis pribadi sebenanrnya sangat ingin menyaksikan duel ganda terkuat Cina itu dengan ganda terkuat Eropa, Mathias Boe/Carsten Mogensen.  Tapi, ya walaupun tanpa pemain-pemain tersebut, masih banyak pemain hebat dunia lainnya yang masih berlaga di DIOSSP kali ini.

#Momentum Emas Indonesia
Hasil minor Bona Septano/M. Ahsan, praktis menjadikan Ahhmad Tontowi/Liliyana Natsir sebagai tumpuan utama meraih gelar disini.  Bukan apa-apa, sudah dua tahun terakhir ini Indonesia tanpa gelar di negeri sendiri.  Harapan publik berlipat setelah kekalahan yang bisa dikatakan tak terduga di Thomaa-Uber Cup lalu.  Maka, kalau tadinya beban pemain hanya memecah telor gelar, maka kini sekaligus menjadi ajang pembuktian bahwa Indonesia belum sepenuhnya habis, paling tidak di nomor perorangan.

Tren positif yang ditunjukkan pasangan Tontowi/Liliyana di tahun 2012 ini tentu membuat pecinta bulu tangkis di tanah air berharap banyak pada pasangan ini.  Apalagi setelah suskes mereka meraih gelar di All England setelah sebulumnya puasa gelar tujuh tahun secara Indonesianya, dan  di secara sektor ganda campurannya.  Selain itu kemenangan SDK di ajang Thailand GPG pekan lalu mudah-mudahan bisa diulangi disini, di negeri sendiri.  Ya, setidaknya dua gelar bisa diamankan pasukan merah putih di ajang DIOSSP.  Kemenangan Tontowi/Liliyana yang dinanti-nantikan ditambah kemenangan pemain yang baru saja come back setelah dibekap cedera berkepanjangan, SDK, tentu akan menjadi peliipur lara bagi para pemain dan pecinta bulu tangkis tanah air.  Dan, disinilah, di ajang Djarum Indonesia Open Super Series, di rumah sendiri, merupakan momentum emas untuk meraih dan mewujudkan cita-cita tersebut.

EURO 2012 Polandia-Ukraina




Pesta sepak bola terakbar di Eropa resmi digelar 08 Juni lalu.  Minggu ini, ajang empat tahunan yang digelar di Polandia-Ukraina ini telah memasuki pertandingan kedua di fase grup.  Keenam belas tim yang lolos penyisihan dibagi dalam empat grup yang masing-masing terdiri atas empat tim.  Nantinya, dua tim teratas dari setiap grup akan saling berhadapan di babak knock-out yang dimulai dengan perempat final. 

Menariknya, di masing-masing grup menempatkan paling tidak dua tim unggulan didampingi tim-tim underdog.  Akan ada duel panas nan seru macam Inggris-Perancis dan Italia Spanyol.  Namun yang paling dinantikan dan membuat semua orang mengelus dada yaitu drawing di grup B yang menempatkan Belanda, Jerman, Portugal dan Denmark dalam satu grup.  Maka, tak heran jika grup ini disebut-sebut sebagai grup neraka. 

Sementara drawing grup A terbilang mulus.  Polandia, Rusia, Rep Cheska, dan Yunani menempati grup yang sama.  Sedangkan grup C dihuni oleh Italia, Spanyol, Kroasia, dan Rep. Irlandia.  Dan, terakhir grup D mempertemukan Inggris, Perancis, Swedia, ddan tuan rumah Ukraina dalam satu grup.  Perjalanan para tim unggulan di ketiga grup tersebut dipastikan akan relatif mulus.  Itu pun dengan catatan bahwa mereka tidak terjegal oleh tim-tim underdog.  Jangan salah, dalam ajang besar model begini tidak jarang tim underdog menjadi begitu superior dan kemudian keluar sebagi jawara, sebagaimana yang terjadi pada Yunani saat EURO 2004 lalu.

#Grup Neraka
Kembali ke grup neraka, menarik memang mengikuti pertandingan demi pertandingan di grup B ini.  Belanda yang diunggulkan bersama Jerman dan sang juara bertahan, Spanyol, sebagai calon kuat peraih gelar di EURO tahun ini, di luar dugaan justru kalah di laga perdana dari Denmark yang cenderung tidak diunggulkan.  Satu gol dari kembaran Jonas Rasmussen seketika mengubah peta persaingan.  Kekalahan Belanda dan disusul Portugal menempatkan keduanya berada di bawah Denmark dan Jerman yang terlebih dahulu meraih angka 3 usai memenangi laga perdana, dengan keunggulan masing-masing 1-0 saja atas lawan-lawannya.

Akan tetapi, memasuki pertandingan kedua, peta persaingan kembali mengalami perubahan.  Kali ini Portugal akhirnya berhasil meraih 3 angka setelah membungkam Denmark 2-3 melalui pertarungan sengit.  Dengan demikian, tiga dari empat tim di grup B sudah mengantongi 3 angka.  Nah, tinggal partai antara Belanda vs Jerman yang akan semakin meramaikaan atau justru memperjelas peta persaingan di grup B ini.  Akan sangat seru jika Belanda bisa mencuri tiga poin.  Bukan sekedar menyamakan poin menjadi 3, lebih jauh mengamankan posisi untuk lolos dari fase grup.  Akan menjadi suatu ironi tersendiri sekaligus anti klimaks jika tim (yang diprediksi) calon juara ini ternyata harus angkat koper lebih dahulu.

Selain itu bukan hanya tim yang akan sangat kecewa dengan hasil minor ini, tetapi juga entah berapa banyak pendukung tim berjuluk “der Oranje” yang akan sangat sangat kecewa.  Sekali lagi, sebagai salah satu tim calon jawara, pendukung tim ini termasuk yang paling banyak.  Sementara tiga tim yang lainnya, peluangnya sama  besar untuk maju ke fase grup.  Bisa dibilang demi meraih tiket ke fase knock out satu-satunya cara yang paling masuk akal yaitu dengan saling membunuh. 

Dan hasilnya (secara ini draft-nya sudah ada sebelum pertandingan Belanda vs Jerman, dan penulis enggan merombak lagi) yap, Jerman semakin merajai klasmen grup B dengan 6 poin disusul Portugal dan Denmark dengan masing-masing 3 poin, dan Belanda tidak beranjak dari posisi juru kunci tanpa poin.  Tentu suatu kondisi yang teramat genting bagi tim unggulan sekelas Belanda.  Kesempatan itu masih belum tertutup sama sekali, namun pra syarat untuk bisa menemani Jerman tidak semudah itu.  Paling tidak ada dua kondisi yang mesti terpenuhi agar tim asuhan Rud Van Marwijk ini lolos ke fase KO: pertama, di partai grup trakhir WAJIB mennag setidaknya 3-0 atas lawannya, Portugal; dan kalaupun ia terwujud tapi jika di partai lainnya Jerman tak mampu membungkan Denmark, maka kemenangan sebesar apa pun akan sia-sia.

# Kebangkitan Tim-tim  Medioker (baca; Unggulan yang tidak begitu diunggulkan)
Italia, Perancis, dan tentu saja Inggris merupakan tim unggulan yang tidak begitu diunggulkan.  Dari segi prestasi tim dan jajaran pemain jelas ketiga tim tersebut bisa disejajarkan dengan Bealanda, Jerman, dan Spanyol.  Namun, di luar hal tersebut sejumlah hal non teknis membuat ketiga tim ini dipandang sedikit berada di bawah ketiga tim tadi.  Italia dengan kasus calciopoli-nya; Perancis dengan rekor buruknya di EURO 2008 dan World Cup 2010; Inggris dengan sejumlah polemik internal yang cukup menganggu seperti pencoptaan ban kapten John Terry yang berakibat mundurnya Fabio Capello dari bangku pelatih saat EURO  semakin dekat dan sejumlah kasus skandal lainnya yang melibatkan sejumlah pemain. 

Namun, dari hasil pertanndingan di laga pertama, ketiga tim ini  menunjukkan tren yang cenderung positif, meski hanya meraih hasil imbang saja.  Italia dan Perancis malah bisa menjadi penantang paling serius.  Sementara Inggirs, dari permainan saat melawan perancis di laga perdana Grup D, meski berhasil unggul lebih dahulu, secara statistic keseluruhan masih di bawah Perancis.   Penulis sendiri melihat jalannya pertandingan kemaren terpesona oleh permainan Gil Azzuri yang bisa mengimabnagi permainanan tiki taka ala La Furi Roja.   

Peluang Tim Underdog
Tim unggulan sudah, tim unggulan yang tidak diunggulkan sudah, sekarang giliran tim underdog, alias tim yang tidak diunggulkan.  Tuan rumah, sudah barang tentu menjadi tim pertama yang wajib diwaspadai.  Ingat kasusu Yunani, sebagai tuan rumah yang tidak diunggulkan, eh ia justru keluar sebagai juara.  Ada apakah? Faktor X tuan rumah, tentu sedikit banyak berperan besar.  Kan sering dikatakan bahwa faktor tuan rumah sering kali menajdi faktor X itu sendiri bagi tim tuan rumah.  Dukungan publik tuan rumah, semangat sebagai tuan rumah.  Polandia dan Ukraina patut mendapat tempat spesial sebagai tim yang patut diwaspadai.

Menyusul kemudian Kroasia, Rep. Cheska, Rusia, dan pastinya Denmark.  Belanda dan hmpir saja Portugal telah merasakan betapa kuatnya dinamit yang dimiliki tim-nya Nicklas Bendtner ini.  Kroasia, Rusia, dan Rep Cheska sama-sama belum mengalami kekalahan di pertandingan fase grup.   Intinya sih, untuk para tim unggulan jangan agul *alah* oleh keunggulan kalian karena fakta (yang lalu-lalu) membuktikan bahwa dalam pertandingan seperti ini status unggulan bukan jaminan bagi suatu tim untuk serta merta memenanagi pertandingan demi pertandingan dan lantas menjadi juara.

Bukan tanpa alasan.  Melihat performa para unggulan di pertandingan pertama, Belanda kalah 1-0 Denmark; Jerman hanya menang tipis 1-0 dan sedikit lebih beruntung daripada Portugal; dan, Spanyol harus rela ditahan imbang oleh Italia.  Tapi, hasil di laga pertama tersebut tidak bisa begitu saja dijadikan ukuran utama perjalanan masing-maasing tim ke depannya.  Sebagian besar masih harus menjalani dua laga tersisa di fase grup.  Baru  minggu depan kita, publik pecinta bola di seluruh dunia, disuguhi peta kekuatan yang sebenarnya dari masing-masing tim.  Apakah para tim unggulan tersebut masih layak disebut unggulan?  Sampai sejauh mana kejutan-kejutan yang akan diberikan  oleh para tim underdog? Bagaimana pula nasib tim-tim unggulan yang kurang diunggulkan?  Siapakah kampium Eropa tahun ini, sang juara sesungguhnya?  Yuuk terus nantikan perjalanan dan perkembangan EURO 2012 ini hingga partai puncak, tanggal 1 Juli nanti.  

Soegija: It's Not Really About Him!



Film teranyar dari ayah dan mertua sutradara terpuji dan terbaik versi FFB dan FFI ini berkisah tentang semangat perjuangan dan nlai-nilai kemerdekaan dan kemanusiaan dari seorang Soegija.  Siapa Soegija? Beliau merupak uskup katholik pribumi pertama di Indonesia.  Beliau diangkat menjadi uskup di tahun 1940 di masa-masa kritis jelang kemerdekaan.  Belum sembuh betul dari tekanan Belnada, rakyat malah dibuat makin menderita saat Jepang mengambil alih kekuasaan.  Adik dipaksa berpisah dengan kakaknya, ibu dipisahkan secara paksa dengan anaknya.  Belum lagi mereka yang tersisa di Semarang akhirnya terpaksa mengungsi ke Yogya yang saat itu menjadi Ibu Kota sementara demi keamanan dan keselamatan, tak terkecuali sang uskup.

Perang belum juga usai.  Ternyata di Yogya suasana malah dalam beberapa hal memburuk.  Sebenarnya keadaan sempat membaik pasca kekalahan Jepang atas sekutu yang dilanjutkan dengan proklamasi kemerdekaan Indonesia.  Akan tetapi semuanya menjadi sia-sia dan malah berujung dengan peperangan pasca pengkhianatan Belanda melalui Agresi Militernya di tahun 1947dan 1949.  Barulah setelah ada perjanjian gencatan senjata, dan Belanda pun berangsur-angsur meninggalkan Indonesia, seperti kata Soegija, kini tinggal berjuang mempertahankan dan mengisi kemerdekaan melelui politik. 

Lalu bagaimana dengan mereka yang terpisahkan?  Mariyem (Annisa) yang terpisah dari mas-nya, Maryono (M Abbe. ) harus tegar menghadapi kenyataan bahwa mas-nya yang sempat menjanjikan akan pulang untuk mneyaksikannya jadi perawat ternyata sudah terbujur kaku.  Sedang Ling Ling (Andrea Reva) yang dipidahkan dari ibunya (Olga Lidya) lebih beruntung karena bisa berkumpul kembali dengan sang bunda setelah terpisah selama lima tahun. 

Selain tokoh-tokoh di atas, Romo Soegija dikelilingi oleh sejumlah tokoh lainnya.  Ada Targimin, asisten setianya.  Ada seorang penyiar radio yang sangat setia dan up to date mnginformasikan kejadian terkini.  Ada pula Hendrick, seorang wartawan asing asal belanda yang menginap di Hotel Asia milik wanita Jawa  Berbeda dari rekan senegarnya Robert yang sangat menikmati peperangan dan tergabung dalam pasukan belanda yang menduduki Semarang-Yogyakarta, ia jutru berpihak pada pribumi bahkan jatuh hati pada Mariyem.  Sementara Robert yang cenderung tak punya hati bisa tesentuh juga olah tangisan seorang bayi mungil.  Masih ada Banteng, pejuang yang memiliki masalah mental sehingga tak memiliki kecerdasan sebagaimana remaja seusianya (bahkan oleh anak kecil pun kalah).

Kehadiran tokoh-tokoh pendamping sang Romo berikut konfliknya membatasi frekuensi kehadiran sang romo.  Alhasil, judul “Soegija” yang sejatinya menjadikan tokoh yang dicatut namanya sebagai judul film ini sebagai pusat utama, jadi seperti pendapat kebanyakan penonton yang sudah melihat  film ini bhawa judulnya menjadi terasa kurang pas.  Tokoh Romo Soegija bagi penulis pribadi ya, disini, hadir tak ubahnya peran Pak Haji di “Islam KTP”, iya perannya penting tapi bukan yang utama.  IMHO ya itu.

Di luar itu dari sisi teknis, gambar, detail make up, kostum, dan setting sangat terasa nyata.  Sangat layak diapresiasi.  Ya, kalaupun kita tidak akan mengenali sosok Soegija secara detail lewat film ini, paling tidak kita ngeh dengan siapa itu Soegija.  Dan, sepertinya bung Garin memaksa kita untuk penasaran dengan tokoh ini dan lantas mendalaminya sendiri, dengan membaca biografinya misalkan.  Who knows.   Intinya, tidak bosan-bosan penulis menghimbau, gih nonton buruan cepetan soon pergi ke BIOSKOP terdekat kesayangan Anda! J


Minoritas di antara (Bukan) Mayoritas
Aroma pas nonton film ini itu…wiiw BGT.  Hari itu hari ahad kan jadi crowded-nya uwow BGT lah.  Penulis nonton yang jam  7 malem, dan beli tiket jam 5.30.  dan, betapa kagetnya pas mau pilh bangku, tinggal tersisa 5-6 jajar terbawah!  Padahal itu sampai O apa P gitu.  Penulis akhirnya memilih duduk di J.  dari A-I, semua penuh dan hanya menyisakan dua bangku kosong, itu pun terpisah.  Sedangkan penulis nonton berempat.  Hemm..sebenernya penulis dan dua teman sudah tiba sejak jam 5, tapi kami menunggu satu teman lain makanya baru beli tiket jam segitu, dan…untung kami tidak menunda lebih lama lagi *batin penulis dalam hati*. 

Belum cukup!  Pas nonton masuk studio nih ya, berhubung penulis mampir dulu ke kamar mandi yang saking crowded-nya itu bioskop sampai menjalar ke kamar mandi segala *aihh*.  Nah pas masuk itu 70% bangku bioskop udah ada penghuninya, dan ketika ditilik-tilik, hey….nampaknya ini sebagian besar penonton adalah rombongan keluarga, sekolah, dan lain-lain.  Iyap! Kan, meskipun ditidak-tidak, bahwa itu bukan film biopic layaknya Sang Pencerah, tapi judul Soegija itu mau tak mau ya menjadi daya tarik sendiri bagi kalangan tertentu, kembali seperti halnya sang Pencerah.  Pokoknya nuansa-nya mengingatkan saat penulis menonton sang Pencerah bersama rombongan keluarga, sekitar 20 orang-an saat itu.  Ada yang salah? Tentu saja sama sekali tidak.

Akan tetapi yang menarik adalah, mengacu pada sub judul di atas, bahwa penulis jadi merasa seperti minorotas dinatara minoritas, yang itu kurang begitu nyaman.  Mohon maaf, tidak ada unsur SARA sama sekali disini.  Sekali lagi TIDAK ADA UNSUR SARA!  Maksud penulis adalah kan sebegaimana kita ketahui bahwa muslim menjadi agama mayoritas disusul kristiani di negeri ini.  Nah, berhubung identitas kemusliman seseorang bisa dengan mudah teridentifikasi dari jilbab-nya, jadi mengidentifikasi muslim diantara non muslim tidak akan sesulit mengidentifikasi non muslim di antara muslim.  Jadi, atmosfer pas masuk studio kemarin memang rada-rada aneh ya, berasa semua mata memandang *aahh…itu mah emang dasar penulisnya yg ke-GR-an*.   Dan penulis sempat curi-curi pandang dan  rasanya tidak menemukan lagi yang berkerudung selain penulis dan dua teman penulis lainnya entah jika terselubung.

 Tapi no offense ya, sedari awal penulis memutuskan nonton film ini sama sekali tidak ada pikiran macam-macam.  Motifnya murni sebagai pecinta film Indonesia yang cinta dan mendukung penuh film Indonesia berkulitas.  Jadi sekali lagi no offense ya, hanya ingin berbagi sedikit pengalaman saat menonton film ini saja, that’s all. 

Kamis, 31 Mei 2012

Indonesia Movie Award 2012



Diawali dengan penayangan Red Carpet yang dipandu dua co-host Indra Bekti dan Ivan Gunawan, IMA 2012 kemudian menayangkan VT yang dibintangi oleh Verald Humanggo yang lalu menyambung aksinya di panggung IMA dengan iringan musik dari Koil Band.  Kemudian atraksi baju lampu oleh dua “raksasa” mengiringi penampilan Bondan & Fade 2 Black “Tak Terkalahkan”  yang juga dilengkapi dengan baju berlampu.  Penampilan marathon dari para pengisi acara berhasil membakar panggung IMA  2012 *berasa kan gini kompetisinya,  dibandingin sama yang di tipi tetangganya 2 minggu ke belakang, upps*.  Setelahnya Wingky Wiryawan dan Prisia Nasution sebagai main host-nya pun akhirnya muncul menyapa hadirin dan pemirsa di atas panggung.

Sebagaimana dijelaskan para host, IMA menggunakan dua format, yakni terbaik yang merupakan pilihan juri, dan favorit yang dipilih oleh pemirsa melalui (apalagi kalau bukan) sms.  Turut hadir pula jajaran dewan juri yang terdiri dari Didi Petet (Actor, Acting Coach), Laila S. Chudori, Salman Aristo (Script Writer), Alex Komang (Actor), dan Aditya Gumay (Director, Script Writer).

Poppy Sovia dan Tora Sudiro berkesempatan membacakan nominasi pertama malam itu.  keduanya membacakan nominasi Pendatang Baru Pria Terfavorit dengan nominasi Axel Andaviar (Masih Bukan Cinta Biasa), Baim Wong (Dilema), Marcel Domits (Batas), Qausat Hata Y. (Mengejar Angin), Yosie Kristanto (Tendangan Dari Langit). 

Restu Sinaga dan Adinia Wirasti sudah menunggu di sudut panggung lain untuk membacakan nominasi Pendatang Baru Wanita Terfavorit yang menominasikan Astrid Tiar (Badai di Ujung Negeri), Dinda Hauw (Surat Kecil Untuk Tuhan), Prisia Nasution (Sang Penari), Siti Helda Meilita (Mengejar Angin), Tara Basro (Catatan Harian Si Boy). 

Berhubung ini nominasi favorit yang notabene dipilih pemirsa, ya no comment aja ya selera masyarakat berarti ya para pemenang itu.  kalau diliat latar  belakangnya mungkin (ini mungkin ya) salah satu indikatornya adalah seberapa familiar para nomine.  Dan kalau iya gak heran juga ya secara pemenang kategori pendatang pria terfavorit kan jauh lebih dulu ngeksis di layar kaca, sementara film yang dibintangi pendatang wanita favorit kan udah beberapa kali diputer di beberapa stasiun TV nasional. 

Wingky dan Pia kemudian memanggil Cut Mini dan Yama Carlos yang berduet membacakan nominasi Pemeran  Utama Pria Terfavorit  dengan nominasi Deddy Mizwar (Kentut), Donny Damara (Lovely Man), Oka Antara (Sang Penari), Tio Pakusadewo (Dilema), Tora Sudiro (Arisan 2).

Ada Akbar yang (maksudnya) menghibur hadirin dengan teori soal tiga jenis penonton dan perbedaan penonton pria dan wanita.  Ia menghantarkan keluarga Irawan (Dewi, Ria, dan Ade) membacakan nominasi Pemeran Utama Wanita terfavorit Adinia Wirasti (Jakarta Maghrib), Cut Mini (Arisan 2), Nani  Wijaya (Ummi Aminah), Raihanuun (Lovely Man), Wulan Guritno (Dilema).  

Wow..Dilema mendominasi raihan Pemeran Utama terfavorit.  Well, persaingan ketat seperti halnya di kategori Pendatang Baru menurut penulis pribadi lebih cenderung terjadi di kategori wanita.  Penulis padahal ngejagoin Raihanuun dan malah kurang suka sama perannya dan cara mbak Wulan bawain peran itu di Dilema itu. 

Sejumlah cuplikan film ditampilkan sebelum Coboy Junior menghibur hadirin dengan tembang “Elang” yang berlatar belakang film “Lima Elang” yang bertemakan Pramuka dan perkemahan.  Dwiki Darmawan seorang diri membawakan nominasi Soundtrack Terfavorit yang nominasinya dinyanyikan secara langsung dengan marathon oleh Pentaboyz: “Pupus” (Pupus), “Cubit-Cubitan”(Get Married 3), “I Need You” (Purple Love), “Darah Garuda” (Garuda di Dadaku 2), “Tendangan dari Langit” (Tendangan dari Langit.

Baru di kategori ini nih favorit penulis juga akhirnya keluar sebagai peraih Piala Layar Emas, emang asik sih, sayang seribu sayang penulis belum sempet nonton film ini. 

Ari Sihasale dan Nia Zulkarnaen mengawali pembacaan nominasi kategori Terbaik untuk kategori Pemeran Anak-Anak Terbaik dengan nominasi Emir Mahira (Garuda di dadaku 2), Monica Sayangbati (Serdadu Kumbang), Sayev M. Billah (Semesta Mendukung), Vicky Super K (Simfoni Luar Biasa), Yudi Miftahudin (Serdadu Kumbang).

Kategori ini penulis sebenernya ngejagoin si pangeran kecil ganteng Emir Mahira, tapi sih siapa aja juga pada akhirnya penulis yakin ya itulah yang terbaik menurut juri.  Sayang, lagi lagi penulis melewatkan film ini selagi masih tayang di bioskop.

Olivia Jensen didampingi Robertino membacakan nominasi Pendatang Baru Pria Terbaik yang menominasikan Axel Andaviar (Masib BCB), Baim Wong (Dilema), Marcel Domits (Batas), Qausar Harta Yudana (Mengejar Angin), Yosie Kristanto (Tendangan Dari Langit.

Mongol, komik yang tengah menjadi pusat perhatian hadir seorang diri, berstand up comedy di atas panggung.  *waktunya ngakak* sebelum kemudian Mieke Wijaya dan Rangga Joned mengambil alih panggung.  Keduanya membacakan nominasi Penatang Baru Wanita Terbaik yang nominasinya adalah Astrid Tiar (Badai di Ujung Negeri), Dinda hauw (Surat Kecil Untuk Tuhan), Prisia Nasution (Sang Penari), Siti Helda Meilita (Mengejar Angin), Tara Basro (Catatan Harian Si Boy).

Nah, disini baru deh kan sesuai ekspektasi para pemenangnya, yah kalau dibandingkan dengan versi favorit ya berarti masyarakat emang lebih cenderung mencari sosok yang sudah popular di mereka..

Mrario Lawalata dan Atrid Tiar hadir membacakan nominasi Pasangan Terbaik pasca penampilan duet  Dewi Sandra-Olla ramlan Donny Damara & Raihanuun (Lovely Man), Pevita Pearce & Wulan Guritno (Dilema), Prisia Nasution & Oka Antara (Sang Penari), Reza rahardian & Adinia Wirasti (Jakarta Maghrib), Surya Saputra & Rio Dewanto (Arisan 2).

Waduh...sekalipun yang menang my fave actor, aa Reza rahardian, tapi jujur penulis lebih suka chemistry Donny Damara-Raihanuun atau Prisia Nasution-Oka Antara loh..eeh tapi dipikir-pikir lagi ternyata penulis gak kebagian nonton Jakarta Maghrib, so gak bisa liat acting mereka berdua,  selamat aj deh aa *tapi gak suka momen menunggu kissing scene-nya*.

Samuel Rizal mendampingi Pierre Gruno hadir membacakan nominasi Pemeran Pendukung Pria Terbaik: Abimana Arya (Catatan Harian si Boy), Agus Kuncoro (Tendangan Dari langit), Hendro Djarot (Sang Penari), Mathias Mutchus (Mengejar Angin), Rio Dewanto (Arisan 2). 

Donny Damara bersama Dinda Hauw membawakan nominasi Pemeran Pendukung Wanita Terbaik Adinia Wirasti (Arisan 2), Dewi Irawan (Sang Penari), Ira Maya Sopha (Simfoni Luar Biasa), Poppy Sovia (Catatan Harian Si Boy), Sarah Sechan (Arisan 2). 

Sayanggggggg sekali lagi-lagi mas Agus Kuncoro harus cukup puas menjadi nominasi, padahal penulis sih pengen ya paling enggak disini doi dapet setelah di FFI dan FFB pun gak dapet.  Tapi di kategori wanita, syukurlah pemenangnya sesuai ekspektasi gak kayak di ajang award serupa dua pekan sebelumnya.

Latinka, Angel, dan Gisel menayanyikan “Badai Pasti Berlalu”, alamat pembacaan Penghargaan Khusus Lifetime Achievement Award yg bakal dikasihin kalo gak ke om Slamet Rahardjo kayaknya Roy Martin atau Christine Hakim *nah lho*.  Oohh…ternyata Cuma sebagai reminder, okay..

Duo cowok cool yang beda umur, aa Reza rahardian sama on Tio Pakusadewo membacakan nominasi Pemeran Utama Wanita Terbaik Adinia Wirasti (Jakarta Maghrib), Cut Mini (Arisan 2), Nani Wijaya (Ummi Aminah), Raihanuun (Lovely Man), Wulan Guritno (Dilema). 

Sedangkan nominasi Pemeran Utama Pria Terbaik dibacakan oleh Wulan guritno yang bersanding dengan Ray Sahetapi yang menominasikan Deddy Mizwar (Kentut), Donny Damara (Lovely Man), Oka Antara (Sang Penari), Tio Pakusadewo (Dilema), Tora Sudiro (Arisan 2).

Dan..yap, untuk kategori pemeran utama terbaik diborong sama cast-nya Lovely Man.  Untuk di kategori pria penulis gak begitu bermasalah, artinya sepakat, ya semoga tidak terpengaruhi beban kalau sebelumnya mas Donny “Ipuy” Damara ini udah menang di Asia Film Festival.  Nah, kalau untuk mbak Raihanuun sih penulis masih inget bener pas adegan yang “Aku Cahaya…uhukhukhuk”, tapi entah karena keseringan dihadirkan sosok Prisia Nasution sebagai jawara di kategori ini ya penulis sebenarnya lebih condong ke doi, hemm..semoga aja juga bukan gara-gara Prisia-nya udah menang di kategori pendatang baru, jadi bagi bagi nominasi gitu, semoga sportif semuanya, selamat buat mas Donny dan mbak Raihanuun.

Akhirnya, dua perwakilan dewan juri Didi petet dan Alex Komang hadir membacakan nominasi Film Terfavorit yang menghadirkan 12 kategori: “Arisan 2” (Kalyana Shira Film), “Catatan Harian Si Boy” (700 Pictures), “Dilema” (WGF Pictures & 87 Film), “Garuda Di Dadaku 2” (SBO Films, Indika, Kompas), “Get Married 3” (PT. Kharisma Starvision Plus), “Jakarta Maghrib” (Indie Picture, Lovely Man (Karuna Pictures, “Masih Bukan Cinta Biasa” (Wannabe Picture), “Pengejar Angin” (Putar Production),” Sang Penari” (Salto Film, Indika, Kompas-Gramedia), “Serdadu Kumbang” (Alenia Picture), “Tendangan Dari Langit” (Sinemart Picture). 

Okay, berhubung ini labelnya favorit yang notabene pilihan pemirsa, jadi ya gak banyak protes deh, apalagi ternyata perwakilan yang ngasih winning speech dari film yang bersangkutan salah satunya ya sang pemeran utama, si pangeran muda ganteng Emir Mahira!  Suaranya sekarang ya, hemm..suara anak cowok menuju ke remaja cowok, mulai beurat!  Congrates bro!

Dengan dibacakannya kategori Film terfavorit, maka berakhir sudah gelaran Indonesia Movie Award 2012. *teu rame*
***

Udahan? Kirain masih ada kategori terbaiknya buat film.  Penulis juga sebenarnya menantikan kategori yang lumrah ada di award film, macam sutradara, penulis skenario, penata kamera, penata musik, sinematografer, dan lain-lain, pokoknya mereka yang berada di belakang layar.  Tapi ternyata? Nihil! Well, mungkin dari segi penyelenggaraan, IMA 2012 ini lebih berasa nuansa awardnya, artinya atmosfer award dibangun melalui perpaduan host, pengisi acara, pembaca nominasi, sampai ke lokasi dan set panggungnya.  Jadi nuansa kemegahan berbalut eleganitas dari satu ajang penghargaan itu berasa.  Kalau harus membandingkan sama award serupa dua pekan sebelumnya, maaf ya, kalah jauh.  Acara award di stasiun tv ‘satu untuk semua’ itu bagi penulis pribadi tak ubahnya acara musik mingguan milik stasiun tv bersangkutan Cuma dihadiri oleh sederetan aktor dan aktris sebagai bintang tamu, tok!  Hostnya, pengisi acaranya, sampe pembaca nominasinya itu semua stasiun tv yang bersangkutan punya.  Pokonya disana penulis gak bisa ngerasain gengsi dari suatu ajang penghargaan.  Berlebihan?  Gak kok emang begitu yang penulis rasakan. 

Bagaimana dengan IMA?  Yah, nothing perpect ya memang.  Ketika IMAmemiliki semua unsur yang mesti ada dalam suatu ajang penghargaan bergengsi, sayang komponen utama yakni nominasi sama sekali tidak lengkap.  Yang diapresiasi disini hanya rasanya terbatas pada sebagian unsur film saja, hanya dari unsur pemain, yang muncul di layar.  Sementara mereka yang dibalik layar, sebagaimana diungkapkan sebelumnya, tidak kebagian apresiasi di sini.  Untuk format favorit dan terbaiknya sendiri taka da masalah karena toh komitmennya msih ditunjukkan dengan hadirnya kategori terbaik mendampingi favorit.  Selain itu dari segi peraih nominasi pun tidak banyak kejutan berarti.  Dari nominasi pun penulis lebih merasa puas dibanding nominasi award si stasiun tv sebelah sebelumnya.  Cuma di beberapa nominasi ada kesan seperti ingin bagi-bagi piala, soalnya tidak ada yang memboyong lebih dari satu piala, kecuali satu film iya ada yang memboyong beberapa piala seperti Dilema dan Jakarta Maghrib. 
Sebenarnya yang bikin penulis agak kurang sreg yakni reputasi sang pemilik hak siar yang di ajang award tertentu disinyalir berlaku tidak adil dengan dominannya perolehan nominasi yang menyertakan stasiun tv bersangkutan.    Jadi sempet khawatir aja kalau ada sedikit unsur ‘politis’ untuk menghapus image kurang baik yang kadung melekat.  *semoga tidak*.   Yang menarik dari IMA 2012 ini adalah dominasi nominasi.  Jakarta Maghrib, Lovely Man, dan Dilema bersaing ketat mengoleksi gelar.  Padahal di FFI, yang mendominasi adalah Sang Penari karya Ifa Isfansyah, sementara dalam FFB, sang istri, kamila Andini melalui the Mirror Never Lies-lah yang mendominasi.  Okay, Sang Penari masih adalah, tapi The Mirror never Lies? Gak masuk di satu kategori pun, aneh! 

Menilik fakta ini, pada akhirnya penulis berkesimpulan bahwa tiap ajang penganugeraan memang memiliki kekurangan dan kelebian masing-masing.  Jika award yang satu unggul dari segi penyelenggaraan, tapi hanya memberikan penghargaan untuk segelintir kategori saja, nah award yang lain lengkap dari segi kategori nominasi (sampai ke sinetron dan soundtrack), eeh..penggarapannya menegcewakan.  Selain itu, masing-masing ajang juga kayaknya punya kriteria dan standarisasi masing-masing, yang cukup sangat berbeda satu sama lain, walhasil para pemenang di ajang yang satu bisa jadi sangat berbeda dengan pemenang di ajang yang lainnya.  Ada masala? Sah-sah saja sih bagi penulis selama penilaian dilakukan secara fair dan jauh dari unsur politisasi *plis mau jadi apa bangsa ini kalau segala sektor kehidupan dipolitisasi?*.  Pokoknya maju terus perfilman Indonesia!

FFB 2012



Ada yang spesial dalam penyelenggaraan FFB ke-25 tahun ini.  Selama 25 tahun penyelenggaraannya baru kali ini salah satu festival film paling bergengsi ini disiarkan sevcara live di salah satu staiun TV sawsta.  Good News bagi pecinta film—pecinta dan penikmat, bukan pengamat, okay--

Dibuka oleh penampilan tari Jaipong oleh 6 Mojang, Charlie Van Houten masuk dalam iringan sisingaan membawakan lagu “Jangan Ngarep”-nya Setia Band, Band baru yang diawakinya.  Disusul oleh penempilan CherryBelle  dengan tujuh personil tersisanya menembangkan “Love Is You”.  (Aneh deh penampilan Girl Band yang baru kehilangan dua personel, serasa ada something missing yang bikin penampilan mereka serba kagok, baik dari segi nyanyian pun gerakan tariannya, pengaruh hengkangnya dua personel yg penulis suka gitu? *uppss…ketauan!*)

Andika Pratama dan Acha Septriasa diikuti oleh Narji dan Reuben kemudian muncul menyapa hadirin dan pemirsa (borongan maak!).  tanpa berpanjang-panjang, Reza rahardian muncul bersama Chantique mumcul untuk membacakan nominasi Pemeran Pembantu Pria Terpuji (Billy sandy—Negeri  5 Menara, Mathias Muchus—Pengejar Angin, Agus Kuncoro, Surya Saputra—Malaikat Tanpa Sayap, Putu Wijaya).

Selanjutnya, kategori Penata Musik Terpuji dibacakan oleh Project Pop dengan nominee (Tya Subiakto, Thorsi Ageswara, Tya Subiakto—Hafalan Shalat Dellisa, Aksyan & Titi SjumanSang Penari, Thorsi Ageswara).  Seusai mebmbacakan nominasi, Project Pop pun menghibur penonton dan pemirsa lewat tembang “Dangdut is the music of my country”. 

Setelah iklan pertama, tiba-tiba muncul sesosok Uya Kuya bermonolog di atas panggung seputar “diskriminasi” yang terjadi terhadap film tentang sebangsa ning pocong dan kawan-kawannya, yang banyak tapi tidak pernah masuk nominasi!  Setelah cukup lama bermonolog, akhirnya sang anak Cinta pun muncul membawakan kertas berisi nominasi Pemeran Pembantu Wanita Terpuji yang terdiri dari (Dewi Irawan—Sang Penari, Hj. Jenny Rachman, Paramitha Rusady—Umi Aminah, Ira Maya Sopha—Mother Keder, Ratna Riantiano—Get Married 3).  Dan seperti halnya project pop, pasangan ayah-anak ini pun kemudian mempersembahkan sebuah lagu setelah pembacaan nominasi .

Duet Narji-Reuben kembali mengisi panggung untuk menghantarkan pembaca nominasi Poster Terpuji (nah kan…asiik nih festival!) oleh Lyla Band dengan nominee (Di bawah Lindungan ka’bah, Pengejar Angin, The Mirror Never Lies, Tanda Tanya, Sang Penari).  Tidak seperti pembaca nominasi yang sudah-sudah yang terus menyanyi, justru cepot muncul di layar membawakan peran Syahrini-Aisyahrani tepat sebelum teteh “alhamdulillah sesuatu” membawakan lagu andalannya “Sesuatu”.

Sebelum jeda muncul parade Film Asing Terpuji (berasa Oscar*woow*) dengan nominasi The Tree of Life, The iron Lady, The Lady, Hugo, Midnight in Paris, 5 Days of War,

Begitu beres jeda, giliran Acha-Andika yang muncul di panggung (baru deh berasa ada di festival film nih..heu) menghantarkan Agus Kuncoro membacakan nominasi untuk kategori Penata Kamera Terpuji (yadi Sugandi-?, Faozan Rizal—Pengejar Angin, Ipung Rahmat Saiful—Di Bawah Lindungan Ka’bah, Bambang Supriadi—HSD , Ipung Rahmat Saiful—The Mirror Never Lies).  Indah Dewi Pertiwi kemudian tampil membawakan lagu “Gerakan Badanmu”. 

Derby Romero, si Sadam di “Petualangan Sherina”, membacakan nominasi khusus kepada Chantique Shargiel yang dinilai sukses memerankan seorang anak yang kakinya diamputasi dalam Hafalan Shalat Dellisa.  Kemudian, Dwi Sasono dan Prisia Nasution muncul untuk membacakan nominasi Penata Editing Terpuji (Wawan I. wibowo—Pengejar Angin, Cessa David Lukmansyah—Sang Penari, Wawan—The Mirror Never Lies, Cessa David Lukmansyah—Hafalan Shalat Dellisa, Yoga Tripratama—Di Bawah Lindungan Ka’bah). Pasangan suami istri Melly Goeslaw-Anto Hoed berduet menyanyikan lagu “Let’s talk about love” sebelum jeda.

Andika-Acha kembali menyapa pasca jeda sebelum kemunculan Roy Martin dan Dede Yusuf beserta sejumlah aktor senior dan pejabat perfilman lainnya untuk membacakan kategori Lifetime Achievement Award kepada Aminah Cendrakasih dan Slamet Rahardjo diiringi lagu “Tanah Air Beta” oleh Project Pop.  Keluarga Uya Kuya turut eksis di panggung tepat sebelum jeda. 

Lyla membuka jeda dengan hits “.  Penulis Skenario Terpuji yang dibacakan oleh Surya Saputra mengadirkan nominasi sbb (Salman Aristo—SP, Ben Sihombing—Pengejar  Angin, Nirmawan Hatta—The Mirror Never Lies, Jerimias--, Monty Tiwa—Sampai Ujung Dunia).  Syahrini pun kembali menghibur dengan single teranyarnya “Semua Karena Cinta”.

Jihan Fahira dan Dian Sidik hadir membawakan nominasi Penata Artistik Terpuji (Eros Eflin—Sang Penari, Fauzi—Pengejar Angin, Allan Sebastian-Dibawah Lindungan Ka’bah, Toni Trimastanto & Tommy D. Setyanto-The Mirror Never Lies, --Malaikat Tanpa sayap).  *disini kacau* belum juga pemenang kedua—kan ada dua pemenang—menyampaikan winning speech, ehh…Super Gerlies dengan “Aw aw aw” nya main nyodok aja ke panggung.  #sesuatu

Eits….pasca jeda sekelompok anak muda yang menamakan band mereka yang beraliran melayu sebagai Gamma 1 menyanyikan lagu berjudul “1/2”.  Ray Sahetapi bersama Tio Pakusadewo hadir di atas panggung menghantarkan nominasi Sutradara Terpuji (Ifa Isfansyah—Sang Penari, Kamila Andini—The Mirror Never Lies, Hanny R. saputra—Di Bawah Lindungan Ka’bah, Hanung Bramantyo—?, Ari Sihasale—Serdadu Kumbang.

Apa pula ada 6 Stars menyanyikan “Pretty Women” sebelum pembacaan nominasi Pemeran Utama Pria Terpuji oleh Maudy Ayunda dan Syahrini (Oka Antara—Sang Penari, Abimana Aryasatya, Qausar HY—Pengejar Angin, Dwi Sasono—Sampai Ujung Dunia, Reza rahardian—The Mirror Never Lies).  Masih aja ada Girl Band lagi, Soulmatch. *hemm…bener-bener karnaval SCTV ini mah*

Nah, lumayanlah duet mbak Acha sama aa Reza Rahardian *muach..muach..muach* menyanyikan soundtrack Broken Heart gubahan Melly Goeslaw berjudul .  Muncullah kemudian dua cowok ganteng: Yama Carlos dan Adipati membacakan nominasi Pemeraan Utama Wanita Terpuji (Prisia Nasution—Sang Penari, Chantique Shargiel—Hafalan Shalat Dellisa, Atiqah Hasiholan—The Mirror Never Lies, Maudy Ayunda—Malaikat Tanpa Sayap).  Derby Romero and The Revolution pun tampil menghibur penonton kemudian dengan lagu “Dan Aku”.

Setelah jeda, Setia Band muncul kembali menyanyikan “Broken Heart” yang disusul pembacaan nominee Film Trepuji yang diawali menyanyikan Himne FFB oleh Melly Goeslaw.  Pembacaan nominasi Film Terpuji ini dibacakan langsung oleh dua insan perfilman senior Deddy Mizwar dan Slamet Rahardjo (Sang Penari, Pengejar Angin, The Mirror Never Lies, Di Bawah Lindungan Ka’Bah, Hafalan Shalat Dellisa).

Berikut petikan testimony ole dua pelaku film kawakan Indonesia:

“Pada saat film bermutu banyak ditonton oleh penonton pasti menciptakan kondisi ideal dimana film bermutu disaksikan banyak insan untuk menghasilkan film bermutu lainnya.” Deddy Mizwar.

“Tahu bagaimana skenario, editing, pengarahan , sutradara itu senimana sekaligus teknisi” Slamet Rahardjo.

Daftar perai Piala Terpuji selengkapnya bisa dilihat di sini:
http://id.wikipedia.org/wiki/Festival_Film_Bandung
***

Overall, kenapa ya apa karena ini ditayangin di SCTV jadi ada semacam konpensasi yang dalam bahasa kerennya moU bahwa para pengisi acaranya SCTV pisan.  Maksudnya artis-artis yang sering atau langganan tampil di panggung karnaval atau InbOx-nya SCTV.   Cuma bedanya, ada sejumlah aktri dan aktor Film Indonesia yang juga turut mengisi acara.  Nah, karena ini pertama kalinya live, jadi penasaran apakah tahun-tahun sebelumnya suasananya juga seperti ini? Heu

FFB kali ini bisa dikatakan milik “the Mirror Never Lies”   Prestasi yang ditorekan Kamila Andini melalui TMNL bisa dikatakan sebagai “pembalasan” atas dominasi suaminya melalui “Sang Penari” di FFI lalu.  Igaan kecurigaan penulis bawa Kamila Andini memiliki dara Bandung pun terbukti, yes she is lewat winning speech-nya yang menghaturkan rasa terima kasih pada keluarga besarnya di Bandung.  Mengetaui fakta tersebut penulis secara konyol berfikiran bahwa faktor Bandung-la yang turut mensukseskan mojang ini Berjaya di ajang FFB. 

Yang menarik sekaligus mengherankan *bagi penulis*, berbagai nominasi yang diadirkan di tiap-tiap kategorinya cukup berbeda jauh dengan FFI yang sudah lebih dulu digelar.  Menjadi mengherankan karena banyak diantara nominasi yang menurut penulis sebagai awam sebaiknya diisi oleh nominee lain.  kesimpulan itu penulis ambil berdasarkan hasil review terhadap film-film tersebut dari beberapa sumber terpercaya.  Jadi ya film-film yang dinilai banyak penikmat sekaligus pengamat film biasa-biasa, tapi justru istimewa di mata para dewan juri, disitulah uniknya (sekaligus aneh *kekeuh*).  Begitupun dengan para pemenangnya, banyak yang meleset dari ekspektasi penulis, banyak pula yang berbeda dengan asil FFI *beda dewan juri, beda selera; beda festival, beda kriteria, nampaknya…*

Okay, terlepas dari nominasi dan para pemenangnya, secara keseluruan bisa dikatakan penulis kecewa dengan piak penyelenggara.  Tidak ada yang sala dengan konsep outdoor, toh FFI pun pernah menggelar konsep serupa beberapa tahun ke belakang, juga di lokasi yang sama.  Tapi, kekecewaan penulis lebi pada pengemasan acara, mulai dari co-Host, pengisi acara, bakan beberapa pembaca nominasi.  Jujur kemarin seperti yang telah disinggung di atas, penulis tak ubanya menyaksikan Karnaval SC** dengan bintang tamu para aktor dan aktris.  Semua suguhan yang ditampilkan sama sekali kurang menampakan cita rasa ke-award-annya, gak berasa meganya, hilang gengsinya.  Ulang taun perak (ke 25) pun jadi tidak berasa, jadi seolah bukan merupakan momen spesial. 

Entahlah, mungkin sang media partner turut berperan dalam ke-tidakpas-an penyelenggaraan perhelatan tsb.  Karena memang penulis peratikan belakangan ajang award-awardan serupa di stasiun TV yang sama emang semakin berasa kurang nendang, digarap terlalu ringan dan terkesan kurang serius.  Mungkin maksud awalnya ingin mengilangkan kesan kaku dan formal dari acara serupa, tapi pada akhirnya malah kebablasan sampai-sampai berasa turun kelas.  *well, ini si Cuma pendapat penulis pribadi sebagai yang rutin mengikuti acara penganugerahan model begini, emang sih sa sa aja tampil beda selaamaa masi memperhatikan nama besar ajang tersebut, kan sayang aja, udah besar-besar namanya mesti tercoreng gara-gara penggarapan yang kurang serius, eu ini ma isi hati penikmat yang sesekali mencoba jadi pengamat—yang masi amatir—perfilman Indonesia.


Jumat, 25 Mei 2012

Curhat aa Opik Soa Bulu Tangkis Tanah Air

begitu liat headline dan buka link ini, ngerasa wajibin kydy ngepos artikel yang diambil dari link ini Curhat aa Opik Soal Bulu Tangkis Nasional

***

WUHAN, Kompas.com - Pemain senior Taufik Hidayat menganggap ada permainan politik yang terlalu jauh di dunia bulu tangkis Indonesia dan menyebabkan prestasi terus merosot.

"Ini mungkin serupa dengan yang terjadi di Malaysia," kata Taufik kepada media massa Malaysia, Jumat setelah Indonesia tersingkir oleh Jepang di perempatfinal Piala Thomas. "Kita semua telah kehilangan komitmen terhadap perkembangan olah raga ini dan hal itu tersus merosot setiap tahun," lanjut Taufik yang pernah meraih medali emas Olimpiade 2004 lalu.

"Saat saya (akan) mundur, Indonesia tinggal bergantung kepada Simon Santoso dan Hayom (Rumbaka).  Yang lainnya mana? Hayom pun ternyata tidak mampu mengatasi tekanan yang berat," kata Taufik lagi.

"Markis-Hendra (Setiawan) bahkan menolak tampil di Olimpiade London. Mereka bisa lolos apabila mengikuti Australia Terbuka lalu. Di mana komitmen mereka?" ungkapnya. "PBSI harus bekerja lebih keras lagi untuk mencari pemain-pemain berkualitas. Budaya yang sekarang berkembang harus segera diubah."

Namun  Taufik juga mengkhawatirkan perkembangan bulu tangkis secara global. Menurut dia, federasi bulu tangkis dunia (BWF) harus mengubah peraturan kualaifikasi Olimpiade yang ada. "Mereka harus mengubah dan memperketat peraturan mereka.  Saya muak melihat taktik walkover yang sering dilakukan saat terjadi pertandingan antarsesama pemain China."
"PBSI harus bekerja lebih keras lagi untuk mencari pemain-pemain berkualitas. Budaya yang sekarang berkembang harus segera diubah.