Tampilkan postingan dengan label Sekedar Intermezo (Curahan Hati yg PTG gPTG). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sekedar Intermezo (Curahan Hati yg PTG gPTG). Tampilkan semua postingan

Sabtu, 30 Agustus 2014

Just A Weird Transactional Negotiation between Two 'Compossers'



Well oh well, while waiting for official announcement of another super transfer this season as we did at the very end of last summer transfer, I just wanna calm myself with this super weird conversation (please people, don’t be that serious with this one in order to let you afar from long term stress and huge disappointment if the transfer couldn't be occurred yet by this summer ;p). So guys, here it goes: 



Wenger          : Hey bro, what are you waiting for? Please give him to us soon.
Klopp            : Ah, be patient a little bit more my big brother!
Wenger          : Come on, man, the transfer window is going to an end very soon.  And we lost some players for a moment due to injury.  We need another player to support the existing squad so badly.
Klopp            : Easy brother, easy.  I just need the confirmation from United to let our ex-player reunite with us at Singnal Iduna Park.
Wenger          : Oh, then, should I ask Louis to make the process faster then?
Klopp            : I think that’s a good idea. The faster he proceeds his move, the faster you’ll get the boy that you want so so desperately.
Wenger          : Ha ha. What a ‘bad’ boy you are.  You will never regret it, man.  Just think of it as your investment if you someday will come here to replace me.
Klopp            : Me? Replace you, sir? What an honor.  But firstly I have to fix things first here.  I need to strengthen my precious team before leaving it to another manager’s hand.
Wenger          : Easy man, easy.  Take your time. I still have some years here to pay off the 8 years without nothing by at least 8 trophies or more before retired as manager and enjoy my life doing vacations.
Klopp            : Vacations sound good to a man in your age.  Well, good luck, big bro! It’s very nice to have business with you.
Wenger          : My pleasure. Wishing you and your team are lucky too.  
Klopp            : Oh ya, let’s do our best when we meeting up later at UCL’s group stage.
Wenger          : Yes, of course we should. Let’s meet up again at the top stage of that competition…with your boy with us for sure.
Klopp            : Oh man, come on, that will never been easy for everyone, especially us and our supporter to see him against us.  But, let’s see. It’s all up to him to decide whether he’ll stay or move.
Wenger          : Let him be part of us as he wishes. I already told you, you’ll never regret it. And, please take it into your own consideration to join us sooner or later.
Klopp            : Yes, sir, I’ll take that into my personal consideration. By any chance, is there any possibility to take another player instead of him? I think you understand my situation. He is one of our key player, he means a lot to us, to the team and the supporter. Letting him move will create a big missing for us. I hope you could understand.
Wenger          : I did understand your position and the situation.  But believe me he'll move now or lately at the end as happened to many of my ex-boys. In addition, I admired him a lot for long time and I just think now is the right time to ask him help us. 
Klopp            : Well..hopefully we'll get win win solution for him and for us.
Wenger          : Thank you, nice to have a talk with you.
Klopp            : My pleasure, sir.

(Easy people, easy.  It’s very nice if it’s finally being real.  However, if it is not yet, let’s hope it’s going to be realized as soon as possible. *wink*)

Senin, 18 Agustus 2014

#RandomPost: A #RandomWish

Hi you readers, welcome back to my #random posting! hehe. 

Here are several things that come up to my mind recently (and of course randomly) that will be so so so good to be true…

1# The landing of Reus (along with Hummels or Khedira or any CB/DMF) to Emirates by the end of this (2014/2015) summer transfer.

2# The possibility of having another unbeaten season for the Emirates lads now on.

3# The possibility to accelerate the number of trophies at Emirates (that had been absent for almost a decade) by this season (more than two, hopefully).

4# INA to secure at least 3 titles in both 2014’ Badminton World Championship and Asian Games (MD, XD, and WD and/MS).

5# The wedding of Lee Jun Ki – Shin Min Ah in real life (along with Kang Dong Won – Song Hye Gyo and followed by Lee Seung Gi – Han Hyo Joo) (super #randomwish, right? it’s just my wish anyway, yeah at lest they got together again on screen very soon a.k.a having project together again! ;p)

6# Me my self can let everything go and restart my ‘new life’ by next year.

7# Still thinking about it ................




Selasa, 03 September 2013

My Passion, My Profession #1

Saya baru sadar bahwa saya telah jatuh cinta dengan dua aktivitas yang kelak bisa jadi menjadi profesi yang saya tekuni…

A Passionate & Professional Translator (To Be)

Beberapa pekan ke belakang, tepatnya 10 hari jelang 1 Syawal 1434 H, saya secara resmi mengerjakan project terjemahan lagi setelah sekian lama (entah berapa bulan, tidak sampai menahun kok ;p).  Tanpa banyak negosiasi apa pun di muka, kecuali durasi (saat itu saya tengah disibukkan dengan project lain yang cukup menguras fikiran, akhirnya muncullah kesepakatan deadline: 2 pekan.  Belasan lembar, Indonesia-Inggris, tema terjemahan seputar cabang ilmu pengetahuan sosial membuat 2 pekan itu dinilai proporsional. 

Pekan pertama berlalu begitu saja, karena ternyata di hari-hari menjelang 1 Syawal yang saya fikir waktu saya relatif fleksibel, eh malah sama hectic-nya seperti 2 pekan sebelumnya.  Bahkan hal ini terjadi hingga malam takbiran!  Esoknya, lebaran, dan sehari setelahnya sungguh bukan waktu yang kondusif untuk mengerjakan sutu project.  Mood lebaran itu ya mood bercengkrama dengan hangat bersama keluarga besar, berkunjung ke sana ke mari, icip-icip kue lebaran, syukur-syukur masih masuk list penerima angpao.   Akhirnya pekan pertama dari deadline 2 pekan pun berlangsung sama sekali tidak efektif.

Pekan kedua di depan mata. Oke, bagaimanapun sebagai seseorang yang mencoba profesional saya harus patuh pada ‘kontrak’ 2 pekan yang disepakati di awal.  Niat sudah  100% (hanya belum sampai 200%), tapi selalu ada ini itu sehingga -2 hari awal kinerja penulis baru mencapai sekitar 20%-nya saja.  Suasana libur lebaran yang (masih) didukung kehadiran sanak famili di rumah juga sedikit banyak mempengaruhi.  Hingga puncaknya adalah rencana bepergian ke luar provinsi bersama keluarga inti untuk mengantar kepulangan adik saya ke kota tempatnya menimba ilmu sekarang: suatu kota di tengah-selatan pulau Jawa.  Celakanya, saya selalu tak kuasa menafikkan pesona kota tersebut, saya selalu larut dalam godaan-nya.  Lebih celaka lagi karena jarak tempuhnya yang mencapai seharian.  Baru 20% lho!  Belum lagi saya ini terikat komitmen moral terhadap diri saya dan kedua orang tua saya yang mengeluarkan status tahanan kota pada saya yang belum kunjung menuntaskan studi sarjana-nya.  Dengan sedikit kompromi yang tidak alot-alot amat, akhirnya saya dan orang tua saya (yang syukurnya tidak terlalu strict dengan aturan yang dirancang mereka sendiri) mencapai kesepakatan dengan embel-embel: syarat dan ketentuan berlaku.  Persis seperti pembelaan saya terhadap status tahanan kota saya pada keduanya (like parents, like child ;p).

Dengan segala kemungkinan resiko dan konsekuensi atas pilihan sadar saya untuk plesir ke luar provinsi yang cukup memakan waktu di tengan deadline project, saya memantapkan hati untuk menjalankan keduanya dengan seimbang.  Ya, ada resiko-resiko yang mau tidak mau saya tempuh, seperti: membebani tas cangklong dengan notebook beserta baterai-nya, bergadang selama beberapa malam, menjadi satpam di kontakan adik (yang kami inapi saat itu) tatkala seluruh rombongan disibukkan dengan tur keliling objek wisata di sekitar kota tersebut.  Ya, sedari awal, saya sudah berusaha menjaga komitmen untuk ikut-demi-menikmati-suasana-kotanya, bukan ikut-demi-menikmati-objek-wisata nya.  Jadi, all is well for me, sekalipun harus stay home seharian. 

Kembali ke project saya *ala mr. 4 mata*.  Di sanalah waktu yang saya manfaatkan maksimal untuk merampungkan 80% dari total 100% porsi project saya.  Dengan semangat ‘man jadda wa jada’, saya kerahkan seluruh kekuatan dan kemampuan saya demi menjaga etika professional-to-be saya.  Dengan berbekal sebatang modem milik adik yang alhamdulillah sekali kuota nya masih bersahabat untuk diajak bekerja siang-malam, pagi-sore *ala restoran padang di rest area—halah*, alhamdulillah beberapa hari di sana project saya sudah menyentuh angka 80%.  Alhamdulillah yang diteruskan dengan astaghfirulloh…masih 20% to goDeadline semakin mendekat, jadwal pulang pun sudah di depan mata: alamak..ya masakan saya harus mengerjakan project ini di mobil? Waktu kami pulang itu sore, artinya perjalanan malam! Hey, can I make it effectively? I guess not!  

Di tengah kepenatan oleh deadline yang disokong kelelahan karena begadang dan bercengkrama dengan layar notebook sehari-semalaman, tiba-tiba muncullah ‘hidayah’ dari si empunya project.  Beliau (oke, si empunya project ini jauh lebih senior dan berpengalam dari segi keilmuan nya dari saya, hanya sepertinya beliau sedikit bermasalah dengan bahasa, makanya …) dengan penuh kebijaksanaan memberikan ‘injury time’ untuk project yang saya kerjakan ini selama 2880 menit (baca: 2 hari).  Itu rasanya ALHAMDULILLAH sekali, setidaknya bisa saya bereskan saat sudah tiba kembali di kota yang sudah saya tinggali sedari brojol ke dunia ini.  Saya rasa beliau menangkap radar-lebaran sehingga akhirnya memberi sedikit kelonggaran pada deadline, sesuai lah dengan jatah tanggal merah di kalender *hihiw*. 

Dan…alhamdulillah, tepat sehari sebelum peluit deadline ditiupkan, project yang saya kerjakan sudah terdaftar di sent item e-mail saya.  Rasanya itu legaaaa.  Meskipun sempat merasa terbebani dan keteteran saat mengerjakan 20% pertama, di fase 60% untuk menggenapi menjadi 80% saya, sekalipun hampir bekerja sepanjang waktu, ternyata amat menikmati apa yang saya kerjakan.  Yang sedikit mengganggu hanya rasa lelah dan pegal yang sesekali mampir.  Tapi, di luar itu, all is well *again*.  Everything is running well in its own path.  Tanpa sadar saya sudah melibatkan hati saya terhadap project ini sehingga hambatan-hambatan seperti technical terms dan lain-lain bisa diatasi dengan…cukup tenang.  Meskipun terkesan terburu-buru, tapi saya mengerjakannya dengan seksama kok, dengan mengacu pada banyak sources yang tentu saja relevan dengan topiknya.  Special thanks to mr. google for the journal link, serta kamud digital to help me in checking the correct words in term of its context.  And also for my sister’s modem, and last but not least for my beloved notebook that was strong enough to fight night and day. Thanks all! :*


What I’m actually trying to say (baca: INTINYA), selama dalam proses pengerjaan project yang bisa saya kategorikan sebagai titik balik untuk karier profesional saya ke depannya ini (bahasa gaulnya: project ini telah membantu mendewasakan saya—menuju tahap yang lebih profesional), saya sadar betapa sebetulnya saya mencintai aktivitas ini.  Saya rasa ini ada passion terselubung yang jika diasah terus dan diseriusi bisa menjadi sesuatu dalam rekam jejak kehidupan saya.  Dan karena kecintaan saya ini pula yang sepertinya merontokan keraguan dan beban di awal.  Well, nampaknya yang paling pas mewakili gambaran kisah di atas itu lirik lagu kemenangan-nya mbak Joy Tobing “Semua karena cinta, tak mampu diriku dapat berdiri tegak, terima kasih cinta”.  So, to make all is well we need to do it with passion that comes up because of love. And thanks GOD to make me realize that I do love translating activity so well. #IMO

Sabtu, 31 Agustus 2013

Radar (Oktober) Desember: COME ON YOU (GO), GIRL!

Kemarin adalah hari dimana saya seperti diberi sinyal-sinyal (melalui serangkaian kejadian-kebetulan) untuk segera menuntaskan apa yang seharusnya saya tuntaskan…

Saat saya mengunjungi suatu gedung di kompleks kampus tempat saya belajar, betapa saya merenung bahwa apa yang harus saya tuntaskan ini sebenarnya tak lebih dari perkara ruang sekian kali sekian meter.  Di sanalah urusan saya, sebegitulah lingkupnya.  Ngeri saya ketika membandingkan dengan luasnya bidang di luaran bidang itu yang memang terlamau sering saya sambangi, melebihi dari intensitas kunjungan saya ke ruang sekian kali sekian meter.  Faktatersebut menggiring saya pada satu simpulan dalam bentuk pertanyaan “jika masalah sekian kali sekian meter saja saya sudah kewalahan begini, ya apalagi persoalan di ruang yang tak terbatas itu”.

Sesaat setelah saya meninggalkan gedung berukuran sekian kali sekian meter menuju gerbang depan kompleks berukuran puluhan bahkan ratusan kali lipat dari ruangan di satu gedung yang baru saja saya tinggalkan tadi, saya berjumpa dengan dua orang kawan seperjuangan yang masih sama-sama bergelut demi menuntaskan studi sarjana kami (fokus saya adalah ke bagaimana menyelesaikan, bukan bagaimana meraih gelar).  Setelah cipika cipiki dan berbasa basi, sampailah pada pertanyaan wajib bagi mahasiswa smester 8 plus plus seperti kita: ya apalagi kalau bukan seputar mega proyek nya mahasiswa tingkat akhir.  Seputar topic dan sudah sampai mana, all is well.  Tapi, pas topik mengacu ke siapa dosen pembimbing, dengan lempeng seorang dari mereka berkata “enak, lulusnya bisa cepet itu mah” santai, malah mungkin ada kesan “kenapa gak gue aja sih”.  “Jleb!” dalam hati sambil mengutuki diri sendir “kan..hampir semua orang ngomong serupa, dasar elu nya aja, girl, dasar!.  Sambil terkekeh saya jawab” Iya, dosennya enak, cepet, mahasiswa nya nih yg lama..hehe”.  Karena sedang sama-sama buru-buru akhirnya percakapan pun diakhiri dengan sayonara, saya naik angkot, mereka nyebrang, memasuki kompleks ratusan kali ratusan meter yang baru saja saya tinggalkan.  Sempat tertangkap sedikit keheranan mereka saat saya terkekeh.  Ya, akhirnya saya pun makin mengutiki diri sendiri “ampun deh ye, dasar mahasiswa kurang pandai bersyukur!”

Belum berhenti sampai di situ.  Saya rasa Tuhan sedang ingin menunjukkan kasih sayangNya dengan teguran-teguran sepele namun jleb banget semacam apa yang saya alami ini.  Belum lama menenangkan diri dalam angkot, eh surprise lain menghampiri saya.  Tetiba naik dua orang-yng-besar-kemungkinan-adalah-mahasiswa.  And yes, they are!  Mahasiswa baru malah.  Lebih tepatnya baru kembali lagi menyandang gelar mahasiswa (uyeah).  Saya yang sudah bermata empat ini baru bisa mengenali dengan jelas kedua sosok ini saat keduanya sudah duduk manis di kursi 7 pas di belakang supir, besebrangan dengan saya yang pas di dekat pintu di kursi 5. Setelah saling bertegur sapa dan mengobrol sedikit banyak tahulah saya mengapa mereka sudah kembali ngampus. Keduanya rupanya tengah dalam persiapan memulai tahun ajaran baru dengan kembali berstatus mahasiswa.  Kali ini mereka tengah berjuang menempuh gelar master.  “Pak!” rasanya dsemacam ada sesuatu yang menampar dada dan meninju otak “hello…orang tuh ya udah mau wisuda kedua kali, ini sekali aja oalahhhh…lamanyoo!” entah bisikan yang muncul darimana.  Mau tidak mau fakta ketiga ini semakin bikin saya sakit kepala di satu sisi, namun semakin memotivasi juga supaya tidak sampai didahului wisuda oleh para ‘mahasiswa baru’ tersebut. 

Intinya sih dari ketiga kejadian di atas adalah muncul satu bisikan yang kuat sekali ke dalam benak dan hati saya yang tanpa henti mendengung dengan kerasnya berbunyi : “COME ON YOU GIRL!”

Semoga, ini benar teguran sebagai bentuk kasih-Nya pada saya yang sering lalai dan cenderung bermalasan.  Dan semoga ke depan saya bisa mengejar target menuntaskan misi yang rada impossible yaitu tuntas tahun ini, yang artinya hanya menyisakan maksimal 2 bulan lagi.  Oh, yes, semoga semangat “Come On You Girl” ini bisa menghantarkan saya menjalani dan menwujudkan mission possible saya ini.  Demi kebahagiaan orang-orang di sekitar saya, dan demi keberlangsungan agenda dan taggung jawab saya yang lain-nya dengan bismillah COME ON YOU (GO) GIRL! 

Sabtu, 24 Agustus 2013

Becoming Third Person is No More!

After some times, finally, I’m blogging again! Welcome (back) to me! Nice to see you again, readers… well, this time I’m going to share what I never want to do again after this: becoming the third person! It’s really killing me.  How can’t it be since I need to be a liar by the first person in order to make second person forced to accept the case.  What a tiring activity to get so many unanswered calls by the first person.  While, the second persons keep asking massively something that I, as the third person, originally knew nothing.  It’s more than only physical tiredness, but it’s also really mentally tiring.  Maybe I’m too much to exaggerating this problem.  But, actually I just wanna focus on what I have to learn from that condition as follows:

Becoming a superior person is much more advantageous that becoming an inferior who is so freely to be asked for doing something by the inferior. 
Becoming a professional lobbyist , although is quite interesting, is not a simple thing, especially to person who is not used to lie easily to another person.
Becoming a professional one, in my personal opinion, needs to serve all people professionally and equally without discriminating them based on the quantity-oriented only (even though that is important, for me personally, people trust and satisfaction as the basic of quality standard are much more important).
Becoming an honest person is sometimes so tiring, but it always end, happily or even sadly.
Becoming vertical-oriented is much more valuable, than horizontal-oriented that will never find an end.

Hopefully you also can learn all the things above when you find your self is in the similar condition as I found once.  Personally, I have no regret to have such thing as I shared above.  However, I’m going to think twice if I asked to be the third person again since I’ve experienced it once so that I knew how it works.  My last word is that as my motto to not regretting anything we did, but made it as our experience.

That’s all the things that I can share with you all guys this time. See you in the next post!

p.s.: do not worry readers because I’m going to keep blogging regularly (again) from now on.  So, keep waiting for my next post, ya! See you again very soon! <3 o:p="">



Selasa, 09 April 2013

Balada Anak Perempuan Tertua (di Awal 20-an)



“Sok aja kamu pilih: mau lulus dulu atau nikah dulu!” begitulah penawaran yang sekonyong-konyong ibu saya berikan.

Dalam hati saya hanya menghela nafas panjang.  Tentu kalau memang itu adalah tawaran yang berujung pilihan yang mesti saya pilih ya saya tahu pasti jawabannya adalah yang pertama.  Kenapa? Ya karena memang itulah prioritas saya saat ini.  Memang sih beberapa tahun ke belakang saya juga mempunyai hasrat untuk menikah di usia muda, tapi tetap dengan satu syarat prinsipil: terlaksana setelah saya lulus, paling tidak beres sidang.  Nah, kalau ternyata hingga saat ini skripsi saya pun masih tertahan di bab-bab awal, ya tentu saja hasrat menjadi pengantin muda pun mesti dienyahkan dahulu.  Paling tidak sampai studi sarjana saya tutup buku. 

Dan jika ternyata ibu saya malah sudah menyibukkan diri dengan pertanyaan ‘kapan-ya-kita-menikahkan-si-teteh-?’ setiap habis menghadiri pernikahan saudara atau anak kolega-koleganya atau Bapak, saya sih belum begitu khawatir.  Toh, masih sebatas pertanyaan-pertanyaan dengan level sindiran sedang, tingkat paksaan atau tuntutan hampir tidak ada.  Lagipula, secara pribadi ya syukurnya bahwa hari ini saya masih bisa menjadikan studi saya yang belum beres sebagai tameng.  Ahh..jadi teringat seorang teman yang berkisah kalau ia sengaja menunda menuntaskan studi demi mengantisipasi banyaknya ‘proposal’ yang ditujukkan pada orang tua-nya. 

Bersyukur juga jika ternyata sampai hari ini sekalipun saya banyak berada di lingkungan yang mendukung untuk dipertemukan dengan calon pendamping hidup saya kelak, namun belum pernah ada yang benar-benar nyantol.  Adapun beberapa orang yang saya kagumi (baca: kecengan), tidak sedikit diantaranya yang kini sudah menikah.  Dan, kembali, bagi saya itu adalah cara Tuhan untuk tetap menjaga hati saya hingga tiba saatnya saya dipertemukan dengan seseorang yang sudah ditakdirkan-Nya untuk dipasangkan dengan saya.  Kini, harapan saya adalah supaya waktu untuk masa indah itu tiba ya paling tidak setelah prioritas saya di tahun ini terlaksana. 

Untuk alasan-alasan itu lah saya tidak akan gentar dan merasa tersudut ketika topik pembicaraan sudah mengarah pada topic seputar pasangan hidup.  Terus terang bukannya hendak masa bodoh, tapi saya hanya ingin fokus pada prioritas saya dulu saja.  Tidak ada salahnya memang menyambil.  Namun bagi saya hal-hal berkaitan dengan pasangan hidup ini bukan hal yang sederhana.  Butuh kesiapan mental terutama untuk itu.  Dan saya rasa mental saya belum begitu siap. Banyak sih contoh kawan-kerabat saya yang juga menikah di usia muda, dan masih kuliah, dan lancar-lancar saja.  Tapi tolong diingat lain mereka, lain saya kan.  Terbukti, terbentur dengan organisasi saja dalam pandangan orang tua saya, saya ini sulit fokus, apalagi dengan hal sebesar pernikahan.  Dan, sekali lagi, itulah yang saya yakini sebaga jalan Tuhan bagi saya.

Pada akhirnya, menikah dan pernikahan adalah hal yang jadi impian hampir semua orang termasuk saya.  Namun saya termasuk yang percaya bahwa semua ada masanya.  Dan itu bagi saya bukan dalam waktu sekarang-sekarang ini.   Jadi, jangan mencoba mengintimidasi saya dengan dengan pertanyaan seputar topik tersebut yang mungkin bisa saja sensitif, tapi ya belum akan menyiksa hati dan pikiran saya paling tidak hingga sukses menjalani sidang.  Lastly, for my beloved mommy, trust me that I’ll have finished my study in this middle year and please pray for me to let it be true.  And I promise you when the great and possible opportunity come to me, I’m going to make your dream about me comes true. J

Kamis, 07 Maret 2013

The Confession of Future Educator




Menjadi seorang pendidik itu tentu saja bukan suatu pekerjaan yang mudah.  Mudah sih kelihatannya, namun praktiknya tak semudah kelihatannya.  Mendidik itu tidak sama dengan mengajar.  Jika mengajar lebih menitikberatkan pada bagaimana proses transfer ilmu pengetahuan supaya siswa dari tidak tahu menjadi tahu, hanya sampai di sana.  Maka mendidik tidak berhenti di sana saja, tetapi lebih jauh juga bagaimana menanamkan nilai moral pada diri siswanya.  Contoh sederhananya paling tidak bagaimana seorang pendidik bisa membuat suasana kelasnya kondusif tanpa harus membuang tenaga demi memarahi siswanya supaya diam.  Atau bagaimana seorang pendidik bisa mengerjakan hal lain semisal merekap nilai dengan tenang kala siswanya mengerjakan ulangan karena percaya bahwa para siswanya berlaku jujur.

Nah, kalau diinternalisasikan ke dalam diri penulis, penulis sih merasa belum berhasil untuk ada di level pendidik.  Bukan tidak berusaha, tapi sejauh ini nampaknya usaha (yang bisa jadi belum seberapa keras ini) tersebut masih tak kunjung berbuah hasil yang manis.  Ya bagaimana, indikasi nyatanya kapan pernah penulis keluar kelas dalam keadaan tenggorokan yang baik-baik saja? Rasa-rasanya belum pernah.  Meski tidak sampai marah-marah (karena memang tidak bisa dan tidak tega marahin anak orang), tetapi minimal penulis masih harus teriak-teriak di kelas demi membuat atmosfer kelas menjadi kondusif (baca: mendiamkan siswa).  Dan setelahnya…masih ditawari gorengan pula oleh mereka (do you get what I mean?).

Penulis sih awalnya merasa kalau siswa nya yang kurang kooperatif.  Tapi semakin lama, semakin sering, semakin dievaluasi…fix faktor penulis-nya yang justru bermasalah.  Terutama sebagai organisator, mangacu pada kondusivitas kelas, penulis merasa tingkat kegagalannya 90%.  Alat ukurnya yaitu saat penulis mengajar di kelas lain yang dari hasil survey beberapa rekan yang juga sempat mengajar di kelas tersebut dikategorikan sebagai kelas yang paling tenang, lho kok ya malah (jadi) ribut pas sama penulis.  Kok iso mereka santai aja makan minum di depan penulis.  It clearly indicates something wrong with me. 

Berkaca dari sana, banyak sekali PR yang harus penulis tuntaskan guna betransformasi menjadi pendidik yang baik.  Sampai hari ini saja bahkan menjadi pengajar yang baik pun penulis masih sangsi.  Makanya selalu ada perasaan bersalah setiap penulis keluar dari kelas.  Apalagi saat para siswa meminta penulis yang saat ini hanya berstatus sebagai tenaga pengajar pengganti saban dua mingguan ini untuk menjadi pengajar tetap.  Terlepas dari motif  mereka yang beragam (sebagain besar lebih karena atmosfer tegang yang terbangun dengan staf pengajar aslinya), bagi penulis menjadi pengajar tetap adalah beban moral tersendiri untuk saat ini.  Memang, pada akhirnya skill mumpuni dan jam terbang sangat memegang peranan penting di sini. 

Sebagai ‘orang baru’ dalam dunia pengajaran masih banyak hal yang belum dan harus penulis kuasai dan atasi.  Bukan semata deg-degan, bukan.  Perasaan itu sudah sangat lama bisa diatasi.  Ini lebih kepada perasaan bersalah saja, terlebih ketika kita hadir tanpa persiapan yang matang.  Rasanya adalah sebuah penghianatan kepada mereka yang terlihat sungguh-sungguh menyambut kehadiran kita (ya mungkin juga karena berjumpa dengan kita berarti terhindar dari ketegangan dengan pengajar aslinya).   Sekali lagi, apa pun modus mereka, yang jelas penulis selalu yakin ada diantara mereka yang memang mencintai dengan tulus mata pelajaran ini dan selalu menantikannya dengan antusias.  Dan merekalah yang tentu paling kecewa pada akhirnya dengan semua keterbatasan penulis.  Maaf..itu saja mungkin kata yang bisa penulis utarakan di sini.  Maaf belum bisa menjadi fasilitator yang baik.  Maaf belum bisa menjadi penyampai yang jelas.  Maaf belum bisa menjadi contoh panutan. 

Akhirnya, saat ini hanya kata maaf saja itu yang bisa terucap.  Ke depannya, penulis berjanji akan terus berusaha dan belajar demi menjadi pendidik yang baik.  Pendidik ya, bukan sekedar pengajar.  Mudah-mudahan gak keluar kelas dengan tenggorokan yang gatal dan suara parau lagi.  Ya, kalaupun tidak berakhir di ranah pendidikan formal (sejujurnya, kurang tertarik bergelut di sini), minimal kan bisaditerapkan kepada anak cucu kita nantinya.  Yang jelas, bukan sengaja tidak memberikan yang terbaik, namun nampaknya usahanya masih harus ditingkatkan.  Sekali lagi, betul bahwa mendidik itu bukan suatu pekerjaan mudah, namun bukan berarti mustahil.  Dengan kesungguhan dan kerja keras dijamin kelak bisa terwujud.  Salam sukses untuk kita semua ya. :)

p.s: artikel ini dipersembahkan secara khusus sebagaipermohonan maaf untuk mereka yang merasaterkhianati antusiam-nya terhadap pelajaran yang sapenulis bawakan...