Tampilkan postingan dengan label BADMINTON..muachh..muachh ^^. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BADMINTON..muachh..muachh ^^. Tampilkan semua postingan

Jumat, 03 Agustus 2012

Tragedi London 2012: Ketika Bulu Tangkis Indonesia Berada di Titik Nadir


SELAMATKAN BULUTANGKIS INDONESIA!

“Prestasi Angkat Besi dan Aib Bulu Tangkis”

#MiriSedih membaca judul satu tayangan programdi salah satu TV Berita swasta.  Iya di satu pihak sebagai penggemar olah raga netral dan rakyat Indonesia penulis harus sepakat bahkan tersenyum simpul ketika membaca judul tersebut di lama mikroblogging; tapi sebagai pecinta dan pengikut kejuaraan bulu tangkis (khususnya atlet tanah air) penulis erasa itu JLEB BANGET, nusuk BGT sampe ke tualng-tulang!  Iya, gimana bahasanya aib, yang mungkin itu pun sudah salah satu istilah yang diperhalus..

Kekalahan Owi/Butet atas Xu Chen/Ma Jin seharri setelah insiden diskualifikasi Geysia Polii/Meiliana Jauhari seakan menggenapkan keapesan PBSI.  Hasil ini sebetulnya hanya pelengkap dari serangkaian prestasi minor yang ditorehkan para pemain Indonesia di berbagai ajang dan level kejuaraan pada era kepengurusan PBSI di bawah pimpinan yang sekarang *ogah sebut merek*.  Karena sebenarnya tanda-tanda ketidakberesan ini telah terlihat jauh sebelumnya, semenjak pemecatan dan pengunduran diri atlet papan atas dari PBSI, dua ajang Indonesia Open, Final Super Series, hingga yang masih hangat tentu saja kegagaltotalan tim Indonesia di ajang bergengsi Thomas-Uber Cup.  Sudah tim Uber hampir-hampiran tidak lolos ke babak utama, ehh..Tim Thomas untuk pertama kalinya sepnjang sejarah gagal melaju kefase Semi Final.  Masalahnya dimana? Pemain? Pelatih? Atau di pembinaan dan pengurus?

Jarang sih yang menyudutkan pemain dan pelatih karena ya bagaimanapun prestasi mereka selain berasal dari skill individu dan motivasi pribadi yang bersifat internal, juga mesti ditunjang oleh dukungan dari factor eksternal semisal pembinaan yang baik (regenarasi dan peningkatan jumlah jam terbang), perhatian yang mumpuni (dalam hal ini terutama fasilitas fisik dan jaminan kesejahteraan baik di dalam maupun luar kompetisi).  Oke, pemain pun ada andilnya terutama dari segi mental dan stamina.  Ini dua PR utama yang sekaligus jadi momok bagi kebanyakan atlet kita.  Kan tidak jarang sudah unggul jauh bisa terpangkas bahkan beberapa kali terkejar oleh lawan, hal yang rada mustahil dilakukan oleh atlet kita.  Nah, tapi balik lagi, pengurus juga berperan besar dalam membina mental dan fisik pemain.  Caranya? Digenjot lewat berbagai program latihan misalnya. 

Sekarang kalau para pengurus berdalih, sudah…sudah…nah, buktinya mana? Kan bukan sekali dua kali ketika gelar sudah di depan mata musti terlepas begitu saja karena kalah stamina sampai poinnya ketinggalan jauh di set ketiga, aatu bahkan memberikan poin percuma setelah banjir error dalam kondisi tertekan.  Kalau saja PBSI berbesar hati untuk berbenah diri setidaknya tidak egois dengan hanya mementingkan diri sendiri sehingga enggan melepaskan dii dari jabatan pengurus dengan hasil minor betubi-tubi, mungkin target mempertahankan tradisi emas bisa saja terwujud.  Tapi, mungin kegagalan dan kasus ini di sisi lain memberikan hikmah tersendiri yakni agar masyarakat sadar bahwa olah raga kebanggannya kini tengah berada di titik nadir.  Dan, lebih jauh kesadaran masyarakat ini mendorong gelombang ‘masukan’ bagi PBSI agar segera melakukan evaluasi besar-besaran.  Dan, yang terpenting jangan sampai evaluasi itu hanya berhenti di tahap sekedar WACANA.

Kita, masyarakat negeri ini, sudah terlalu lama dibiarkan kecewa, menanti prestasi yang tak kunjung membaik.  Memang dalam sejumlah event masih ada saja atlet kita yang mengharumkan nama bangsa, seperti pasangan Ow/Butet yang berhasil mengakhiri paceklik gelar All England.  Tapi, kalau dirunut lagi itu memang sudah dasar atletya mumpuni, bukan semata-mata kesuksesan PBSI.  Toh, beberapa kali terungkap adanya keluhan mengenai minimnya fasilitas dan lain-lain dari para penghuni Pelatnas Cipayung.  Sampai kapan kita dibiarkan menunggu untuk lagi-lagi dikecewakan kesekian kalinya? Ayolah, wahai para pengurus PBSI yang terhormat, jangan egois.  Yuk, evaluasi sejauh mana keberhasilan kinerja Anda-Anda.  Toh, PBSI ini bukan parpol yang meti dimonopoli.  Jika sudah tak sanggup, tolong berikan kesempatan pada yang lain untuk mengurusinya.  Ya, siapa tahu dengan begitu akan ada pencerahan bagi Bulu Tangkis Indonesia.  Akan ada kebangkitan kembali dari cabor yang tengah berada di titik nadir ini, nama Indonesia kembali disegani di kancah bulu tangkis internasional.  Semua itu bisa terwujud jika ada sinergisits antara para pengurus, atlet, pelath, pemerintah dan tentu saja masyarakat Indonesia itu sendiri.  Tapi, PBSI, sekali lagi itu dimulai dari organisasi yang Anda naungi.  Jadi, yuk, lakukan pembenahan dan bahkan (jika perlu) perombakan total, demi bulu tangkis Indonesia yang lebih baik. STOP WACANA, IT’S ACTION TIME! 



 

 




Senin, 18 Juni 2012

Final DIOSSP 2012


Tidak terasa Indonesia Open 2012 ini telah mencapai puncaknya.  Diwarnai berbagai kejutan sedari babak babak awal dengan bertumbangannya sejumlah unggulan, comeback-nya Sonny Dwi Kuncoro, dan kesuksesan para pemain yang mesti berlaga dari kualifikasi menembus babak semifinal,  dan kesuksesan pemain unggulan menghentikan langkah unggulan pertama.  Setelah melalui berbagai pertarungan sengit di setiap babaknya, sampailah Indoneisa Open ini pada puncaknya.  10 pemain dari 6 negara berlaga di final kejuaraan yang memperebutkan total hadiah US$ 650.000 ini. 

China, sekalipun banyak pemain unggulannya yang berguguran masih mendominasi dengan menempatkan empat wakilnya masing –masing di Ganda Putri (Wang Xiaoli/Yu Yang dan Qian Ting/Zhao Yunlei), Tunggal Putra (Du pengyu) dan Tunggal Putri (Li Xuerui).  Tuan rumah, Indonesia, menyusul dengan dua wakilnya di Ganda campuran (Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir) dan Tunggal Putra (Simon Santoso).  Empat negara lainnya masing-masing menempatkan satu wakilnya, mulai dari India dengan Saina Nehwal-nya (Tunggal Putri), Korea menempatkan Jung Jae Sung/Lee Yong Dae (Ganda Putra),  Denmark diwakili Mathias Boe/Carsten Mogensen, serta Thailand dengan duo Sudket/Saralee (Ganda Campuran).

Satu gelar di Ganda Putri sudah dipastikan jadi milik China setelah berhasil menciptakan All-China-Final.  Dan bisa jadi koleksi gelarnya bertambah hingga tiga melalui Li Xuerui dan Du Pengyu  di sektor Tunggal Putra dan Putri.  Tapi, tunggu dulu, keduanya ditunggu oleh pemain yang tidak sembarangan. Li Xuerui ditantang juara Indonesia Open 2009 dan 2010, sementara Du Pengyu dinanti andalan tuan rumah, Simon Santoso, yang sudah haus gelar sejak berpuasa sejak 2010 lalu.  Di dua partai lainnya juga akan tersaji pertarungan yang tak kalah seru.  Mathias Boe/Carsten Mogensen yang tengah kembali on fire mesti menghadapi ganda Korea yang konsisten performanya sepanjang tahun ini, Jung jae Sung/Lee Yong Dae.  Sedangkan partai terakhir mempertemukan ganda unggulan tuan rumah, Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir dengan Sudket/Saralee.  Secara statistik pasangan ini menang di tiga pertemuannya dengan ganda utama Thailand ini.  Akan tetapi meskipun demikian pasangan ini patut diwasapadai karena di perempat final berhasil menghempaskan unggulan teratas Zhang Nan/Zhao Yunlei. 

Berikut hasil lengkapanya…

WD: Wang Xiaoli/Yu Yang (China—1) vs Zhao Yunlei/Qian Tin (China—2)
Pertarungan junior-senior ini berlangsung ketat di awal set pertamas.  Setelah melalui perjuangan tiga set melawan ganda Indonesia, Greysia Polii/Meiliana jauhrai, sehari sebelumnya, pasangan Qian Ting/Zhao Yunlei ini tidak mau begitu saja takluk di tangan seniornya.  Sudah jadi rahasia umum jika pasangan berbeda satu peringkat ini memang terbiasa saling bunuh di turnamen besar mengingat jarang ada pemain yang mampu menaklukan dua pasang ini.  Sempat mengambil alih set pertama 21-17, dua set berikutnya menjadi milik sang senior, Wang Xiaoli/Yu Yang 21-9, 21-13.

MD: Jung Jae Sung/Lee Yong Dae (Korea—2) vs Mathias Boe/Carsten Mogensen (Denmark—3)
Sempat unggul jauh di babak pertama, namun ganda Denmark mesti merelakan set pertama jadi milik Korea 23-21.  Di set kedua, sempat saling menyusul, akhirnya JJS/LYD dipaksa bermain hingga tiga set setelah diungguli Boe/Mogensen 18-21.  Set ketiga sedikit anti-klimaks karena pertarungan yang sempat berjalan ketat akhirnya diakhir dengan skor 21-11  untuk Korea.  Korea pun kembali memenangi sektor ini setelah terakhir meraihnya pada tahun 2009.  Korea pemenangnya, tapi bintang sesungguhnya yaitu LEE YONG DAE!

WS: Li Xuerui (China—4) vs Saina Nehwal (India—5)
Saina mendapat dukungan penuh sejak awal dari publik ISTORA.  Namuan, rupanya sukungan penonton yang membahana belum mampu mengangkat semangat seorang Saina, set pertama pun direlakannya untuk tunggal unggulan keempat asal China itu, Li Xuerui, 21-13.  Li Xuerui seharusnya bisa memastikan gelar kedua bagi China andai saja Saina Nehwal tidak mampu menyamakn kedudukan di angka 20-20 pada set kedua.  Momentum ini justru menjadi titik balik seorang Saina, set ekdua pun akhirnya jadi milik primadona India ini, 20-22.  Set ketiga kembali berlangsung ketat, Saina dan Li sama-sama saling mengejar poin.  Namuns epertinya atmosfer ISTORA lebih berpihak pada Saina, ia pun kembali meraih gelar ketiganya setelah menuntaskan set ketiga dengan poin  19-21.

MS: Simon Santoso (Indonesia—8) vs Du Peng Yu (China)  
Ini dia partai yang paling dinantikan publik ISTORA dan tentu saja masyarakat Indonesia.  Namanya Indonesia Open, tidak lengkap rasanya tanpa kehadiran dan bahkan kemenangan wakil Indonesia di final.  Apalagi, dua tahun terakhir ini Indonesia tanpa gelar di rumah sendiri.  Dan, ya Simon mencoba mencetak sejarah baru.  Tidak tanggung-tanggun dua sekaligus!  Mencatatkan diri sebagai pematah puasa gelar di Indonesia Open, dan yang lebih penting lagi mencatatkan namanya sebagai wakil Indonesia kesepuluh yang memenangkan turnamen ini.

Melawan Du Pengyu yang ulet dan pantang menyerah bukan suatu hal yang mudah.  Meski  ia amsih berada di bawah seniornya macam Lin Dan, Chen Jin,dan Chen Long, nmaun jangan pernah menganggap remeh kemampuan seorang pemain China.  Terbukti, walaupun akhirnya memenangi set pertama 21-18, tapi Simon mesti menghadapi perlawanan ketat sang lawan.  Malah, set kedua menjadi milik Du Pengyu 13-21, kesalahn sendiri yang berulang kali dilakukan Simon menjadi salah satu penyebabnya.  Beruntung, Simon kembali di set ketiga.  Sempat berimang di awal permainan, akhirnya Simon berhasil mengandaskan sang lawan dengan skor 21-11.  Puasa gelar dua tahun pun berakhir.  GREAT JOB, SIMON! We are really proud of you! :D

XD: Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir (Indonesia—3) vs Sudket/Saralee (Thailand)
Partai terakhir yang dihaapkan menjadi klimaks bagi Tontowi/Liliyana.  Mengulang final Swiss dan India Open, banyak yang lebih mengunggulkan tuan rumah.  Selain faktor tuan rumah, faktor unggulan ketiga pun menjadi indikator lainnya.  Menempati peringkat 9 dunia, ganda utama Thailand pun tidak diperhitungkan sebagai unggulan pada turnamen ini.  Namun, rekm jejak mereka hingga menembus final patut diwaspadai.  Keberhasilan kuda hitam ini menumbangkan unggulan pertama sala China, Zhang Nan/Zhao Yunlei tantu merupakan hasil yang lebih dari sekedar biasa, jika tidak mau disebut istimewa.

Kembali ke pertandingan.  Dukungan penuh dari publik ISTORA rupanya tidak langsung tokcer bagi pasangan nomor tiga dunia ini.  Meski berlangsung ketat di awal-awal, pasangan Thailand rupanya tampil lebih dominan dan akhirnya merebut  set pertama 17-21.  Di set kedua, pasangan Indonesia mencoba bangkit dan kahirnya berhasil memaksakan rubber game setelah balik unggul 21-17.  Sayangnya, di set terakhir pasangn Indonesia tidaak mampu mempertahankan keunggulan dan terus tertekan oleh permainan ganda Thailand.  Tertinggal 6 angka, 5-11, di paruh babak ketiga, rupanya terus berlanjut hingga akhir laga dengan skor akhir 14-21 untuk kemanngan Sudket/saralee. Very sweet revenge for Thai! 

5 Gelar, 5 Negara
Dengan demikian, maka lima gelar menjadi milik lima negara berbeda.  Sesuatu yang sangat langksa di era dominasi China hari ini.  Lima dari enam negar ayang berlaga di final ini semua mendapat gelar, kecuali Denmark yang pulang dengan tangan hampa setelah Boe/Carsten dipeccundangi Jung Jae Sung/Lee Yong Dae.  China meraih satu gelar di Ganda Putri setelah menciptakan final sesama pemain China, wajar.  India dengan Saina Nehwal-nya berhasil mengandaskan dominasi China yang menyisakan seorang Li Xuerui di Tunggal Putri.  Indonesia selaku tuan rumah akhirnya meraih gelar setelah absen dua tahun melalui perjuanga seorang Simon Santoso yang mesti bersusah payah menaklukan seorang Du Pengyu di Tunggal Putri.  Terakhir, Thailand mengandaskan mimpi peccinta bulu tangkis tanah air untuk mendominasi final Indonesia Open dengan dua gelar setelah secara meyakinkan menyudahi perlawanan jagoan tuan rumah,  Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir.  Oke, menganut asas keadilan sejahtera bagi seluruh finalis Indonesia Open 2012, ini sepertinya.:p

Berimbang dan Rubber Game
Menariknya kelima gelar tersbut diraih oleh kelimanya melalui perjuangan yang tidak mudah.  Entah berapa liter keringat yang dihasilkan jika diperas dan ditimbang *naon sih #abaikan*.  Pasalnya, kelima partai di Final Indonesia Open 2012 ini semua berkesudahan dengan rubber game!  Dari partai pertama hingga partia kelima!

Hal ini barangkali tidak terlepas dari ketatnya persaingan antar pemain dengan  rangking dan kemampuan setara.  Iya lah, semua yang bertanding di final DIO ini merupakan pemain unggulan kecuali Sudket/Saralee.  Makinmenarik karena ternyata mereka hanya terpaut satu peringkat saja.  Artinya iya secara kemampuan pun tidak ada perbedaan berarti alias setara.  Kan, terkadang ranking itu hnaya masalah seberapa banyak turnamen yang diikuti.  Adapun Sudket/Saralee yang non unggulan, mereka peringkat ke Sembilan kok, naik satu lagi aja, bakal jadi unggulan juga.  Jadi, kualitasnya ya tidak bisa disamakan dengan mereka yang memulai dari babak kulaifikasi (dengan ranking puluhan).

Makanya, gak heran ketika seluruh partai mesti sampai RUBBER GAME.  Ya, emang ketat.  Kalau kata komentatornya “mereka yang berbuat kesalahan sekecil apa pun yang akan kalah”.  Ini sangking sengitnya persaingan diantara para finalis.  Dan bener, sepakat lagi kata komentator bahwa ya inilah final ideal, yang begini, yang berimbang.  Kualitas memang gak bisa dibohongi.  Pemain berkualitas akan menghadirkan satu permainan berkualitas dan memberi satu pertunjukkan yang setara pertunjukkan seni, mengutip kata seorang budayawan asal kota kembang.  Gak rugi dan nyesel deh nontonnya sekalipun bukan Indonesia yang main, kalau semua final kayak di Indonesia Open ini.

STOP PUASA GELAR
Ini nih, intinya, menyudahi puasa gelar.  Cukup ya dua tahun puasa gelar dibayar lunas oleh kemenangan manis Simon Santoso.  Akan lebih afdol sebenarnya jika dua tahun puasa gelar dibayar oleh dua gelar di tahun ini.  Tapi, apalah daya Owi/Butet yang ditargetkan meraih emas Olimpiade London ini mesti mengakui keunggulan Sudket/Saralee melalui pertarungan RUBBER GAME.  Yasudahlah, Owi/Butet toh sudah berusaha, hanya saja memang ganda Thailand sedang begitu on fire, dan sepertinya punya tekad bulat untuk revenge.  Sedikit flash back, pasangan ini dua kali dikalahkan di final Super Series, Swiss Open dan .  Jadi sangat wajar ya kalau mereka ingin membalaskan kekalahan di hadapan publiknya sendiri.  Owi/Butet pun mungkin sedikit terbeban ya dengan harapan banyak orang apada mereka yang digadang-gadang dipersiapkan meraih emas Olimpiade.  ahh…kembali ke pokok pembicaraan, yang penting puasa gelar itu sudah terpatahkan.  Thanks Simon, thanks Owi/Butet, IN-DO-NE-SIA! :D

And, The Real Star of ISTORA is …..
Lee Yong Dae? Mungkin iya sebelum partai final antara Simon Santoso vs Du Pengyu.  Tapi, aa YONGDAE yang sudah sedari awal jadi idola publik ISTORA harus mengakui keunggulan pesona ke-cool-an Simon Santoso setelah mempersembahkan gelar pemupus puasa gelar bagi Indonesia.  Aa YONGDAE memang memesona dan akan selalu begitu dengan kecharmingannya, tapi maaf maaf aja Simon benar-benar stole the whole attention.  Bahkan ya ketidakberhasilan Owi/Butet pun jadi tidak begitu masalah gara-gara Simon *IMO*.  Pokonya hari ini Simon tiada duanya, berhasil juara Indonesia Open sekaligus juara di hatis eluruh masyarakat Indonesia umumnya, khususnya seluruh pecinta bulu tangkis di tanah air dan terkhusus yang nonton langsung di ISTORA.  Nah, khusus buat aa YONGDAE, tenang aja, sekalipun Simon stole your position in that moment, you are always win (in) my heart.  Always. :D

#FAKTAUNIKDIOSSP2012
Gak ada Dominasi China
Stop Puasa Gelar
5 Gelar 5 Negara    
All Rubber Game Final


Kamis, 14 Juni 2012

Djarum Indonesia Open Super Series Premiere


Hajatan terakbar bagai insan perbulutangkisan nasional dan tentu saja internasional digelar selama seminggu ini.  Tempatnya? Dimana lagi kalau bukan ISTORA senayan! *bosen gak sih?*  yap, alagai kalau bukan Djarum Indonesia Open Super Series pake Premiere!  Udah gak mesti dijelasin lagi lah ya apa itu premiere dan blab la bla..googling aja pasti bejibun kok J.  Ada sejumlah misi *kalau banyak kesannya masruk gitu* yang dibawa para atlet Indonesia disini.  Paling tidak dua misis yang diusung: membayar hasil tanpa gelar di rumah sendiri dua tahun berturut-turut dan membayar kegagalan di Thomas Uber Cup.

Akan berhasilkah kira-kira?  Sejauh ini sih masih 50-50.  Kenapa? Karena baru sampai di Round 1 a.k.a babak 32 besar, udah bejubunnn pemain anadalan kalau gak bisa dibilang unggulan Indonesia yang pada berguguran.  Mereka yang non peletnas dan masih muda gak perlu disebutin satu-satu, kebanyakan dan terutama penulis gak pada kenal.  Nah buat pemain sekaliber pemain pelatnas pun ternyata eh ternyata teteup pada banyak yang bergurguran.  Sebut saja salah satu yang paling sulit dipercaya yaitu kekalahan ganda putra nomor 1 Indonesia saat ini, Moh Ahsan/Bona Septano.  Juniornya, Angga/Ryan pun menyusul.  Beruntung masih ada pasangan senior yang sayangnya nbelakangan mulai kurang fokus dan inkonsisten, markis Kido/Hendra Setiawan yang masih bertahan.

Di sektor lainnya, ganda putri muda andalah Indonesia Anneke/Nitya mesti mengakui keunggulan pasangan muda Cina dalam pertandingan yang berlangsung ketat.  Ada lagi Moh Rijal/Debby yang dipulangkan awal oleh pasangan d.  Nah, kalau di sektor tunggal baik putra dan putri sama-sama menyisakan sedikit pemain yang bertahan.  Dan percayakah bahwa diantara yang bertahan adalah Sonny DK yang mengawali DIOSSP ini dari babak kualifikasi dan langsung ditantang Peter Gade di R1. 

Luar biasa!  Di saat beberapa pemainmuda andalan masa depan seperti Tommy Kurniawan dipaksa mneyerah dari sesama pemain non unggulan, ini Sonny yang non unggulan bisa-bisanya mengalahkan Gade yang unggulan kedua!  Di putri, wakil Indonesia di tunggal putri OG nanti, Firdasari, mundur karena cedera saat kedudukan 7-7 melawan unggulan pertama, Wang Yihan.  Selain itu, Lindaweni yang tampil impresif di ajang Thomas Uber Cup beberapa waktu lalu, harus pulang lebih awal, bahkan sebelum masuk ke babak utama.  Masih ada Maria Febe sebenarnya, tapi sayang ia, pemain putri INA satu-satunya yang berhasil langsung menembus babak utama, ternyata tak berdaya menghadapi pemain  muda India.

#Result Round 32 DIOSSP
Dari hasil babak pertama secara keseluruhan, selain di Tunggal Putra, sektor lain relatif minim kejutan.   Di tunggal Putra, unggulan pertama Chen Jin mengundurkan diri saat tengah berhadapan dengan jan O Jogersen (Denmark).  Sementara Peter Gade ya itu dikalahkan oleh SDK. Chen Long pun hampiiir saja dikalahkan oleh M. Hafidz Hasyim (Malaysia).  Hasil maksimal yang ditorehkan SDK, diikuti pula oleh hasil positif dari sejumlah pemain Indonesia macam Taufik Hidayat, Hayom Rumbaka, dan Alamsyah Yuus yang berhasil mengalahkan lawan-lawannya. 

Di tunggal putri, taka ada kesulitan berarti yang dihadapai trio Wang yang menempati tiga unggulan teratas.  Sayangnya, pebulutangkis muda nomor satu Thailand saat ini, Ratchanok Inthanon, dipaksa menyerah lewat pertarungan ketat tiga set melawan tunggal Korea, Ju Ji Hyun.  Beruntung lah masih ada seorang Saina Nehwal yang menjadi juara bertahan turnamen ini dua kali bertutur-turut sebelum tahun kemarin dikalahkan srikandi-nya Thailand itu.  Mudah-mudahan Saina bisa terus melaju hingga ke puncak dan sempat direbut pemain lain itu di DIOSSP kali ini.  Ya, paling tidak kan bisa meminimalisisr peluang sapu bersih negaranya trio Wang.

Ganda Putri dan Putra, unggulan masih melaju, pun di Ganda campuran.  Kejutan-kejutan kecil seperti melajunya pemain non unggulan melibas pemain dengan peringkat lebih baik mewarnai ketiga sektor ini.  Namun tidak dominan.  Jika Bona Septano bersama M. Ahsan, pasangannya, dipaksa angkat koper lebih awal, maka hasil sebaliknya diraih saudara kandungnya, pasangan Markis Kido/Pia Zebadiah yang di luar dugaan bisa mengalahkan pasangan senior Denmark Thomas Layborn/Kamilla Rhytter Juhl. 

#Absennya Pemain Unggulan
Dua tunggal putra teratas duni sedari awal sudah memastikan absen di ajang berhadiah total US$ 650.000.  Sebagaimana kita ketahui bahwa tungga no 1 dunia, LCW mengalami cidera yang cukup parah di penyisihan grup Thomas Cup lalu.  Sementara Lin Dan, dengan alasan kelelahan turut absen.  Cukup? Belum, karena ternyata saat hari H, beberapa pemain menyusul absen seperti ganda putra unggulan pertama, Cai Yun/Fu Haifeng.  Dua ganda korea pun menyusul mundur yaitu Kim Min Jung/Ha Jung Eun dan Lee Yong Dae/Ha Jung Eun.  Ada juga Pi Hongyan, tunggal putri Perancis, dan beberapa pemain lainnya. 

Mundurnya Cai/Fu yang paling mengecewakan bukan saja penulis peribadi, melainkan juga seluruh pecinta bulu tangkis.  Gimana, ya, final klasik antara Cai/Fu vs JJS/LYD pasti dinantikan semua BL Lovers.  Penulis pribadi sebenanrnya sangat ingin menyaksikan duel ganda terkuat Cina itu dengan ganda terkuat Eropa, Mathias Boe/Carsten Mogensen.  Tapi, ya walaupun tanpa pemain-pemain tersebut, masih banyak pemain hebat dunia lainnya yang masih berlaga di DIOSSP kali ini.

#Momentum Emas Indonesia
Hasil minor Bona Septano/M. Ahsan, praktis menjadikan Ahhmad Tontowi/Liliyana Natsir sebagai tumpuan utama meraih gelar disini.  Bukan apa-apa, sudah dua tahun terakhir ini Indonesia tanpa gelar di negeri sendiri.  Harapan publik berlipat setelah kekalahan yang bisa dikatakan tak terduga di Thomaa-Uber Cup lalu.  Maka, kalau tadinya beban pemain hanya memecah telor gelar, maka kini sekaligus menjadi ajang pembuktian bahwa Indonesia belum sepenuhnya habis, paling tidak di nomor perorangan.

Tren positif yang ditunjukkan pasangan Tontowi/Liliyana di tahun 2012 ini tentu membuat pecinta bulu tangkis di tanah air berharap banyak pada pasangan ini.  Apalagi setelah suskes mereka meraih gelar di All England setelah sebulumnya puasa gelar tujuh tahun secara Indonesianya, dan  di secara sektor ganda campurannya.  Selain itu kemenangan SDK di ajang Thailand GPG pekan lalu mudah-mudahan bisa diulangi disini, di negeri sendiri.  Ya, setidaknya dua gelar bisa diamankan pasukan merah putih di ajang DIOSSP.  Kemenangan Tontowi/Liliyana yang dinanti-nantikan ditambah kemenangan pemain yang baru saja come back setelah dibekap cedera berkepanjangan, SDK, tentu akan menjadi peliipur lara bagi para pemain dan pecinta bulu tangkis tanah air.  Dan, disinilah, di ajang Djarum Indonesia Open Super Series, di rumah sendiri, merupakan momentum emas untuk meraih dan mewujudkan cita-cita tersebut.

Jumat, 25 Mei 2012

Curhat aa Opik Soa Bulu Tangkis Tanah Air

begitu liat headline dan buka link ini, ngerasa wajibin kydy ngepos artikel yang diambil dari link ini Curhat aa Opik Soal Bulu Tangkis Nasional

***

WUHAN, Kompas.com - Pemain senior Taufik Hidayat menganggap ada permainan politik yang terlalu jauh di dunia bulu tangkis Indonesia dan menyebabkan prestasi terus merosot.

"Ini mungkin serupa dengan yang terjadi di Malaysia," kata Taufik kepada media massa Malaysia, Jumat setelah Indonesia tersingkir oleh Jepang di perempatfinal Piala Thomas. "Kita semua telah kehilangan komitmen terhadap perkembangan olah raga ini dan hal itu tersus merosot setiap tahun," lanjut Taufik yang pernah meraih medali emas Olimpiade 2004 lalu.

"Saat saya (akan) mundur, Indonesia tinggal bergantung kepada Simon Santoso dan Hayom (Rumbaka).  Yang lainnya mana? Hayom pun ternyata tidak mampu mengatasi tekanan yang berat," kata Taufik lagi.

"Markis-Hendra (Setiawan) bahkan menolak tampil di Olimpiade London. Mereka bisa lolos apabila mengikuti Australia Terbuka lalu. Di mana komitmen mereka?" ungkapnya. "PBSI harus bekerja lebih keras lagi untuk mencari pemain-pemain berkualitas. Budaya yang sekarang berkembang harus segera diubah."

Namun  Taufik juga mengkhawatirkan perkembangan bulu tangkis secara global. Menurut dia, federasi bulu tangkis dunia (BWF) harus mengubah peraturan kualaifikasi Olimpiade yang ada. "Mereka harus mengubah dan memperketat peraturan mereka.  Saya muak melihat taktik walkover yang sering dilakukan saat terjadi pertandingan antarsesama pemain China."
"PBSI harus bekerja lebih keras lagi untuk mencari pemain-pemain berkualitas. Budaya yang sekarang berkembang harus segera diubah.
 

Pendukung Musiman vs Pendukung Setia


*prolog*
Ceritanya ada perhelatan satu kejuaraan internasional dimana Negara kita ambil bagian.  Taruhlah ada K dan M yang sama-sama mengikuti ajang ini dari awal.  Seiring bergulirnya waktu, tanpa terasa pertandingan demi pertandingan pun telah bergulir dan kini memasuki fase knock-out.  Artinya, satu demi satu tim peserta akan berguguran.  

Nah, dalam suatu pertandingan sengit di perempatfinal ternyata tim kebanggaan Negara K dan M mesti terhenti langkahnya.  Sejarah yang bisa dikatakan mencoreng reputasi yang telah terbangun sejak 54 tahun terakhir: gagal lolos ke semi final.  

Sejak kekalahan yang bagi sebagian orang dianggap memalukan tersebut (kalau nyesek mah pasti), si K tetap lanjut menyaksikan hingga laga final.  Sementara si M, begitu kalah, sudah ogah-ogahan nonton dengan alas an tidak ada lagi yang bisa dan harus didukung.  

Nah, kira-kira apa sih makna dibalik kisah di atas? 

Jadi si K itu mewakili mereka yang betul-betul menggemari olah raga yang sedang dipertandingkan tersebut.  Sedangkan M, mewakili mereka yang suka tiba-tiba jadi berasa paling nasionalis dan ujug-ujug ‘suka’ sama oleh raga tersebut karena membawa nama Negara.  Salah? Enggak juga sih, Cuma penonton jenis kedua ini tipe pendukung tentative atau musiman.  Jadi mereka ya suka pas tim dukungannya lagi jaya-jayanya secara tiba-tiba, dan bisa begitu saja hilang animonya ketika sang tim (yang ceritanya) kebangaan terhenti di fase tertentu.  Sementara, si K itu masuk e dalam tipe pendukung setia, pendukung tetap.  Jadi, no matter what, karena dia emang pada dasarnya suka sama olah raganya, maka nilai plus ketika tim kebangaannya melenggang hingga partai puncak, tapi sekalipun gagal tidak menyurutkan minatnya untuk terus mengikuti pertandingan demi pertandingan hingga akhir.
***

Cinta Pada Pandangan Pertama

Sebenarnya tulisan di atas penulis dedikasikan untuk bulu tangkis nasional, olah raga yang sedari dulu mencuri perhatian penulis.  Penulis sama sekali gak jago main olah raga ini, tapi ketertarikan penulis terhadap olah raga tepak bulu ini sangat-sangat besar.  Dulunya sih padahal apa coba sekitar tahun 1997-1998 ketika pertama kali penulis menyadari keberadaan olah raga ini.  Umur penulis yang masih 7-8 th memang sudah bisa mencerna olah raga ini gitu? Namun begitulah sejak melihat pertandingan antara aa Opik yg masih abege saat itu melawan entah siapa di partai penentu Thomas Cup kecintaan dan ketertarikan terhadap olah raga satu ini semakin dan semakin tumbuh.  Bahkan ketika memasuki tahun 2000-an, saat prestasi perbulutangkisan tanah air yang makin merosot saban tahunnya, ketertarikan ini tak pernah luntur barang secuil.  Pun hari ini, bahkan sampai kemarin ketika secara kompak tim Piala Thomas & Uber  kita harus menelan pil pahit dikalahkan jepang di perempat final.  Bagi tim Uber, mungkin tidak seberapa mengejutkan mengingat posisinya yang sebagai underdog, tapi sebaliknya bagi tim Thomas yang justru diunggulkan.  Hasil tersebut menyisakan kekecewaan bagi banyak pihak, pun penulis.  Tapi, karena dasar kecintaan terhadap olah raga ini (bukan semata tim nasional), maka kekecewaan itu tidak berlarut hingga memutuskan berhenti menonton ajang Piala Thomas & Uber tersebut.  Bagi penulis adalah suatu kebahagiaan bisa menikmati pertandingan kelas dunia yang dimainkan pemain kelas dunia pula.  Bukan, bukan semat masalah nasionalisme karena toh nasionalisme itu semsetinya sudah secara otomatis tertanam dalam setiap diri anak bangsa.  Jadi, bukan menjadikan nasionalisme sebagai tameng untuk berhenti menyaksikan permainan berkelas di ajang Thomas Uber Cup pasca kekalahan tim nasional.  Hello, bulu tangkis bukan hanya milik Indonesia. Look! If you are really have a deep and big passion of this kind of sport (badminton), you will feel disappointed when you have no chance to watch several GREAT MATCHES!  Believe me! 
***

*epilog*
Emosional BGT gak sih tulisan di atas? Penulis Cuma tiba-tiba kepikiran dan ngerasa pingin dan emang perlu dibagikan perasaa yang sudah terlampau mendesak ingin dilkeluarkan ini.  Tapi, mohon dimaklumi ya, postingan ini emang sangat sangat personal bagi penulis pribadi.  Bukan ingin menyoroti kondisi bulu tangki nasional, tapi lebih kepada pendukungnya itu sendiri.  Suka geli aja soalnya kalau ada jenis pendukung kayak si M yang musiman tapi suka berasa sok iya dan paling tau gitu, geli dan gemesin!  Akhirul statement, no matter how and what, badminton never dies for me personally, GO BADMINTON GO!

Kamis, 15 Maret 2012

ALL ENGLAND 2012: Asa 9 Tahun itu pun Berakhir Berbuah Manis :)


Sembilan tahun puasa gelar pun akhirnya berakhir sudah dengan satu gelar yang dipersembahkan ganda campuran nomor satu Indonesia, Ahmad Tontowi/Liliyana Natsir, di ajang All England Super Series Premiere 2012 ahad lalu.  Gelar pertama keduanya di turnamen bulu tangkis paling bersejarah sekaligus gelar pertama Indonesia di keseluruhan turnamen tahun 2012 ini.

Ya, di tengah minimnya gelar dan semakin merosotnya prestasi para pebulutangkis nasional (diukur dari raihan gelar di pelbagai ajang terutama Super Series), prestasi yang diukir Owi/Butet tentu menjadi pelepas dahaga.  Apalagi All England, sekalipun dari segi nominal hadiah tak sebesar Korea Open dan bahkan Indonesia Open (meski sama-sama berlevel Premiere), namun toh nilai historisnya sebagai turnamen bulu tangkis tertua di dunia membuatnya menjadi spesial bagi para pebulutangkis dunia.

Hampir bisa dipastikan jika tidak terhalang oleh cedera atau sakit, hampir semua pemain papan atas dunia ambil bagian di ajang yang tahun ini digelar di Birmingham.  Turun dengan kekuatan terbaiknya, sayang Indonesia hanya mampu menempatkan satu wakil di final setelah M. Ahsan/Bona Septano dan Dyonisius Hayom Rumbaka di ganda dan tunggal putra menyerah masing-masing dari Cai Yun/Fu Haifeng dan Lin Dan asal Cina di semi final.

Cina sendiri kembali menunjukan dominasinya dengan menempatkan enam wakil pada empat partai di final.  Malah dua gelar sudah pasti menjadi milik mereka di sektor putri setelah terjadi all China final.  Sementara di putra, Lin Dan dan Cai/Fu harus menantang pemain yang juga tangguh yakni Lee Chong Wei (Malaysia) serta Jung Jae Sung/Lee Yong Dae (Korea) untuk menyempurnakan raihan gelar mereka.  Beruntung, satu gelar lagi di ganda campuran diperebutkan Indonesia dan Denmmark sehingga tak  ada peluang bagi tim yang belakangan semakin mendominasi kancah bulu ta ngkis internasional ini untuk melakukan sapu bersih gelar (seperti yang pernah terjadi di beberapa turnamen sebelumnya).

Akhirnya Cina berhasil menyabet tiga dari empat gelar yang diperebutkan hari itu setelah Cai/Fu kembali dikalahkan oleh pasangan nomor dua dunia, JJS/LYD dalam tiga set.  Disebut kembali karena dalam beberapa ajang sebelumnya, pasangan ini sempat beberapa kali menyerah meski sempat unggul atas ganda nomor satu dunia tersebut.  Sedangkan Lin Dan akhirnya dinyatakan sebagai pemenang duel seru dengan rivalnya LCW setelah pebulutangkis teratas dunia itu mengundurkan diri di awal babak kedua akibat cedera bahu yang menyergapnya.  Ya, bisa dibilang kemenangan Lin Dan adalah yang paling mudah dan pada akhirnya kurang berkesan karena terkesan kemenangan yang diberi *IMO*.

Kembali ke Tontowi/Liliyana, pasangn ini memastikan gelar juara setelah menang atas ganda veteran Denmark Thomas laybourn/Kamilla Rhytter Juhl dalam straight set 21-17, 21-19.  Sebelumnya, di Semi Final, mereka terlebih dahulu menumbangkan unggulan campuran tuan rumah, Jimmy Adcock/Imogen Banker, yang secara mengejutkan memaksa pasangan nomor satu hari ini asal Cina menyerah di babak pertama.

Hasil ini tentu sangat menggembirakan.  Pasalnya puasa gelar sembila tahun di ajang ini dan puasa gelar di tahun 2012 ini tentu hal yang tidak mengenakkan.  Hasil ini paling tidak bisa mengembalikan mental bertanding para pebulu tangkis Indonesia, apalagi dalam rangka persiapan mengahadapi Thomas-Uber Cup dan tentu saja Olimpiade.  Ya, setidaknya ada satu keyakinan bahwa satu emas akan kembali aman lah bagi Indonesia di Ganda Campuran dengan catatan Owi/Lili bisa konsisten.  Olimpiade itu sring tak terduga.  Ya, mudah-mudahan di London nanti ada lebih dari satu emas yang bisa dipersembahkan kontingen bulu tangkis, siapa tahu.  Sementara untuk di Thomas-Uber Cup sendiri ya minimal bisa kembali menjadi finalis pun akan sangat baik.  Akhir kata JAYALAH SELALU BULU TANGKIS INDONESIA! J