Tampilkan postingan dengan label About Education and Educator. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label About Education and Educator. Tampilkan semua postingan

Rabu, 13 Agustus 2014

A Personal Confession: Being Thankful to How I Am Today


As usual, I have to make a prolog for almost of my postings.  Well, this one also need too just like others.  Why? I frequently laughed to myself every time I re-red my postings.  Sometimes I think that became too emotional or sensitive.  And probably so does with this one will lead me to laugh again later on.  Ahh..it just what I want to share with you guys, so just enjoy this as my personal postings. J
***

At this age, middle 20s, not graduated yet nor married yet. Problem? Not really for me, but yes for many people around me. Being asked and forced to do both so badly is such a common-but-tiring thing. Who said I don’t care? I want them so badly too. Unfortunately, in my opinion, God doesn’t allow me to reach both altogether recently. Why? Asking God’s decision is not a wise way.  Thus, I do believe that God has written this for several reasons that soon will be revealed beautifully.

Form my sake, being forced for the first issue is acceptable. I do realize that it’s too long for me to finish my under-graduate program.  Besides, I have to focus in many other things except my study-thingy.  Furthermore, I really miss to start studying and doing study-tasks again in new atmosphere. I’m constantly dreaming about leaving my hometown to continue my study that is going to be impossible if only I’ve finished my under-graduate program.  Hemm.. ’acceleration’ term sounds very interesting for me then. But, still, the main requirement to graduate first should be fulfilled.

On the contrary, the second one seems debatable for me. That’s too much for now one.  First of all, I’m not even reach my bronze age *CMIIW*.  Second of all, I’m not ready yet to share my life with someone. So classic? Maybe yes, but that’s the fact.  I still can’t imagine how to deal with sharing anything together with ‘stranger’.  That’s why earlier I told that I need to leave not only my house, but also my town in order to deal with that case, hopefully.  Another reason is that I don’t think I’m capable enough for now on to take care of somebody else.  The biggest evidence is the fact that I’m not graduated yet till now.  You don’t need any evidence, do you?! Above all, I still need some times to be available and useful for others while searching for precious experiences and continuously learning to be a much better person.

Well, I confess that sometime I got so jealous when I found my friend got married and had child. But I never jealous with those who just hanging around with what so-called their special friend.  Marital relationship is much more convincing than just ‘illegal’ romantic-relationship that seems delusional for me.  However, what to do when God doesn’t allow yet and so do I (not ready yet).  The best thing that I can do is praying and trying to upgrade myself so I can be a much better person to be a worthy-partner of life-to be for my future spouse and a qualified ancestor for my precious offspring. Aww. 

In addition, the fact that I start my job without having a proper certificate yet seems very frustrating once.  Even though not so many people stated objections straightly, but I felt really uncomfortable of that fact to them.  Aside of that, it’s also quite difficult for me to focus on such a particular activity due to my never-ending-deadline of graduation.  I admit that being a teacher is not my interest from the beginning, but by the time, I find it really interesting and challenging.  Being a qualified educator is not as easy as it looks like.  Not only how smart we are literally, but also how smart we manage a learning process (dealing with material, students, sitting arranging, media, evaluation, lesson plan, etc).  People might title is not everything, it’s not always that worthwhile; but still it’s necessary.

To conclude, I have no objections when people being worried of my study.  But, I’m really sorry that people being so curious or even feel pity for my romance life *halah* is no need for me, at least for these few years.  For the first occasion, I do realize how important to finish what I’ve started.  Moreover, it’s an honor to make my parents happy (and perhaps proud as ‘oh..finally my sweet girl finished her study’ ckck).  For that reason I do promise to relief everyone around me by finishing it as very very soon as possible.  However, for the second one, I can’t make any promise on fast mode.  I just can ask people to patiently wait a little longer for the next few years. I don't think to make it as fast as possible, unless He leads me to do so. J


Selasa, 03 September 2013

My Passion, My Profession #1

Saya baru sadar bahwa saya telah jatuh cinta dengan dua aktivitas yang kelak bisa jadi menjadi profesi yang saya tekuni…

A Passionate & Professional Translator (To Be)

Beberapa pekan ke belakang, tepatnya 10 hari jelang 1 Syawal 1434 H, saya secara resmi mengerjakan project terjemahan lagi setelah sekian lama (entah berapa bulan, tidak sampai menahun kok ;p).  Tanpa banyak negosiasi apa pun di muka, kecuali durasi (saat itu saya tengah disibukkan dengan project lain yang cukup menguras fikiran, akhirnya muncullah kesepakatan deadline: 2 pekan.  Belasan lembar, Indonesia-Inggris, tema terjemahan seputar cabang ilmu pengetahuan sosial membuat 2 pekan itu dinilai proporsional. 

Pekan pertama berlalu begitu saja, karena ternyata di hari-hari menjelang 1 Syawal yang saya fikir waktu saya relatif fleksibel, eh malah sama hectic-nya seperti 2 pekan sebelumnya.  Bahkan hal ini terjadi hingga malam takbiran!  Esoknya, lebaran, dan sehari setelahnya sungguh bukan waktu yang kondusif untuk mengerjakan sutu project.  Mood lebaran itu ya mood bercengkrama dengan hangat bersama keluarga besar, berkunjung ke sana ke mari, icip-icip kue lebaran, syukur-syukur masih masuk list penerima angpao.   Akhirnya pekan pertama dari deadline 2 pekan pun berlangsung sama sekali tidak efektif.

Pekan kedua di depan mata. Oke, bagaimanapun sebagai seseorang yang mencoba profesional saya harus patuh pada ‘kontrak’ 2 pekan yang disepakati di awal.  Niat sudah  100% (hanya belum sampai 200%), tapi selalu ada ini itu sehingga -2 hari awal kinerja penulis baru mencapai sekitar 20%-nya saja.  Suasana libur lebaran yang (masih) didukung kehadiran sanak famili di rumah juga sedikit banyak mempengaruhi.  Hingga puncaknya adalah rencana bepergian ke luar provinsi bersama keluarga inti untuk mengantar kepulangan adik saya ke kota tempatnya menimba ilmu sekarang: suatu kota di tengah-selatan pulau Jawa.  Celakanya, saya selalu tak kuasa menafikkan pesona kota tersebut, saya selalu larut dalam godaan-nya.  Lebih celaka lagi karena jarak tempuhnya yang mencapai seharian.  Baru 20% lho!  Belum lagi saya ini terikat komitmen moral terhadap diri saya dan kedua orang tua saya yang mengeluarkan status tahanan kota pada saya yang belum kunjung menuntaskan studi sarjana-nya.  Dengan sedikit kompromi yang tidak alot-alot amat, akhirnya saya dan orang tua saya (yang syukurnya tidak terlalu strict dengan aturan yang dirancang mereka sendiri) mencapai kesepakatan dengan embel-embel: syarat dan ketentuan berlaku.  Persis seperti pembelaan saya terhadap status tahanan kota saya pada keduanya (like parents, like child ;p).

Dengan segala kemungkinan resiko dan konsekuensi atas pilihan sadar saya untuk plesir ke luar provinsi yang cukup memakan waktu di tengan deadline project, saya memantapkan hati untuk menjalankan keduanya dengan seimbang.  Ya, ada resiko-resiko yang mau tidak mau saya tempuh, seperti: membebani tas cangklong dengan notebook beserta baterai-nya, bergadang selama beberapa malam, menjadi satpam di kontakan adik (yang kami inapi saat itu) tatkala seluruh rombongan disibukkan dengan tur keliling objek wisata di sekitar kota tersebut.  Ya, sedari awal, saya sudah berusaha menjaga komitmen untuk ikut-demi-menikmati-suasana-kotanya, bukan ikut-demi-menikmati-objek-wisata nya.  Jadi, all is well for me, sekalipun harus stay home seharian. 

Kembali ke project saya *ala mr. 4 mata*.  Di sanalah waktu yang saya manfaatkan maksimal untuk merampungkan 80% dari total 100% porsi project saya.  Dengan semangat ‘man jadda wa jada’, saya kerahkan seluruh kekuatan dan kemampuan saya demi menjaga etika professional-to-be saya.  Dengan berbekal sebatang modem milik adik yang alhamdulillah sekali kuota nya masih bersahabat untuk diajak bekerja siang-malam, pagi-sore *ala restoran padang di rest area—halah*, alhamdulillah beberapa hari di sana project saya sudah menyentuh angka 80%.  Alhamdulillah yang diteruskan dengan astaghfirulloh…masih 20% to goDeadline semakin mendekat, jadwal pulang pun sudah di depan mata: alamak..ya masakan saya harus mengerjakan project ini di mobil? Waktu kami pulang itu sore, artinya perjalanan malam! Hey, can I make it effectively? I guess not!  

Di tengah kepenatan oleh deadline yang disokong kelelahan karena begadang dan bercengkrama dengan layar notebook sehari-semalaman, tiba-tiba muncullah ‘hidayah’ dari si empunya project.  Beliau (oke, si empunya project ini jauh lebih senior dan berpengalam dari segi keilmuan nya dari saya, hanya sepertinya beliau sedikit bermasalah dengan bahasa, makanya …) dengan penuh kebijaksanaan memberikan ‘injury time’ untuk project yang saya kerjakan ini selama 2880 menit (baca: 2 hari).  Itu rasanya ALHAMDULILLAH sekali, setidaknya bisa saya bereskan saat sudah tiba kembali di kota yang sudah saya tinggali sedari brojol ke dunia ini.  Saya rasa beliau menangkap radar-lebaran sehingga akhirnya memberi sedikit kelonggaran pada deadline, sesuai lah dengan jatah tanggal merah di kalender *hihiw*. 

Dan…alhamdulillah, tepat sehari sebelum peluit deadline ditiupkan, project yang saya kerjakan sudah terdaftar di sent item e-mail saya.  Rasanya itu legaaaa.  Meskipun sempat merasa terbebani dan keteteran saat mengerjakan 20% pertama, di fase 60% untuk menggenapi menjadi 80% saya, sekalipun hampir bekerja sepanjang waktu, ternyata amat menikmati apa yang saya kerjakan.  Yang sedikit mengganggu hanya rasa lelah dan pegal yang sesekali mampir.  Tapi, di luar itu, all is well *again*.  Everything is running well in its own path.  Tanpa sadar saya sudah melibatkan hati saya terhadap project ini sehingga hambatan-hambatan seperti technical terms dan lain-lain bisa diatasi dengan…cukup tenang.  Meskipun terkesan terburu-buru, tapi saya mengerjakannya dengan seksama kok, dengan mengacu pada banyak sources yang tentu saja relevan dengan topiknya.  Special thanks to mr. google for the journal link, serta kamud digital to help me in checking the correct words in term of its context.  And also for my sister’s modem, and last but not least for my beloved notebook that was strong enough to fight night and day. Thanks all! :*


What I’m actually trying to say (baca: INTINYA), selama dalam proses pengerjaan project yang bisa saya kategorikan sebagai titik balik untuk karier profesional saya ke depannya ini (bahasa gaulnya: project ini telah membantu mendewasakan saya—menuju tahap yang lebih profesional), saya sadar betapa sebetulnya saya mencintai aktivitas ini.  Saya rasa ini ada passion terselubung yang jika diasah terus dan diseriusi bisa menjadi sesuatu dalam rekam jejak kehidupan saya.  Dan karena kecintaan saya ini pula yang sepertinya merontokan keraguan dan beban di awal.  Well, nampaknya yang paling pas mewakili gambaran kisah di atas itu lirik lagu kemenangan-nya mbak Joy Tobing “Semua karena cinta, tak mampu diriku dapat berdiri tegak, terima kasih cinta”.  So, to make all is well we need to do it with passion that comes up because of love. And thanks GOD to make me realize that I do love translating activity so well. #IMO

Sabtu, 31 Agustus 2013

Radar (Oktober) Desember: COME ON YOU (GO), GIRL!

Kemarin adalah hari dimana saya seperti diberi sinyal-sinyal (melalui serangkaian kejadian-kebetulan) untuk segera menuntaskan apa yang seharusnya saya tuntaskan…

Saat saya mengunjungi suatu gedung di kompleks kampus tempat saya belajar, betapa saya merenung bahwa apa yang harus saya tuntaskan ini sebenarnya tak lebih dari perkara ruang sekian kali sekian meter.  Di sanalah urusan saya, sebegitulah lingkupnya.  Ngeri saya ketika membandingkan dengan luasnya bidang di luaran bidang itu yang memang terlamau sering saya sambangi, melebihi dari intensitas kunjungan saya ke ruang sekian kali sekian meter.  Faktatersebut menggiring saya pada satu simpulan dalam bentuk pertanyaan “jika masalah sekian kali sekian meter saja saya sudah kewalahan begini, ya apalagi persoalan di ruang yang tak terbatas itu”.

Sesaat setelah saya meninggalkan gedung berukuran sekian kali sekian meter menuju gerbang depan kompleks berukuran puluhan bahkan ratusan kali lipat dari ruangan di satu gedung yang baru saja saya tinggalkan tadi, saya berjumpa dengan dua orang kawan seperjuangan yang masih sama-sama bergelut demi menuntaskan studi sarjana kami (fokus saya adalah ke bagaimana menyelesaikan, bukan bagaimana meraih gelar).  Setelah cipika cipiki dan berbasa basi, sampailah pada pertanyaan wajib bagi mahasiswa smester 8 plus plus seperti kita: ya apalagi kalau bukan seputar mega proyek nya mahasiswa tingkat akhir.  Seputar topic dan sudah sampai mana, all is well.  Tapi, pas topik mengacu ke siapa dosen pembimbing, dengan lempeng seorang dari mereka berkata “enak, lulusnya bisa cepet itu mah” santai, malah mungkin ada kesan “kenapa gak gue aja sih”.  “Jleb!” dalam hati sambil mengutuki diri sendir “kan..hampir semua orang ngomong serupa, dasar elu nya aja, girl, dasar!.  Sambil terkekeh saya jawab” Iya, dosennya enak, cepet, mahasiswa nya nih yg lama..hehe”.  Karena sedang sama-sama buru-buru akhirnya percakapan pun diakhiri dengan sayonara, saya naik angkot, mereka nyebrang, memasuki kompleks ratusan kali ratusan meter yang baru saja saya tinggalkan.  Sempat tertangkap sedikit keheranan mereka saat saya terkekeh.  Ya, akhirnya saya pun makin mengutiki diri sendiri “ampun deh ye, dasar mahasiswa kurang pandai bersyukur!”

Belum berhenti sampai di situ.  Saya rasa Tuhan sedang ingin menunjukkan kasih sayangNya dengan teguran-teguran sepele namun jleb banget semacam apa yang saya alami ini.  Belum lama menenangkan diri dalam angkot, eh surprise lain menghampiri saya.  Tetiba naik dua orang-yng-besar-kemungkinan-adalah-mahasiswa.  And yes, they are!  Mahasiswa baru malah.  Lebih tepatnya baru kembali lagi menyandang gelar mahasiswa (uyeah).  Saya yang sudah bermata empat ini baru bisa mengenali dengan jelas kedua sosok ini saat keduanya sudah duduk manis di kursi 7 pas di belakang supir, besebrangan dengan saya yang pas di dekat pintu di kursi 5. Setelah saling bertegur sapa dan mengobrol sedikit banyak tahulah saya mengapa mereka sudah kembali ngampus. Keduanya rupanya tengah dalam persiapan memulai tahun ajaran baru dengan kembali berstatus mahasiswa.  Kali ini mereka tengah berjuang menempuh gelar master.  “Pak!” rasanya dsemacam ada sesuatu yang menampar dada dan meninju otak “hello…orang tuh ya udah mau wisuda kedua kali, ini sekali aja oalahhhh…lamanyoo!” entah bisikan yang muncul darimana.  Mau tidak mau fakta ketiga ini semakin bikin saya sakit kepala di satu sisi, namun semakin memotivasi juga supaya tidak sampai didahului wisuda oleh para ‘mahasiswa baru’ tersebut. 

Intinya sih dari ketiga kejadian di atas adalah muncul satu bisikan yang kuat sekali ke dalam benak dan hati saya yang tanpa henti mendengung dengan kerasnya berbunyi : “COME ON YOU GIRL!”

Semoga, ini benar teguran sebagai bentuk kasih-Nya pada saya yang sering lalai dan cenderung bermalasan.  Dan semoga ke depan saya bisa mengejar target menuntaskan misi yang rada impossible yaitu tuntas tahun ini, yang artinya hanya menyisakan maksimal 2 bulan lagi.  Oh, yes, semoga semangat “Come On You Girl” ini bisa menghantarkan saya menjalani dan menwujudkan mission possible saya ini.  Demi kebahagiaan orang-orang di sekitar saya, dan demi keberlangsungan agenda dan taggung jawab saya yang lain-nya dengan bismillah COME ON YOU (GO) GIRL! 

Jumat, 03 Mei 2013

Sepenggal Renungan HARDIKNAS

Kisruh Penyelenggaraan UN SMA Sederajat 2013

Beberapa pekan ke belakang berita seputar kekisruhan penyelenggaraan Ujian Nasional (UN) tengah menjadi buah bibir.  Kisruh mengenai penyelenggaraan UN sebenarnya bukan kali pertama terjadi.  Sebelumnya, banyak ditemukan sejumlah pelanggaran dan kecurangan yang pada akhirnya menciderai pelaksanaan UN itu sendiri.  Tahun ini kisruh serupa kembali terjadi, namun jauh lebih parah.  Jika tahun-tahun sebelumnya tidak menyentuh teknis, maka tahun ini justru kendala teknis yang menjadi sumber kekisruhan.   Siapa yang akan sepakat bahwa tidak-ada-masalah jika UN di sejumlah daerah harus diundurkan sampai tiga hari karena perangkat ujian (lembar soal & jawaban) masih tertahan di percetakan?

Hanya orang yang masa bodoh yang akan menganggapnya sebagai suatu yang bukan masalah.   Memang benar mungkin ini adalah kesalahan teknis.  Tetapi kan seharusnya hal semacam ini bisa terantisipasi dari awal.  Kan, sejak jauh-jauh hari waktu pelaksanaan UN sudah ditetapkan, jadi seharusnya pihak dinas pendidikan dan perusahaan percetakan terkait pun sudah harus bisa memperhitungkan dan menyesuaikan waktu penyelesaian percetakan perangkat UN tersebut.  Bila semuanya telah dilaksanakan sesuai prosedur, rasanya kejadian yang secara terang-terangan mencoreng penyelenggaraan UN macam begini tidak semestinya terjadi.  Seolah belum cukup sampai di sana, sejumlah daerah yang telah menerima perangkat UN ini pun tak luput dari masalah. Kali ini persoalannya adalah pada kulitas kertas perangkat UN yang dinilai terlalu tipis sehingga menimbulkan kekhawatiran bagi banyak peserta UN kalau-kalau LJK-nya mudah sobek dan rusak.

Hal tersebut tentu saja menimbulkan sejumlah pertanyaan di benak publik mengenai keseriusan dari pihak DEPDIKBUD, terutama MENDIKBUD yang dalam hal ini menjadi penanggung jawab utama dalam penyelenggaraan UN.  Selain itu muncul pula tuntutan transparansi anggaran UN  sebagai buntut dari molornya waktu penyelesaian percetakan perangkat UN.  Biaya yang tidak sedikit itu pasti.  Tapi seberapa minimalisnya dana yang dialokasikan sampai-sampai molor dan yang ada pun kualitas kertasnya mengecewakan, itu yang membuat penasaran banyak pihak.  Pada akhirnya tidak sedikit pihak yang beranggaapan ada indikasi penggelapan dana operasional UN alias korupsi di tubuh penyelanggara UN.  Lebih jauh banyak yang meyakini bahwa indikasi tersebut membuktikan telah terjadi politisasi di tubuh pendidikan negeri ini.

Oleh karenanya, kisruh UN ini bisa jadi satu indikator bahwa ada kecacatan dalam penyelanggaraan UN di negeri ini.  Kecacatan tersebut seperti menunjukkan ketidaksiapan dari pihak penyelenggara.  Lebih jauh lagi, keduanya seolah menegaskan bahwa sudah sepatutnya UN ini dihapuskan saja dari sistem pendidikan kita karena toh lebih banyak mudaratnya ketimbang manfaatnya.  Menguji siswa memang harus, akan tetapi tidak usah dipaksakan dengan UN.  Kecuali jika sistem dan pelaku pendidikannya sudah benar-benar terorganisir dengan baik.  Kan siswa dalam hal ini hanya obyek dari sistem pendidikan yang diatur, disahkan, dan diberlakukan oleh subyek pendidikan yang terdiri dari aparat pendidikan dari mulai guru hingga menteri pendidikan.

Quantity-oriented: Sebuah Disorientasi

Tentang nilai dan nilai.  Itulah yang penulis rasakan dari pendidikan kita hari ini.  Bukan nilai secara abstrak, tapi nilai konkrit yang bersimbolkan angka.  Bisa dalam skala 1-10 atau 10-100.  Tergantung.  Dan karena standarnya adalah angka, maka orientasi belajar para siswa pun lebih kepada bagaimana meraih angka sebesar-besarnya, bukan pemahaman yang sedalam-dalamnya dan pengetahuan yang seluas-luasnya.  Akibatnya? Tidak sedikit yang menghalalkan segala cara (baca: mencontek) demi meraih nilai tinggi, dengan mengadaikan pemahamannya terhadap materi yang bersangkutan. 

Apalagi, belakangan ini, orientasi nilai ini semakin ‘didukung’ oleh pemberlakuan sistem Ketentuan Ketuntasan Minimun (KKM).  KKM ini adalah batas nilai minimum yang mesti dicapai siswa untuk bisa dinyatakan lulus dalam satu mata pelajaran.  Sebagai contoh jika seorang siswa mendapat nilai 65 untuk mata pelajaran Matematika yang KKM nya 66, maka ia belum tuntas dalam mata pelajaran tersebut.  Dan siswa bersangkutan wajib mengikuti remedial hingga nilainya mencapai KKM demi menuntaskan tugas belajarnya di mata pelajaran tersebut.

Karuan saja siswa yang tidak ingin repot dua kali akan lebih memilih jalan pintas demi mencapai KKM di kali pertama.  Caranya? Itu tadi berbagai praktek kecurangan seperti mencontek menjadi jurus yang paling jitu dan diminati.  Parahnya lagi, setiap tahunnya, KKM ini terus meningkat.  Bahkan kini sudah banyak sekolah yang menetapkan KKM nya mendekati angka 80.  Angka yang cukup fantastis bukan? Tidak heran bila praktek mencontek pun pada akhirnya semakin kemari semakin marak dan malah jadi terkesan lumrah.  Kan hari ini meraih nilai tinggi sudah bukan lagi masalah gengsi, melainkan tuntutan.  Dan mencotek pun tidak sekedar didorong kemauan, tetapi tuntutan kebutuhan.

Guru bukannya tidak tahu, tetapi berlaga tak tahu alias memaklumi.  Bagaimanapun tuntutan standar nilai yang tinggi mau tidak mau memaksa pendidik berada dalam situasi yang sulit.  Di satu sisi ingin menegakkan idealisme sebagai pendidik berdedikasi yang senantiasa menanamkan kejujuran di kalangan siswanya.  Sementara di sisi lain dibenturkan dengan ego sebagai profesional yang bisa dinilai memiliki kecacatan bila siswanya tidak mampu mencapai KKM. Tentu wajar jika para guru tersebut merasa terjebak dalam dilema semacam begitu.  Bagaimanpun guru adalah manusia dengan segala keterbatasan dan batasannya.  

Baik siswa ataupun guru, bagaimanapun, tidak bisa sepenuhnya disalahkan atas segala kecurangan dan ‘kemasabodohan’nya.   Pendidikan yang sejatinya menekankan pada proses menyeluruh untuk membangun kecerdasan intelektual sekaligus mental spiritual para peserta didiknya, hari ini saat rezim nilai sudah memegang Kendali, bak dikebiri.  Kesuksesan capaian belajar seorang siswa hanya diukur dari satu aspek saja, yakni intelektual.  Itu pun dengan proses yang entah bagaimana.  Sisi mental dan spiritual-nya bukan nya terbangun justru semakin tenggelam.  Ya jika kesadaran mental spiritual-nya terbangun sedari awal, tentu berbagai praktek kecurangan akan bisa diminimalisir, termasuk dalam penyelenggaraan Ujian Nasional yang lagi-lagi bertameng nilai.

UN: When Quantity Doesn’t Meet Quality

Ujian Nasional ini bagi penulis sama seperti KKM yang menopang orientasi nilai itu tadi.  Meskipun judulnya menguji hasil belajar siswa selama tiga tahun, tetapi sama seperti penerapan KKM, maka dalam UN diberlakukan sistem kelulusan.  Bila mencapai standar maka lulus, bila tidak masih bisa asal…atau bahkan tidak lulus.  Masalahnya, juga sama seperti KKM, setiap tahun standar nilainya mengalami peningkatan.  Tujuannya? Konon demi perbaikan kualitas peserta didik.  Apa iya? Sama sekali tidak sepakat.  Santer terdengar bila peningkatan KKM ini demi mengejar standar yang diterapkan oleh negeri tetangga.  Kan kita ini panasan.

Peningkatan mutu standar kelulusan UN itu sayangnya tidak dibarengi dengan upaya peningkatan mutu pendidikan.  Hasilnya? Ada ketimpangan yang ditambal paksa dengan itu tadi, berbagai praktek kecurangan.  Ironisnya, bukan hanya siswa yang terlibat, tapi hampir meliputi seluruh pihak yang berkutat dalam dunia pendidikan termasuk para stake holder.  Bila kekhawatiran siswa berpangkal pada rasa minder jika sampai tidak lulus UN; bagi para stake holder perihal kelulusan itu menyangkut ranah gengsi.  Bukan apa-apa besar tinggi-nya nilai siswa berpengaruh pada tingkat kelulusan siswa di satu sekolah bahkan hingga satu provinsi.  Inilah masalahnya.

Jika saja UN ini benar  untuk menguji tanpa menentukan lulus tidaknya tentu pelanggaran dan kecurangan UN yang tersistem bisa diberantas.  Tidak akan ada kasus ‘pengeroyokan’ orang tua siswa yang melaporkan kecurangan UN oleh satu sekolah.  Tapi ya kembali karena pendidikan kita hari ini lebih berorientasi pada nilai berupa angka, maka kuantitas itu jauh lebih penting dibanding kualitas.  Adalah suatu kebanggan bila tingkat pencapaian satu sekolah hingga propinsi mendekati atau bahkan mecapai 100%.  Makin sempurna dengan nilai rata-rata yang mencapai angka 80-90.  Luar biasa ‘cerdas’ bukan?

Parahnya, gengsi kedaerahan atau kesekolahan cenderung mengamini tren nilai sangat tinggi tersebut.  Adalah sebuah aib bila angka kelulusan di satu sekolah hingga provinsi kurang dari 90%.  Sebaliknya, suatu kebangaan bagi sekolah hingga provinsi dengan kelulusan mendekati bahkan encapai 100%.  Ada semacam reward bernama gengsi yang menyertainya. Sehingga semua berlomba meminimalisir angka ketidaklulusan yang salah satu langkah strategisnya yakni dengan me-mark up nilai siswa melalui salah satu nya membiarkan bahkan ikut terlibat dalam praktik kecurangan yang sistematis.

UN yang pada awalnya ingin mengukur sejauh mana kualitas belajar siswa selama tiga tahun justru berujung pada praktek mark up nilai hasil 3 tahun belajar hanya dalam tempo 3 hari saja.  Indikasi quality-oriented: soal berkode-kode lengkap dengan barcode-nya, niatnya supaya siswa fokus serta meminimalisir tindak kecurangan siswa.  Nyatanya? Siswa resah, gerasak gerusuk, merancang berjuta strategi menyamakan barcode, boro-boro tenang dan fokus.  Kan lucu, ibaratnya ingin hati menggapai gunung apa daya tangan tak sampai.  Buat ngakalin? Naik helikopter alias melalui jalan pintas.
 
Makin lucu semua ketidakkondusifan atmosfer UN tersebut dirancang oleh mereka-mereka sendiri.  Peningkatan mutu nilai standar kelulusan yang naik dari tahun ke tahun.  Varian soal yang dibuat semakin banyak dan variatif.  Aturan main kelulusan yang dirancang dan ditentukan sedemikian rupa.  Malah sekarang UN ini konon dijadikan salah satu nilai yang diakumulasikan untuk masuk universitas.  Ah..semakin diberi peluang saja berbagai tindak kecurangan ini untuk merajalela.  Jangan heran bila ke depan, mahasiswa di perguruan tinggi negeri bisa banyak secara kuantitas namun minim kualitas.  Toh, terlalu muluk bila kita berbicara kualitas di tengan gencarnya ekspansi kuantitas di tengah pendidikan kita.  Jika mindset-nya tidak dirubah, maka penulis harus setuju dengan pernyataan seorang kawan bahwa pendidikan hari ini bukan lagi memanusiakan manusia, melainkan merobotkan manusia.  Dan nilai, angka, jumlah lah sebagai pengendalinya. 

Intinya, ketika kuantitas tidak berbanding lurus dengan kualitas siap-siap menghadapi degradasi peserta didik kita di masa depan.  Artinya bersiap siagalah menyambut generasi yang premature karena hanya berorientasi hasil tanpa memperhatikan proses yang sepatutnya.  Bagi kalian insan pendidikan tanah air, baik pelaku atau paling tidak yang merasa peduli, yuk sama-sama kawal pendidikan hari ini supaya kembali pada orientasi awal yang mengutamakan kualitas peserta didik yang dibarengi dengan kuantitas nilai yang mumpuni, bukan sebaliknya. 

***

Terakhir berikut sepenggal surat terbuka untuk mendikbud.
Kepada MENDIKBUD yth, tolong kembalikan pendidikan di negeri ini pada hakikatnya.  Biarkan para siswa terbiasa dengan proses bukan semata hasil.  Jangan tega-tega nya menggadaikan kualitas demi kuantitas yang besar dan banyak.  Apalah arti kuantitas tanpa diimbangi kualitas yang mumpuni?  Relakah Anda mendapati tingginya angka pengangguran?  Relakah Anda menghasilkan generasi yang prematur  secara pemahaman? 

Selasa, 09 April 2013

Balada Anak Perempuan Tertua (di Awal 20-an)



“Sok aja kamu pilih: mau lulus dulu atau nikah dulu!” begitulah penawaran yang sekonyong-konyong ibu saya berikan.

Dalam hati saya hanya menghela nafas panjang.  Tentu kalau memang itu adalah tawaran yang berujung pilihan yang mesti saya pilih ya saya tahu pasti jawabannya adalah yang pertama.  Kenapa? Ya karena memang itulah prioritas saya saat ini.  Memang sih beberapa tahun ke belakang saya juga mempunyai hasrat untuk menikah di usia muda, tapi tetap dengan satu syarat prinsipil: terlaksana setelah saya lulus, paling tidak beres sidang.  Nah, kalau ternyata hingga saat ini skripsi saya pun masih tertahan di bab-bab awal, ya tentu saja hasrat menjadi pengantin muda pun mesti dienyahkan dahulu.  Paling tidak sampai studi sarjana saya tutup buku. 

Dan jika ternyata ibu saya malah sudah menyibukkan diri dengan pertanyaan ‘kapan-ya-kita-menikahkan-si-teteh-?’ setiap habis menghadiri pernikahan saudara atau anak kolega-koleganya atau Bapak, saya sih belum begitu khawatir.  Toh, masih sebatas pertanyaan-pertanyaan dengan level sindiran sedang, tingkat paksaan atau tuntutan hampir tidak ada.  Lagipula, secara pribadi ya syukurnya bahwa hari ini saya masih bisa menjadikan studi saya yang belum beres sebagai tameng.  Ahh..jadi teringat seorang teman yang berkisah kalau ia sengaja menunda menuntaskan studi demi mengantisipasi banyaknya ‘proposal’ yang ditujukkan pada orang tua-nya. 

Bersyukur juga jika ternyata sampai hari ini sekalipun saya banyak berada di lingkungan yang mendukung untuk dipertemukan dengan calon pendamping hidup saya kelak, namun belum pernah ada yang benar-benar nyantol.  Adapun beberapa orang yang saya kagumi (baca: kecengan), tidak sedikit diantaranya yang kini sudah menikah.  Dan, kembali, bagi saya itu adalah cara Tuhan untuk tetap menjaga hati saya hingga tiba saatnya saya dipertemukan dengan seseorang yang sudah ditakdirkan-Nya untuk dipasangkan dengan saya.  Kini, harapan saya adalah supaya waktu untuk masa indah itu tiba ya paling tidak setelah prioritas saya di tahun ini terlaksana. 

Untuk alasan-alasan itu lah saya tidak akan gentar dan merasa tersudut ketika topik pembicaraan sudah mengarah pada topic seputar pasangan hidup.  Terus terang bukannya hendak masa bodoh, tapi saya hanya ingin fokus pada prioritas saya dulu saja.  Tidak ada salahnya memang menyambil.  Namun bagi saya hal-hal berkaitan dengan pasangan hidup ini bukan hal yang sederhana.  Butuh kesiapan mental terutama untuk itu.  Dan saya rasa mental saya belum begitu siap. Banyak sih contoh kawan-kerabat saya yang juga menikah di usia muda, dan masih kuliah, dan lancar-lancar saja.  Tapi tolong diingat lain mereka, lain saya kan.  Terbukti, terbentur dengan organisasi saja dalam pandangan orang tua saya, saya ini sulit fokus, apalagi dengan hal sebesar pernikahan.  Dan, sekali lagi, itulah yang saya yakini sebaga jalan Tuhan bagi saya.

Pada akhirnya, menikah dan pernikahan adalah hal yang jadi impian hampir semua orang termasuk saya.  Namun saya termasuk yang percaya bahwa semua ada masanya.  Dan itu bagi saya bukan dalam waktu sekarang-sekarang ini.   Jadi, jangan mencoba mengintimidasi saya dengan dengan pertanyaan seputar topik tersebut yang mungkin bisa saja sensitif, tapi ya belum akan menyiksa hati dan pikiran saya paling tidak hingga sukses menjalani sidang.  Lastly, for my beloved mommy, trust me that I’ll have finished my study in this middle year and please pray for me to let it be true.  And I promise you when the great and possible opportunity come to me, I’m going to make your dream about me comes true. J

Kamis, 07 Maret 2013

The Confession of Future Educator




Menjadi seorang pendidik itu tentu saja bukan suatu pekerjaan yang mudah.  Mudah sih kelihatannya, namun praktiknya tak semudah kelihatannya.  Mendidik itu tidak sama dengan mengajar.  Jika mengajar lebih menitikberatkan pada bagaimana proses transfer ilmu pengetahuan supaya siswa dari tidak tahu menjadi tahu, hanya sampai di sana.  Maka mendidik tidak berhenti di sana saja, tetapi lebih jauh juga bagaimana menanamkan nilai moral pada diri siswanya.  Contoh sederhananya paling tidak bagaimana seorang pendidik bisa membuat suasana kelasnya kondusif tanpa harus membuang tenaga demi memarahi siswanya supaya diam.  Atau bagaimana seorang pendidik bisa mengerjakan hal lain semisal merekap nilai dengan tenang kala siswanya mengerjakan ulangan karena percaya bahwa para siswanya berlaku jujur.

Nah, kalau diinternalisasikan ke dalam diri penulis, penulis sih merasa belum berhasil untuk ada di level pendidik.  Bukan tidak berusaha, tapi sejauh ini nampaknya usaha (yang bisa jadi belum seberapa keras ini) tersebut masih tak kunjung berbuah hasil yang manis.  Ya bagaimana, indikasi nyatanya kapan pernah penulis keluar kelas dalam keadaan tenggorokan yang baik-baik saja? Rasa-rasanya belum pernah.  Meski tidak sampai marah-marah (karena memang tidak bisa dan tidak tega marahin anak orang), tetapi minimal penulis masih harus teriak-teriak di kelas demi membuat atmosfer kelas menjadi kondusif (baca: mendiamkan siswa).  Dan setelahnya…masih ditawari gorengan pula oleh mereka (do you get what I mean?).

Penulis sih awalnya merasa kalau siswa nya yang kurang kooperatif.  Tapi semakin lama, semakin sering, semakin dievaluasi…fix faktor penulis-nya yang justru bermasalah.  Terutama sebagai organisator, mangacu pada kondusivitas kelas, penulis merasa tingkat kegagalannya 90%.  Alat ukurnya yaitu saat penulis mengajar di kelas lain yang dari hasil survey beberapa rekan yang juga sempat mengajar di kelas tersebut dikategorikan sebagai kelas yang paling tenang, lho kok ya malah (jadi) ribut pas sama penulis.  Kok iso mereka santai aja makan minum di depan penulis.  It clearly indicates something wrong with me. 

Berkaca dari sana, banyak sekali PR yang harus penulis tuntaskan guna betransformasi menjadi pendidik yang baik.  Sampai hari ini saja bahkan menjadi pengajar yang baik pun penulis masih sangsi.  Makanya selalu ada perasaan bersalah setiap penulis keluar dari kelas.  Apalagi saat para siswa meminta penulis yang saat ini hanya berstatus sebagai tenaga pengajar pengganti saban dua mingguan ini untuk menjadi pengajar tetap.  Terlepas dari motif  mereka yang beragam (sebagain besar lebih karena atmosfer tegang yang terbangun dengan staf pengajar aslinya), bagi penulis menjadi pengajar tetap adalah beban moral tersendiri untuk saat ini.  Memang, pada akhirnya skill mumpuni dan jam terbang sangat memegang peranan penting di sini. 

Sebagai ‘orang baru’ dalam dunia pengajaran masih banyak hal yang belum dan harus penulis kuasai dan atasi.  Bukan semata deg-degan, bukan.  Perasaan itu sudah sangat lama bisa diatasi.  Ini lebih kepada perasaan bersalah saja, terlebih ketika kita hadir tanpa persiapan yang matang.  Rasanya adalah sebuah penghianatan kepada mereka yang terlihat sungguh-sungguh menyambut kehadiran kita (ya mungkin juga karena berjumpa dengan kita berarti terhindar dari ketegangan dengan pengajar aslinya).   Sekali lagi, apa pun modus mereka, yang jelas penulis selalu yakin ada diantara mereka yang memang mencintai dengan tulus mata pelajaran ini dan selalu menantikannya dengan antusias.  Dan merekalah yang tentu paling kecewa pada akhirnya dengan semua keterbatasan penulis.  Maaf..itu saja mungkin kata yang bisa penulis utarakan di sini.  Maaf belum bisa menjadi fasilitator yang baik.  Maaf belum bisa menjadi penyampai yang jelas.  Maaf belum bisa menjadi contoh panutan. 

Akhirnya, saat ini hanya kata maaf saja itu yang bisa terucap.  Ke depannya, penulis berjanji akan terus berusaha dan belajar demi menjadi pendidik yang baik.  Pendidik ya, bukan sekedar pengajar.  Mudah-mudahan gak keluar kelas dengan tenggorokan yang gatal dan suara parau lagi.  Ya, kalaupun tidak berakhir di ranah pendidikan formal (sejujurnya, kurang tertarik bergelut di sini), minimal kan bisaditerapkan kepada anak cucu kita nantinya.  Yang jelas, bukan sengaja tidak memberikan yang terbaik, namun nampaknya usahanya masih harus ditingkatkan.  Sekali lagi, betul bahwa mendidik itu bukan suatu pekerjaan mudah, namun bukan berarti mustahil.  Dengan kesungguhan dan kerja keras dijamin kelak bisa terwujud.  Salam sukses untuk kita semua ya. :)

p.s: artikel ini dipersembahkan secara khusus sebagaipermohonan maaf untuk mereka yang merasaterkhianati antusiam-nya terhadap pelajaran yang sapenulis bawakan...