Sabtu, 09 Oktober 2010

Bagaimana Menjadi Penulis Perjalanan

Y! Newsroom - Jumat, 8 Oktober


Dengan semua kemajuan teknologi yang kita miliki, termasuk mesin pencari internet, aplikasi Google View, dan siaran televisi tentang reportase perjalanan, sebenarnya masih sedikit yang kita ketahui tentang dunia. Setidaknya, itulah yang ada dalam pikiran penulis perjalanan William Dalrymple.

"Hanya karena kita semua memakai Nike dan Reebok yang sama, bukan berarti kita adalah manusia yang sama. Tulisan perjalanan menjadi penting ketika sekarang kita seolah berada dalam sebuah keseragaman, tetapi itu semua semu," kata Dalrymple.

Di sinilah berperjalanan dan menuliskannya menjadi sesuatu yang penting dilakukan. Penulisan tentang perjalanan atau travel writing, menurutnya masih belum cukup dihargai. Padahal karya klasik seperti epik Gilgamesh dan kisah pengasingan para Pandawa yang mengembara menjadi bukti betapa tuanya genre tulisan perjalanan sebenarnya.

Beberapa karya Dalrymple termasuk In Xanadu, City of Djinns (pemenang Thomas Cook Travel Book Award dan Sunday Times Young British of the Year Award), The Age of Kali (meraih French Prix D'Astrolabe), dan White Mughals (memenangkan Wolfson Prize for History 2003 dan penghargaan Scottish Book of the Year).

Di Ubud Writers & Readers Festival 2010, dia memberikan sesi pembacaan karya-karyanya dan beberapa tips tentang bagaimana menjadi penulis perjalanan. Inilah resep menjadi penulis perjalanan versi Darlymple:

Subjektivitas itu penting. Menulis tentang perjalanan adalah sesuatu yang subjektif. Objektivitas adalah sesuatu yang tidak mungkin dicapai. Karena, pada intinya, perjalanan adalah sebuah pengalaman personal seseorang ke sebuah dunia baru dan kembali dengan hasil reportase.

Subjektivitas itulah yang menjadikan tulisan perjalanan begitu beragam. Apa yang dilakukan Bill Bryson, berbeda dengan apa yang dilakukan Ryszard Kapuciski. "Tenggelamkan diri Anda dalam objek cerita, dan datanglah dengan laporan akan dunia yang Anda kunjungi itu." Ada penulis perjalanan yang memilih membenamkan diri dalam subjek revolusi, arsitektur, atau mencari burung-burung eksotis di Amerika Selatan. Kesamaan antara semua tulisan perjalanan yang baik adalah ada antusiasme dari penulisnya yang tampil di situ.

Jaga jarak. Dalrymple memilih untuk lebih memfokuskan pada detail di sekitarnya dan orang-orang yang ia temui daripada menulis tentang perasaannya sendiri. "Dengan begitu, penulis perjalanan tidak akan terjebak dalam kefrustrasiannya, atau prasangkanya, atau kegembiraannya terhadap dunia baru yang mereka temui. Jika tidak, penulis akan lebih menulis tentang diri mereka sendiri daripada tentang tempat di mana mereka berada."

Percakapan adalah inti. Dalam proses menulis, Dalrymple memilih untuk mewawancarai beragam subjek dan kemudian merekam suara mereka secara verbatim, bahkan ketika mereka membeberkan fakta yang jelas salah. "Karena itulah versi mereka akan suatu kejadian, sehingga kita memahami dasar pemikiran dan pilihan perilaku mereka," tambah Dalrymple. "Percakapan adalah jantungnya tulisan perjalanan."

Catat semua detailnya. "Percakapan, bau, bunyi, tak penting jika hasilnya adalah catatan yang terpisah-pisah dan melantur, pokoknya, catat semua detailnya."

Jangan lupakan riset. Detail lokasi dan wawancara penting saat berperjalanan, tetapi riset membantu memberikan latar belakang dan menambah kekayaan tulisan. Biasanya Dalrymple akan menghabiskan satu tahun melakukan penelitian dan menghabiskan enam bulan untuk menulis.

Matikan internet ketika menulis. "Sehingga Anda benar-benar bekerja dan tidak kemudian malah membuka Facebook," ujar Dalrymple.

Bangun pagi. Setidaknya itu cara yang dilakukan Dalrymple untuk kemudian mulai menulis. "Perlakukan proses ini selayaknya Anda sedang bersiap-siap untuk menghadapi ujian. Anda mempersiapkan diri dengan tekun lewat riset dan wawancara, kemudian Anda menulis dengan fokus dan tenang."

Duduklah dan mulai menulis. Mulailah dengan sesuatu yang sederhana. Jangan langsung berharap untuk mendapatkan prosa-prosa sempurna seperti yang dihasilkan Bruce Chatwin. "Itu akan datang nanti. Tapi yang terpenting, duduk, dan mulailah menulis."

Isyana Artharini (Ubud)

diambil dari http://id.news.yahoo.com/yn/20101008/tid-bagaimana-menjadi-penulis-perjalanan-a143c86.htmlm

Reality Show Indonesia: Nyata seNyata-nyatanya SETTINGAN!


Readers, taukah kalian bahwa beberapa tahun belakangan ini penulis demen BGT ngikutin Reality Show di salah satu TV swasta yang suka nayangin siaran Live Liga sepak bola lokal. Dua-tiga (gak yakin, pokoknya sekitar segitu) musim awal sih masih bisa dijamnin lah kerealannya, tapiiiii memasuki musim baru tahun ini jreng jreng jreng awalnya sih gak begitu kentara kecuali beberapa konsestan dengan karakter yang terlalu menonjol dan konflik yang terlalu over (baca: lebay). Okeylah, yang namanya konflik emang susaah BGT buat dihindarin apalagi buat 18 orang yang tidak saling kenal sebelumnya dan sekonyong-konyong mesti berbagi atap. Terlalu banyak perbedaan, kepentingan, dan minimnya waktu beradaptasi satu sama lain membuat konflik semakin mudah terbangun. Ditambah lagi ada seorang konsisten berkarakter nyeeneh yang demeeeeeen BGT mercikin api-api konflik! Yah jadi sampai sana penulis masih menganggap wajar lah, apalagi ada kompor bledug gituh, meskipun sebenarnya penulis juga sudah mulai mencium ketidakrealan tayangan berlabel reality ini!

Minggu demi minggu pun berlalu, dan keganjilan itu semakin nyata! Mulai dari konflik yang selaluuuu aja ada tiap harinya (tiap hari loh, bukan tiap minggu!), dan konfliknya itu pasti memekakan telinga dan bikin mata sipit-sipit (full of teriakan dan ganas!). Gak tanggung-tanggung konfliknya hampir melibatkan semua peserta gak peduli kaum adam atau hawa sekalipun. Tetapi satu hal yang pasti: hampir semua konflik itu pasti melibatkan seorang kontestan yang dikenal sebagai provokator, Erik asal Yogakarta. Setiap episodenya pastii aja dihiasi oleh konflik yang bisa tiba-tiba menyeruak dan tiba-tiba pula mereda. Entahlah penulis makin lama jadi merasa seperti menonton sinetron ketimban reality show! Penonton seakan diajak menebak siapakah sebenarnya tokoh utama dibalik “sinetron” stripping itu, dan siapakah yang nantinya menjadi the one who got the 1 million home?

Karena sejauh ini penonton disuguhi jalan cerita yang cukup berkelok. Dimulai dengan hubungan yang netal, lalu terjalin persahabatan, merenggang, baikan lagi, bersitegang, bermusuhan, sampai kisah asmara. Dan yang paling mengentarakan yah itu tarik ulur hubungan antar kontestan, apalagi kisah asmaranya (iwaaaw!!)! Taukah kalian wahai readers, masa iyah satu orang kontestan cewek terlibat affair sama empat kontestan cowok hanya dalam kurun dua bulanan. Belum lagi ada kontestan cowok yang punya kasus serupa dengan si kontestan cewek, bahkan jumah “lawan main”nya pun sama: 4 orang! Sekadar kebetulankah wahai readers? I guess not, not at all!

Iya masa iyah, dalamdua bulan bisa gonta-ganti pasangan sampe empat kali sekaligus coba?? Serumah pula! Coba adakah logika yang bisa menjelaskan semuanya? Satu-satunya penjelasan logis yah kemungkinan besar dua-duanya itu sama-sama bosenan a.k.a Playboy and Playgirl! Gini loh, di awal lita hanya disuguho dua kisah asmara yang masih bisa diterima nalar. Tapi, semakin kesini, keadaan tuh seolah bisa berbalik sampai 180 derajat hanya dalam tempo beberapa minggu bahkan hari. Gimana yang asalnya saling benci jadi tiba-tiba pacaran, yang tadinya adem ayem jadi berantem mulu, yang gak ada pun sampai maksa diada-adain coba! Jelas-jelas di salah satu episode seorang kontestan pernah memperkenalkan kekasihnya, namun minggu ini ia dikabarkan punya suatu hubungan yang lebih dari sekadar teman sama si Don Juan di rumah karantina itu. Masuk akal gak sih???? Belum lagi ada satu cowok suka samadua cewek sekaligu, ceweknya juga seneng lagi dua-duanya! Sungguh aneh tapi nyata readers! Selain itu yah yang makin bikin penulis geli adalah sudah beberapa minggu ini tiap episode puncak (baca: waktu ekstradisi), selalu tidak LIVE! heloo what kinds of reality which is not live??

Padahal yah, dimusim-musim sebelumnya penulis gak nemuin tuuh hal-hal kayak gitu. Emang sih konflik itu ada, persaingan pasti terjadi, kisah asmara pun cukup mewarnai tetek bengek kehidupan para penghuni di rumah karantina itu. Tapi, yah itu tadi, semuanya berjalan selayaknya yang biasa terjadi di kehidupan sehari-hari: WAJAR. Tidak ada over eksploitasi satu karakter, konflik tak berujung dan terus-menerus, dan kisah asmara yang silih berganti begitu cepatnya. Memang ada dan selalu ada kontestan, konflik, serta kisah asmara yang menonjol, tapi semua masih dalam batasan nalar. Kalaupun memang telah sejak saat itu ada penyettingan, tidak banyak, berlebihan, dan hanya untuk melengkapi forat acara bukan menjadi menu utama. Hubungan antar penghuni pun meski tak melulu baik, tapi tak juga harus berkonflik setiap saat. Kisah asmara pun muncul dngan porsi yang wajar mengingat kebersamaan yang terjalin selama berminggu-minggu. Intinya, yang lalu-lalu, much more REAL than today!

Miris juga sih mengingat pengonsep sekaligus produser acara itu adalah seorang yang professional di bidangnya (kuis dan Reality Show). Sayang aja, padahal di penyelenggaran-penyelenggaraan sebelumnya gak sampai seover ini. Sebenarnya penulis pun selalu bertanya-tanya: kenapa sih reality show yang cukup terjamin kerealannya ini sampai harus terjebak ke dalam tayangan bersetting dengan kedok reaity show? Apakah permintaan stasiun TV? Lantas apa sebenarnya tujuan dihadirkannya reality show ini jika hasilnya (baca:pemenang) pun bahkan mungkin telah ditentukan?? Apa hanya ingin mengeruk untung dari smsfiktif yang masuk?? Jujur penulis cukup kecewa dan jadi gak mood buat ngikutin program ini sampai akhir, asli deh! Yah, emang sih apa yang penulis tumpahin disini belum tentu bener juga toh ini sih cuma sekelumit pengamatan penulis terhadap salah satu program kesayangan penulis (karena sayang jadi ingin meluruskan kiranya jika memang ada yang tidak lurus..heu). Semoga semuanya akan kembali ke jalannya, Reality means everything is real, tanpa settingan at all, semoga. Semoga. :))

Senin, 04 Oktober 2010

Gunners 7th Match on EPL 2010/2011

Derby London: Chelsea Vs Arsenal

Partai Big Match pekan pertama Oktober ini mempertemukan dua tim tertangguh asl London, Chelsea sang pemuncak klasmen sementara menjamu Arsenal, penghuni tangga ketiga (sebelum digeser Manc. City). Partai ini selayaknya big match lainnya senantiasa dinantikan para penikma bola di seluruh dunia. Maklum saja, Chelsea dan Arsenal sama-sama menjadi bagian dari the big four yang menjadi icon liga Inggris. Maka pertemuan sesama penghuni big four ini selalu menarik dan ditunggu-tunggu.

Kali ini Stamford Bridge menjadi saksi rivalitas kedua klub yang sama-sama meraih kemenangan di partai terahirnya di liga Champion. Statistik menunjukkan dalam empat pertemuan terahir, the Gunners selalu tumang di tangan the Blues. Hal ini menjadikan Chelsea berada dalam posisi yang diunggulkan. Tidak berlebihan memnag megingat sejauh ini permainan Chelsea cukup konsisten dengan hanya baru kalah sekali tanpa pernah kalah di enam pertandingan terakhirnya. Sementara Arsenal harus puas dngan 11 poin dari enam laga, dengan sekali kalah, duakali draw, dan tiga kali menang. Catatan ini tentu saja semakin memperkuat posisi tim asuhan Carlo Ancelotti ini untuk lebih diuntungkan.

Dan ternyata, prediksi banyak pihak itu menjadi kenyataan. Lagi-lagi skuad Arsene Wenger mesti mengakui keunggulan sang juara bertahan. Mereka dipaksa menyerah 2-0 melalui gol yang diciptakan Didier Drogba beberapa menit sebelum turun minum dan Alex sepuluh menit menjelang waktu normal habis lewat tendangan bebas Alex. Bahkan, semifinalis Liga Champion dua tahun lalu ini hampir saja berkali-kali menjebol gawang yang dijaga oleh Luis Fabianski seandainya tidak terjebak off side. Beruntung, hingga peluit akhir ditiupkan tidak ada lagi gol yang bertengger di jala gawang tim asal London Utara itu.

Arsenal sendiri sebenarnya bukan tanpa peluang. Meski tidak diperkuat beberapa pemain pilarnya yang masih berkutat dengan cedera (termasuk sang kapten Cesc Fabregas), sebenarnya permainan yang ditampilkan Andrei Arshavin dkk., ini mampu mengimbangi permainan John Terry dkk. Di babak pertama bahkan Chamakh, Nasri, serta Arshavin berkli-kali mendapat pleuang untuk menciptakan gol bagi kubu the Gunners. Sayangnya penyelesaian yang (mungkin) masih belum tenang serta pertahanan yang kokoh dari tim tuan rumah, berakibat pada tidak satu pun gol tercipta bagi kubu tim yang bermarkas di Emirates Stadium ini. Dan, hingga menit terahir tak ada golbalasan tercipta hingga Gunners harus pulang dengan tangan hampa.

Hasil ini tentu saja semakin memantapkan Chelsea di pucuk klasmen didikuti Manchester City dan Manchester United di posisi kedua dan ketiga. Sementara Gunners, tanpa tambahan poin, harus rela turun satu peringkat ke posisi empat klasmen sementara. Hasil ini pun semakin memerpanjang rekor pertemuan antara kedua tim sekota ini, dan memperlebar jarak poin antara Chelsea dan Arsenal yang kini mencapai 7 poin (tidaaaaaak!)! Dan hasil ini pun disebu-sebut menggambarkan peta kekuatan liga Inggris yang sesungguhnya.

Well terlalu dini memang kalau kita menyebutkan bahwa Chelsea lah sang calon kuat juara EPL musim ini. Karena bagaimanapun ini adalah sepakbola yang memunkinkan sgala sesuatunya terjadi selama bola msih bergulir di lapangan. Tak ada sesuatu yang pasti dalam sepak bola. Tim kuat sekalipun bukan tidak mungkin dikalahkan bahkan oleh tim promosi sekalipun. Lagi pula kompetisi ini masih panjang, masih ada banyak waktu untuk memperbaiki diri. Jadi posisi Chelsea sekarang bukan tak mungkin direbut oleh tim lainnya dengan syarat mereka mampu bermain konsisten.

Untuk Gunners, yah penulis sebagi GOOners tentu saja merasakan kekecewaan yang amat sangat atas hasil yang tidak begitu menguntungkan ini. Malah, jika penulis tak bisa mengontrol diri ingin rasanya menangisi ketidakberuntungan Gunners ini sejadi-jadinya. Namun kembali, bagaimanapun sepak bola hanyalah suatu permainan yang menuntut agar ada yang menang dan kalah. Tak ada kekalahan yang tak menyakitkan, tetapi bukan berarti kita menjadi begitu rapuh dan cengeng hanya karena tim kesayangan kita mesti tunduk di tangan lawan. Bagi penulis ada beberapa faktor yang membuat penulis enggan membuang-buang air mata untuk hasil yang kurang baik ini, diantaranya:

  1. Gunners menjalani laga tandang (Away) di kandang lawan.
  2. Ini baru pertandingan ke-7, yang notabene masih aka nada 20’an pertandingan lagi untuk dihadapi.
  3. Masih ada Liga Champion, Piala Carling, dan Piala FA.
  4. Gunners bermain tanpa Fabregas, Van Persie, Bendtner, Walcott, Vermalen (skuad inti).
  5. (Ini) bukan pertandingan yang menentukan.
  6. Dan alas alasan-alasan lain yang tidak mendasar.

Penulis sih hanya berharap, hasil yang kurang mennguntungkan ini semoga tidak terlalu mempengaruhi laga-laga yang bakal dilakoni Gunners ke depannya baik di liga domestic seperti EPL, Carling, dan FA, pun di Liga Champion. Toh, perjalanan masih panjang, masih akan ada derby serupa di Emirates awal tahun depan, disanalah sebenarnya yang akan lebih menentukan. Ingat, selama bola masih bergulir di lapangan apapun masih bisa terjadi. Jadi GO GUNNERS GO!!! We always support you Guys.. :) :) :)

Minggu, 03 Oktober 2010

Sinema 20 Wajah Indonesia: BADIK TITIPAN AYAH"

#SINOPSIS#

Tersebutlah Karaeng Tiro (Aspar Paturusi) dan karaeng Caya (Widyawati), sepasang suami istri asal Bira, Bulukumba, Sulawesi Selatan yang masih menjunjung tinggi ada istiadat Bugis. Suatu hari mereka, terutama karaeng Tiro, dibut berang oleh tingkah putri bungsusnya, Andi Tenri (Tika Bravani) yang nekat untuk melakukan silariang (Kawin lari) dengan Firman (Guntara Hidaya), kekasihnya yang takkunjung mendapat restu. Dalam adat Bugis, silariang merupakan suatu perbuatan yang mendatangkan aib besar bagi keuarga dan meluluhlantakkan harga diri mereka. Andi Aso (Reza Rahardian), kakak Tenri sekaligus sahabat Firman, yang sedang merampungkan skripsinya di Makassar pun dipanggil pulang oleh Karaeng Tiro, tetta nya (baca: ayah).

Aso diperintah oleh ayahnya untuk menemukan Tenri demi menyelamatkan harga diri keluarga. Dalam menjalankan tugsnya mencari dan membawa pulang kembali Tenri ke rumah, sang Tetta menitipkan sebuah Badik padanya. Badik merupakan senjata tradisional Bugis, yang menurut adat yang berlaku badik yang telah terhunus pantang kembali disarungi sebelum terlumuri darah. Artinya, jika badik sudah bicara maka pertumpahan darah pun tak pelak untuk dihindari. Sebenarnya ia tidak ingin menyimpan badik itu karena pada dasaranya ia merasa semuanya bisa diselesaikan tanpa kekerasan.

Namun, keteguhan hati Tettanya dalam menjunjung tinggi adat membuatnya terpaksa mengalah dan akhirnya menerima juga badik tsb. Ditambah lagi perkataan Daeng Limpo (Ilham Anwar), anak angkat karaeng Tiro yang diminta menemani Aso mencari Tenri. Limpo yang merasa berhutang budi pada keluarga Aso begitu menggebu dalam pencarian Tenri. Sikap keras dan emosionalnya bahkan hampir menimbulkan perpecahan baru dengan keluarga Firman yang memang sudah lama tidak akur, yang kemudian melatarbelakangi tidak turunnya restu pada Tenri-Firman. Ia menyesalkan sikap Aso yang hanya menyimpan saja Badik yang seharusnya dihunuskan pada Firman ataupun keluarganya yang dianggap merendahkan martabat keluarga. Beruntung, Aso bukan tipikal emosionaldan lebih bisa menahan diri sehingga tak sampai terjadi pertumpahan darah saat itu. Namun, sejak kejadian itu ia mulai befikir untuk menggunakan badik itu.

Aso yang masih belum mengerti ada dendam sebenarnya di masa lalu antar ayahnya dan ayah Firman akhirnya mulai paham mengapa ayahnya begitu menentang Tenri untuk berhubungan serius dengan Firman, padahal dulu ketika ereka masih bersahabat semuanya baik-baik saja. Dari amma nya (baca: ibu) ia tahu bahwa sebenarnya ayahnya tak ingin memupuk dendam, buktinya ia tak pernah mempermasalahkan persahabatan dirinya dan Firman. Namun rupanya keseriusan hubungan Tenri-Firman yang hingga mengarah pada hubungan kekeluargaan menguak luka dan dendam yang lalu antara ayahnya dan ayah Firman yang juga sahabat dipicu masalah bisnis dan kepercayaan. Maka saat hubungan Tenri-Firman mengarah kearah yang serius (baca: menikah), ia pun serta merta menolak memberikan restu hingga terjadilah silariang.

Aso, kemudian memutuskan untuk fokus mencari Tenri di Makassar sambil meneruskan proses penyelesaian skripsinya yang sempat tertunda. Disana ia sempat “ditodong’ sang kekasih juga sahabat yang mempertanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Namun, Aso tak begitu mengacuhkannya karena fokusnya kini hanya satu: menemukan Tenri.

Sementara itu, di tempat lain, Tenri yang ternyata sudah menikah dan sedang mengandung terus dirungrung kegelisahan bersama Firmn suaminya. Ia beberapa kali mengajak Tenri pulang ke kampung halamannya untuk eminta maaf namun ia enggan karena takut malah akan menimbulkan sesuatu yang tidak diinginkan. Terlebih setelah ia mengetahui bahwa Aso, kakak yang diharapkan bisa berpihak padanya tak bisa lagi diaharapkan, terlebih setelah ia mendapat informasi bahwa Aso dibekali dengan sebuah badik. Keputusasaan menimpa keluarga kecilnya. Tenri bukannya tidak rindu orang tua dan betah dicap anak durhaka, namun ia pun tak menginginkan hal yang buruk menimpa suaminya. Mereka pun terus bermain kucing-kucingan dengan Aso selama di Makassar. Sampai suatu hari Tenri melahirkan dan akhirnya diketahuilah keberadaannya oleh Daeng Limpo.

Di hari Tenri berniat kembali ke Bira untuk minta maaf dengan membawa serta bayi merekayang baru lahir itu, ayahnya dipanggil menghadap sang kuasa. Kematian ayahnya membuat Aso begitu terpukul sampai-sampai saat Tenri beserta suami dan anaknya tiba di Bira, ia telah bersiap menghujamkan badik yang terhunus. Firman yang juga memegang badik sama-sama menghunuskan badiknya. Melihat itu, Tenri maju ke tengah diantara kakak dan suaminya. Daeng Limpo meminta Aso untuk segera mengakhiri semuanya saat itu juga dengan badikyang ada ditangannya. Beruntung sebelum semuanya menjadi lebih buruk Karaeng Caya, Amma mereka menengahi. Ia dengan berurai air mata meminta agar semua permasalahan diselesaikan dengan jalan damai, tanpa harus ada badik yang terhunus, tanpa harus ada pertumpahan darah.

Setelah menjadi “mediator” ia pun bersimpu di hadapan suaminya memohon ampun atas pembangkangannya untuk pertama kali terhadap suaminya. Ia bukannya tak paham adat dan tak patuh suami, hanya saja ia tak sanggup harus menguburkan suami berikut anak dan menantunya sekaligus. Bagaimanapun katanya, kesalahan Tenri yang begitu besar bukan tak mungkin karena adaandil mereka juga. Semuayag terlibat dalam pertikaian itu pun larut dalam keharuan akan tindakan ‘pahlawan’ karaeng Caya yang mendamaikan pihak yang bertikai dengan kelembutannya. Kedua badik pun pada akhirnya hanya terhunus pada kayu-kayu yang ada disana. Dan kedua lelaki yang memegangi badik-badik itu pun kemudian berpelukkan.

Adegan ditutup dengan dihunuskannya badik titpan karaeng Tiro oleh Limpo ke pahanya sendiri. Adegan itu cukup menegaskan konsistensi seorang Limpo dalam menjalankan adat sebagaimana ayah angkatnya karena ia percaya bahwa badik yang telah terhunus tak bisa masuk kembali ke sarungnya sebelum ada darah yang melumurinya. Maka, setelah badik itu terhunus ke pahanya sehingga membuat badik itu berdarah barulah ia memasukkan kembali badik itu ke sarungnya dihadapan foto karaeng Tiro.



*****

#My Own Review#

Begitulah synopsis S20WI episode minggu ini. Secara keseluruhan sinema ini amat layak untuk disaksikan. Selain jalan ceritanya yang bagus, kualitas pemain dan settingnya pun tak kalah ciamik. Penulis sih tidak begitu mengenal logat Makassar, jadi yah bagi penulis tidak terlalu masalah. Oh,ya, yang juga menarik adalah pemilihan Bugis sebagai latar budaya dan tentu saja setting. Dari belasan judul S20WI sebelumnya, rata-rata latar budaya dan setting yang diambil adalah Jawajadi cukup mengenal adat dan budaya Bugis. Aksi Reza seperti biasa selalu memikat bagi penulis (ini juga nih sebenernya yang jadi alesan kuat penulis pengen BGT nonton nih sinema), pun Widyawati dengan kelembutannya. Aspar Paturusi, tampil meyakinkan dengan ketegasan dan keteuhannya dalam memegang adat, pokonya beda sekalai saat ia berperan sebagai ayah Furqon di KCB yang cenderung kalem dan penyabar. Tika Bravani, yah gitu-gitu aja sih sebenernya, penulis malah masih terngiang sama aksinya di ALNI. Naah, yang juga cukup menarik perhatian penulis ini nih yang jadi Firman, Guntara Hidayat, wajah imu-imutnya bikin gemes! hehe. Meskipun nothing special with his acting bagi penulis, tapi wajah imutnya cukuplah menutupi aktingnya yang so-so aja ituh . Yang jadi Limpo juga cukup konsisten dengan sikap keras dan emosionalnya. Tapi yah memang semua toh tak ada yang sempurna bukan, pun dengan sinema ini. Ada lah beberapa detail yang terlewatkan atau cenderung diabaikan. Okelah cerita Aso dan sang kekasih tak masalah untuk tidak dieksplore lebih jauh, tapi bukan itu, justru hal kecil, semisal bagaimana mungkin bayi yang paling banter hanya baru berusia 2 hari, bisa digendong seenak hati (gak takut pootong apa tuh bebi). Yah tapi terlepas dari berbagi kekurangan, overall, sinema yang satu ini layak diapresiasi. Setting yang indah tanpa didukung akting pemain yang ciamik dan tentu saja cerita yang berkualitas akan menjadikurang berarti. Maka, yuukz kita dukung gerakan produksi sinema berkualitas, bukan melulu kuantitas ang diutamakan .

Jumat, 01 Oktober 2010

Gunners Latest Match

Guys, kayaknya usah lamaaaaa BGT penulis gak posting ttg my Favorite Team ever: ARSENAL!

hemhh, udah 4 pertandingan berlalu sejak terahir penulis posting about them! Dan, ahad besok (3/10) one of the biggest, hotest, and best match *semoga-semoga* between Chelsea and Arsemal will be held on Stamfordbridge! *excuted, curios* Rekor pertemuan terakhir sih Gunners kalah dari the Blues 0-2. Berhubung partainya belum digelar, nih penulis kasih laporan 4 pertandingan Gunners yang udah dihelat!


1# Gunners 4th Match on EPL 10/11 (vs Bolton Wanderes)
date: September 11th, 2010
place: Emirates Stadium, London, UK
status: Home
score: 4-1 (Win)

2# Gunners 5th Match on EPL 10/11 (vs Sunderland)
date: September 18th, 2010
place: Stadium of Light, UK
status: Away
score: 1-1 (Draw)

3# Gunners 6th Match on EPL 10/11 (vs West Bromwich Albion)
date: September 25th, 2010
place:Emirates Stadium, London, UK
status: Home
score: 2-3 (Lose)

4# Carling Cup 3rd Round (vs Tottenham Hotspur)
date: September 22th, 2010
place: White Hart Lane Stadium, London, UK
status: Away
score: 1-4 (Win)

5# Champion Group Qualification 1st match (vs FC Braga )
date: September 15th, 2010
place: Emirates Stadium, London, UK
status: Home
score: 4-1 (Win)

6# Champion Group Qualification 2nd Match (vs Partizan Belgrade)
date: September 28th, 2010
place: FK Partizan Stadium, Belgrade, Serbia
status: Away
score: 1-3 (Win)

well, dari 6 pertandingan terakhir Gunners statistiknya sebagai berikut:
Win: 4 times
Lose: 1 times
Draw: 1 times

Dari statistik di atas bisa ditarik kesimpulan bahwa Gunners masih cukup kuat meski masih belum konsisten terutama di Liga Domestik saat para punggawa utama mereka seperti biasa *semoga tak menjadi kebiasaan* dihantam badai cedera! Dengan hasil seperti di atas saat ini tim asuhan Arsene Wenger ini menempati posisi ke-3 di klasmen EPL dengan tambahan 4 poin dari tiga laga terahirnya. Sedangkan di Champion league, tim asal London Utara ini memimpin klasmen grup H dengan 6 poin dari dua pertandingan. Selain itu, kemenangan 1-4 atas Tottenham membawa Gunners melaju ke babak ke-4 Carling Cup: melawat ke St. Jame's park, kandang New Castle United.

hemm, yang pasti ke depannya masih akan ada puluhan laga yang mestu dilewatin sama tim gudang peluru ini, tapi diantara yang paling dekat dan paling dinantikan adalah Derby London kontra pemuncak klasmen sementara sekaligus juara bertahan tim asuhan Carlo Ancelloti: Chelsea! Penasaran akan seperti apa jalannya pertandingam??? Yuuks stay tuned before TPI/Global Channel on Sunday night to watch that match..BE AWARE yaaaa....!!! *Always Hope the Best for GUNNERS* :))

Kamis, 23 September 2010

Enam Kabupaten Super Kaya di Indonesia

VIVAnews - Beroperasinya perusahaan skala besar di suatu wilayah berkontribusi besar terhadap pendapatan asli daerah itu. Tak terkecuali bagi sejumlah wilayah kabupaten/kota di beberapa daerah di Indonesia.

Enam kabupaten/kota di Indonesia tercatat memiliki pendapatan per kapita tertinggi. Pendapatan per kapita itu merefleksikan produk domestik bruto (PDB) per kapita masing-masing kabupaten/kota tersebut.

Enam kabupaten/kota dengan pendapatan per kapita terbesar itu rata-rata mencatat PDB per kapita di atas Rp100 juta. Kabupaten itu sebagian merupakan wilayah yang memiliki tambang, seperti emas, tembaga, batu bara, minyak dan gas. Namun, sebagian lagi menjadi pusat jasa, juga industri rokok yang menjadi urat nadi perekonomian wilayah tersebut.

PDB adalah nilai semua barang dan jasa yang diproduksi oleh suatu negara/daerah pada periode tertentu. PDB merupakan salah satu metode untuk menghitung pendapatan nasional/daerah.

Berdasarkan data yang dihimpun VIVAnews dari Badan Pusat Statistik (BPS) edisi Agustus 2010, Kota Bontang di Kalimantan Timur pada 2009 membukukan PDB per kapita tertinggi.

1. Kota Bontang, Kaltim

Tambang batu bara PDB per kapita Kota Bontang tercatat sebesar Rp368,05 juta. Bontang yang terletak sekitar 120 kilometer dari Samarinda itu berbatasan langsung dengan Kabupaten Kutai Timur di utara dan barat, Kabupaten Kutai Kartanegara di selatan, dan Selat Makassar di timur. Kaltim merupakan propinsi yang memberikan gaji atau upah tertinggi kedua secara nasional kepada karyawan atau buruh, yakni Rp2,15 juta per bulan.

Sejumlah perusahaan besar beroperasi di kota ini, di antaranya Badak NGL (gas alam), Pupuk Kalimantan Timur (pupuk dan amoniak), dan Indominco Mandiri (batu bara). Bontang juga memiliki kawasan industri petrokimia dan merupakan kota yang berorientasi di bidang industri, jasa serta perdagangan.

2. Kabupaten Mimika, Papua

Kabupaten Mimika di Papua selama 2009 membukukan PDB per kapita Rp295,05 juta. Di Kabupaten Mimika yang beribukota Timika itu beroperasi salah satu tambang emas terbesar dunia, PT Freeport Indonesia. Gaji atau upah rata-rata yang diterima pegawai atau buruh di Papua juga tertinggi di Indonesia, yakni Rp2,16 juta per bulan.
Kegiatan penambangan di lapangan tambang emas milik Freeport, di Papua.
Berdasarkan data Hasil Audit Badan Pemeriksa Keuangan terhadap Laporan Keuangan Pemerintah Pusat 2009, Kabupaten Mimika mencatat dana bagi hasil Rp424,33 miliar. Namun, perolehan dana bagi hasil itu masih lebih rendah dibanding Bontang yang mencapai Rp476,83 miliar.

3. Jakarta Pusat, DKI Jakarta

PDB per kapita tertinggi ketiga adalah Jakarta Pusat yang mencapai Rp224,41 juta. Sebagai daerah pusat ibukota pemerintahan, Jakarta Pusat diuntungkan dengan berkembangnya transaksi bisnis dan jasa. Upah atau gaji rata-rata yang diterima pegawai, pekerja atau buruh di Jakarta, tergolong tinggi, yakni Rp1,92 juta per bulan. Macet Jakarta

4. Kota Kediri, Jawa Timur

Suharti (57) menunjukkan produk rokok Gudang Garam di Pasar Pahing, Kediri. Sementara itu, Kota Kediri di Jawa Timur mencatatkan PDB per kapita Rp202,33 juta, atau menempati urutan keempat terbesar. Di kota kretek itu beroperasi pabrik rokok besar, PT Gudang Garam Tbk yang tahun lalu mencatatkan pendapatan Rp32,97 triliun.

5. Kabupaten Siak, Riau

kilang minyak offshore Di urutan berikutnya, Kabupaten Siak di Riau membukukan PDB per kapita Rp156,35 juta. Tidak ada perusahaan yang menonjol di daerah tersebut, meski potensi unggulan daerah ini adalah sektor pertambangan minyak bumi.

Kabupaten Siak juga memiliki potensi strategis mengingat daerahnya berada di wilayah segi tiga pertumbuhan ekonomi "Sijori" Singapura-Johor-Riau dan IMG-GT (Indonesia Malaysia Thailand Growth Triangle).

Dengan jarak hanya 150 kilometer dari Singapura, Siak diuntungkan sebagai persinggahan alternatif bagi kapal pedagang di Selat Malaka dan bahkan berpotensi besar menjadi relokasi industri dan layanan perdagangan internasional.

Namun, untuk dana bagi hasil, Siak menempati peringkat keempat terbesar atau mencapai Rp993,2 miliar. Penerimaan dana bagi hasil Kabupaten Siak ini hanya kalah dari Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur sebesar Rp2,56 triliun, Bengkalis (Riau) Rp1,51 triliun, dan Kutai Timur (Kaltim) Rp1,05 triliun.

6. Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat

Konsentrator Batu Hijau, Sumbawa, milik PT Newmont Nusa Tenggara Kabupaten lainnya yang mampu membukukan PDB di atas Rp100 juta adalah Kabupaten Sumbawa Barat di Nusa Tenggara Barat (NTB). PDB per kapita kabupaten yang di daerahnya beroperasi perusahaan tambang besar, PT Newmont Nusa Tenggara (NNT) itu mencapai Rp128,26 juta. (hs)


tulisan oleh Arinto Tri Wibowo

diambil dari http://bisnis.vivanews.com/news/read/179026-kabupaten-di-indonesia-paling-makmur (kamis, 23 September 2010)

Kamis, 16 September 2010

Darah Garuda - Merah Putih II

Sutradara: Connor Allyn, Yadi Sugandi
Penulis: Connor Allyn, Rob Allyn
Produser: Hashim Djojohadikusumo
Produksi: Media Desa Indonesia, Margate House
Rilis: 8 September 2010
Pemain: Lukman Sardi, Donny Alamsyah, Teuku Rifnu Wikana, Darius Sinathrya, Rahayu Saraswati, Asri Nurdin, Rudy Wowor, Atiqah Hasiholan, Aldy Zulfikar, Ario Bayu, Alex Komang.

Sinopsis:

Darah Garuda adalah sekuel dari film Merah Putih yang menghiasi layar emas setahun yang lalu. Kisahnya masih berkutat di perjuangan sekelmpok Tentara Rakyat yang masih tersisa pasca serangan tentara Belanda: Amir (Lukman Sardi), Thomas (Donny Alamsyah), Marius (Darius Sinathriya), dan Dayan (Teuku Rifnu Wikana).

Sebagai sekuel, cerita Darah Garuda melanjutkan perlawanan para TR yang belum usai terhadap Belanda. Cerita diawali pasca penyerangan empat sekawan tadi terhadap konvoi bahan bakar pasukan Belanda yang mengegerkan. Mereka menyita senjata dan bahan bakar yang tersisa serta sebuah mobil yang dikendarai Marius. Mereka tengah dalam perjalanan menuju pasukan Jendral Sudirman serta menyelamatkan Melati (Astri Nurdin) dan Senja (Rahayu Saraswati) yang di tempat lain dipekerjakan sebagai buruh di perkebunan teh bersama Lastri (Atiqah Hasiholan), seorang wanita "tangguh" namun penuh dendam pada Belanda.

Setelah berhasil menyelamatkan ketiganya, mereka bergegas menuju pasukan Jendral Sudirman. Malangnya, bahan bakar kendaraan yang mereka tumpangi habi sehingga terpaksa perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki. saat bermalam di tengah hutan, Lastri memilih jalannya sendiri dan pergi meningalkan rombongan Thomas dkk. Keesokan harinya, perjalanan pun silanjutkan kembali. Di tengah jalan mereka berpapasan dengan sejumlah pasukan khusus dibawah komando Sersan Yanto (Ario Bayu), yang ternyata salah seorang anak buah Jendral Sudirman. Bersama Yanto, akhirnya Amir dkk., sampai pula di
base camp padukan Jendral Sudirman yang sedang dalam keadaan sakit paru-paru. Karena kesuksesan meluluhlantakan konvoi bahan bakar pasukan Belanda, akhirnya Amir diangkat menjadi Kapten, sementara yang lain setingkat Letnan, dan mereka diberi misi khusus sebagai mata-mata untuk menghancurkan pangkalan udara Belanda yang hampir jadi di daerah Jawa Barat.

Tanpa berseragam (mengenakan pakaian rakyat) serta dengan ditemani pasukan khusus lainnya yang dipimpin sersan Yanto, mereka memulai misi mereka. Tanpa sepengetahuan siapa pun diam-siam Senja yang ingin membalaskan kematian adiknya, Soerono, ikut ke dalam rombingan pasukan khusus tersebut setelah menyamar sebagai lelaki, sementara Melati tetepa berada di camp sambil kebingungan mencari Senja yang tiba-tiba menghilang. Di tengah perjalanan, pasukan khusus ini berpapasan dengan pasukan Belanda hingga terjadilah baku tembak. Pasukan dibawah komando Mayor Van Gartneer (Rudi Wowor), yang berhasil melarikan diri dari Amir skk ini membuniuh hampir semua pasuka khusus kecuali Amir dkk., Senja, Sersan Yanto serta Budi (Aditya), anak emas Yanto, anggota pasukan khusus yang paling muda namun juga palig berbakat. Dalam serangan ini, Dayan yang terluka akhirnya ditinggalkan oleh Amir dkk., yang berada dalam kondisi terdesak.

setelah berada di tempat aman, mereka mkembali mengatur strategi. Yanto yang bisa mengendarai mobil menawarkan duru menjadi umpan. Suara tembakan menandai Yanto tidak bisa menyelamatkan diri dari pasukan Belanda. Mereka pun akhirnya melanjutkan misi dengan kembali berjalan kaki. Di tengah jalan, mereka kembali berpapasan dengan pribumi yang kemudian bersama sanggotanya menyeretnya menemui the Kiayi (Alex Komang), seorang pemimpin pasukan pemberontakan muslim radikal terhadap Belanda yang kurang mempercayai tentara Indonesia. Setelah sempat ditahan selama beberapa jam, akhirnya mereka pun dilepaskan dan bahkan dibekali sejumlah rangkaian bom untuk menghancurkan pasukan Belanda.

Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, sampailah mereka di tempat persinggahan: sebuah rumah yang lokasinya tak begitu berjauhan dengan gedung pusat pertahanan Belanda serta pangkalan udara yang hendak dihancukan tersebut. Sementara di tempat lain, Dayan yang ternyata masih hidup disekap oleh Van Gartneer untuk dipaksa memeberikan informasi tentang pergerakan pasukan tentara Indonesia. Ia yang tak bergeming dengan pendiriannya akhirnya harus menadapat siksaan bertubi yang dikahiri dengan pemotongan lidahnya agar tak mampu buka suara lagi untuk selama-lamanya. Disana pula lah diketahui bahwa Yanto telah berkhianat sehingga Belanda mengetahui misi pasukan Indonesia tsb. Pasca dipotong lidahnya, Dayan pun dibuang di suatu tempat di tengah gelap gulitanya malam. Lastri yang berada tak jauh dari situ akhirnya menolongnya.

Amir, Thomas, Marius, Senja dan Budi mulai melancarkan misinya. Thomas dan Budi mendapat tugas mengebom kamtor pusat Belanda, sementara yang lian bergerak menuju pangkalan udara. Misi mereka hampir-hampir menemui ujungnya ketika salah seorang sanak buah The Kiayi hendak menjual informasi pada Van Gartneer, beruntung rencana tersebut terendus oleh anak buah the Kiayi lainnya yang akhirnya membunuh penghianat tsb. Misi mengebom gedung pusta pertahanan Belanda tidak berjalan semulus yang diharapkan. Penyusupan mereka terendus oleh entara Belanda hingga terjadi baku tembak. Mereka menggeledah ruangan satu persatu setelah sebelumnya meletakan bom yang siap meledak di salah satu ruangan, sampai akhirnya mereka menemukan Yanto yang pura-pura disekap di sebuha ruangan. berempat dengan anak buah the Kiayi mereka melalkukan perlawanan dan melarikan diri. saat itulah Yanto menembak sang anak buah the Kiayi hingga tewas serta melempar potongan lidah Dayan pada Thomas seraya mengungkapkan jati dirnya yang sebenarnya: PENGKHIANAT! Sayang niatnya untuk mengeuk keuntungan dari aksi pengkhianatannya berakhir tragis: tubuhnya luluh lantak bersamaan dengan ledakan bom di gedung pusat pertahanan Belanda tersebut. Thomas dan Budi yang telah berhasil meloloskan diri beberapa saat sebelum bom meledak bergegas menyusul Amir, Marius, dan Senja ke pangkalan udara.

Ledakan di kantor pusat menbuat segalanya menjadi kacau, konsentrasi tentara Belanda menjadi tertuju pada ledakan di kantor pusat. Sementara Amir dkk semakin bergerak maju mendekati pangkalan udara. Setibanya di lokasi tujuan mereka segera melancarkan aksinya. Sejumlah bom siap meledak mereka simpan di beberapa titik karena tujuan mereka satu: menghancurkan pangkalan udara tsb agar pergerakan pasukan Belanda terhambat bahkan terhenti. Namun, usaha mereka terendus juga oleh Belanda sehingga terjadilah aksi saling tembak hingga Amir dkk terdesak. Bahkan, Thomas yang sempat dua kali terlempar oleh ledakan bom mengalami lika yang cukup parah. Beruntung di saat-saat genting munculah Dayan menyelamatkan mereka. Mereka pun akhirnya berhasil menjauh dari pangkalan udara dengan pesawat yang dikendalikan oleh Marius. Bom pun meledak, dan credit title pun muncul di layar bioskop. That's the end of this movie.

trailler Darah Garuda


My Own Review:
Dibanding sama prekuelnya, dalam film ini lebih banyak aksi peperangannya. Yah dari keseluruhan scene, hampir 80% nya diisi oleh perang. Bahkan, kepulan asap juga cukup mendominasi film ini. Kalau di Merah Putih, fokus cerita masih pada pengenalan karakter utama yang berasal dari 5 daerah dan latar belakang yang berbeda satu sama lain, dalam Darah Garuda sudah mulai fokus pada upaya mereka berjuang melawan tentara Belanda. Tokoh-tokoh pendukung seperti Melati dan Senja, yang merupakan istri Amir serta kakak Surono yang juga kekasih Thomas masih dihadirkan. Bahkan Senja yang awalnya membenci peperangan yang telah membunuh kedua orang tuanya serta adik tercintanya Soerono kemudian memberanikan diri terjun langsung dengan menyamar sebagai pria. Di film kedua ini, kisah antara Senja dan Thomas semakin dieksplor meski tidak begitu besar porsinya, namun cukup mewarnai alur cerita. Sementara di tengah kelamnya peperangan, kita masih bisa tertawa renyah melihat aksi Marius yang cenderung konyol. Sementara kisah suami istri Amir-Melati, masih begitu-begitu saja, datar (entah memang sengaja digambarkan begitu, entah memang kurang tereksplor). Yang cukup menarik perhatian dimasukannya beberapa tokoh baru, diantarnya Lastri, Sersan Yanto, dan Budi. Lastri, yang tidak dibahas asal-usulnya tiba-tiba hadir di tengah pasukan Amir dkk., kemudian memilih pergi tetapi kembali berjumpa dan bahkan merawat Dayan, kemudian digambarkan sebagai sosok yang tidak memiliki rasa takut. Sersan Yanto yang nampak meyakinkn namun ternyata hanya seorang pecundang. Serta Budi, seorang anak yang kehilangan orang tuanya sebelum kemudian menjadi anak emas Sersan Yanto. Overall, cukup okelah, meskipun yah berhubung ini kisah trilogi otomatis akhir cerita yang sedemikian rupa itu belum bisa dikatan happy ending ataupun sad ending. Kita masih harus menunggu film ketiganya keluar jika ingin mngetahui akhir ceritanya. Yang pasti film ini masih amat layak ditonton. Sementara jilid ketiganya amat layak ditunggu. Ketika penulis memonton film ini gedung bioskop dipenuhi dengan sorak sorai penonton dalam adegan-adegan tertentu, terutama ketika adegan peperangan, saling tembak, serta pengeboman. paling heboh waktu scene-scene akhir pas Dayan hampir ketinggalan (lagi) pesawat yang dikemudikan Marius. Hal ini tidak terlepas dari efek visual fim yang membuat penonton seakan menyaksikan ledakan-ledakan bom ala Hollywood hasil racikan ahli-ahli visual efek profesional bertaraf internasional. Gak heran budget yang dikeluarkan mencapai sekitar 60 miliar untuk trilogi!

Darius kocak abis deh bawaain tokoh Marius yang penakut lagi konyol. Donny Alamsyah juga tetep cool dengan logat Menadonya. Lukman Sardi masih dengan wibawanya sebagai pemimpin. Teuku Rifnu, masih kalem dengan kesetiaannya sampai-sampai mesti merelakkan lidahnya dimutilasi (ngilu SGT adegan satu ini). Rahayu Saraswati masih seksi tuh suaranya (berat-berat gimanaaa gituh! hehe). Asri Nurdin yah masih selayaknya Melati, perempuan Jawa yang lemah lembut lagi manut sama suami (gak begitu sering muncul juga). Atiqah Hasiholan masih seksi tuuh mau pas masih compang camping kek apalagi udah dandan! Aldy Zulfikar, pendatang baru pemeran Budi juga cukup okelah mainnya. Ario Bayu juga cukup oke jadi penghianat. Rudy Wowor masih dengan logat Belandanya yang lekoh. Anyway, tonton deh nih movie, gakan nyesel kok, selain ceritanya yang yah okelah, pemaennya juga pada sedap dipandang meski dalam kondisi teu pararuguh (da kalau dasarnya udah ganteng mah, mau penuh luka, kotor, dsb juga teteip weh ganteng! haha). So, Let's watch this movie..soon! :))