Rabu, 01 Juni 2011

Sinema Wajah Indonesia: Sandal Butut

Semacam Prolog

Alhamdulillah...akhirnya setelah dua kali berturut-turut ketinggalan nonton FTV Sinema Wajah Indonesia, akhirnya sabtu lalu (28/05), penulis berhasil menyaksikan kembali tayangan yang sudah lama penulis nantikan kehadirannya setelah terakhir kali tayang berbulan-bulan lalu. Penulis amat merasa senang saat pertama kali menyaksikan iklan tayangan program ini. Penulis pun amat berterima kasih kepada SCTV yang telah berbaik hati melanjutkan program yang bagus ini. cerita dan pemainnya lah yang membuat penulis senantiasa menantikan kehadirannya. Sayang, di dua judul awal Mahasmara (Ardinia Wirasti, Ringgo Agus) dan Tak Cukup Sedih (Happy Salma--di sinema 20 wajah Indonesia penulis juga kelewatan sinema yang dibintangi Happy) karena satu dan lain hal penulis berhalangan untuk menyaksikan sehingga tidak bisa membuat resensinya (penulis lebih nyaman meresensikan apa yang sudah penulis lihat daripada sekedar megetahui dengan membaca resensi orang lain..hehe). Bahkan yang ketiga ini pun, hampir-hampiran terlewat kalau saja penulis kebablasan tertidur (maklum kondisi saat itu sedang tidak fit) . beruntung penulis bangun sekitar pukul 23.00 lewat dan sudah ketinggalan beberapa menit, yaah memakai pepatah umum "lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali". Oh, ya, mohon maaf kalau terasa aneh..maklum udah cukup lama gak bikin resensi..hehe, so, enjoy..! :))

*****

Pemain: Ringgo Agus Rahman, Jajang C. Noer

Synopsis:

Tersebutlah seorang pemuda miskin yang hidup berdua saja di gubug sederhana bersama sang ibu yang berprofesi sebagai tukang layangan. Muslim bin Mu’min (Ringgo Agus) namanya. Ia hidup di sebuah dusun di daerah Boyolali. Di dusun yang sama, tinggal juga Pak Mansyur, seorang anggota DPRD sekaligus salat seorang tokoh berpengaruh dan terpandang di dusun tempat ia dan Muslim tinggal.

Suatu hari di hari Jum’at, Muslim yang biasa nya bertelanjang kaki kemana-mana hari itu berangkat ke masjid dusun untuk mengikuti shalat jum’at dengan menggunakan sandal baru. Karena khawatir aka nada yang mengambil ia menyembunyikan sandalnya di tempat yang tersembunyi. Konflik pun dimulai ketika beres shalat jum’at Muslim mendapati sendalnya telah lenyap dari tempat persembunyiannya. Setelah mencri kesana-kemari ia pun menyerah sampai akhirnya di tengah keputusasaan ia mendapati sepasang sandal butut yang masih tersisa. Setelah melihat sekeliling dan merasa yakin bahwa sudah tidak ada orang lagi di masjid tsb ia pun berfikir bahwa sandal butut itu milik sang pencuri sandal, da ia pun berinisiatif memakainya pulang.

Di saat ia hendak memakai sandal butut tersebut, pak Mansur yang ternyata sedari tadi berada di balik mimbar membetulkan speaker mesjid spontan meneriaki Muslim sebagai maling setelah menangkap basah Muslim mengambil sandalnya. Kontan saja jamaah yang baru saja bubar dan masih belum beranjak jauh dari masjid pun segera mengerubuti Muslim yang seketika menjadi tersangka. Beruntung sekaligus menjadi suatu kerugin bagi Muslim, diantara jemaah yang masih bersisa ada seorang polisi yang juga merupakan warga dusun yang sama serta sama-sama menjadi korban pencurian sepatu di masjid yang sama segera mengamankan Muslim dari ancaman amukan warga sekaligus memboyongnya ke kantor polisi setempat untuk dimintai keterangan.

Di kantor polisi, Muslim yang sedari tadi tidak mendapat kesempatan membela diri segera menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya. Ia menjelaskan bahwa ia tidak bermaksud mencuri sandal butut milik Pak Mansur, justru ia menjadi korban pencurian sandal. Sang polisi tidak percaya begitu saja pasalnya kejadian pencurian sandal di masjid tersebut bukanlah yang pertama sehingga kontan saja Muslim yang dituduh sebagai sang pencuri yang selama ini meresahkan jamaah masjid tersebut. Pak Mansur pun sebenarnya tida bermaksud memerkaran bahkan memenjarakan Muslim, ia hanya ingin menegakkan hukum dan membiarkan hukum yang mengurusi masalah tersebut. Sejak hari itu Muslim terpaksa mendekam di penjara sampai perkaranya diputuskn di pengadilan.

Sementara itu di gubugnya, sang ibu menanti anaknya yang tak kunjung pulang. Menjelang sore, bukan Muslim yang didapatinya pulang, melainkan Pak Lurah berikut beberapa orang lainnya yang membawa kabar bahwa Muslim ditahan dengan tuduhan pencurian sepasang sandal butut. Mbok Ijah (Jajang C. Noer), sang ibu yang tak percaya anaknya mencuri seketika tidak sadarkan diri saking kaget dan sedihnya. Setelah sadar, ia pun segera menjelaskan pada semua orang bahwa anaknya, Muslim, tidak mungkin melakukan hal seperti itu. ia bahkan dengan yakinnya mempersilakan Pak Polisi yang hendak memeriksa kalau-kalau Muslim menyembunyikan sandal hasil curiannya tersebut di salah satu sudut rumahnya. Dan ternyata setelah berkeliling hasilnya nihil! Tidak ditemukan sepasang sandalpun di rumah sederhana itu. Polisi berikut rombongan Pak Lurah pun segera meninggalkan rumah Muslim setelah tak menemukan satu bukti pun. Mbok Ijah, sang ibu, hanya bisa menangis meratapi nasib Muslim anaknya yang mesti dipenjara karena hal yang belum tentu dilakukannya.

Keesokan harinya, Mbok Ijah mendatangi Muslim di penjara. Ia mengantarkan beberapa helai baju dan makanan yang terbungkus kain untuk anaknya. Mbok Ijah pun sempat mendatangi rumah PakMansur dan memohon beliau untuk membebaskan Muslim. Namun, Pak Mansur tetap bergeming pada keputusannya untuk menyerahkan semuanya pada hukum. Ia yang merasa prihatin lantas mengirim anaknya, Umam, untuk mengantarkan sejumlah uang pada Mbok Ijah. Mbok Ijah yang merasa tidak berhak menerima uang itu dan tidak ingin dikasihani sekalipun mereka miskin dengan halus menolak uang pemberian Pak Mansur tersebut. Namun, pak Mansurpun tidak menyerah beitu saja. Keesokan harinya ia kembali mengirim anaknya dengan misi yang sama, namun kali ini dengan cara yang berbeda. Umam datang dengan dalih memborong semua layangan mbok Ijah untuk dipakai bermain oleh ayahnya dan teman-teman pejabat lainnya. Kali ini, mbok Ijah pun mau menerima uang itu.

Layangan yang diborong itu pun akhirnya dijual kembali oleh Umam atas permintaan sang ayah sebagai bukti apakh ia mampu mencari uang atau tidak. Sayangnya, berhari-hari mangkal di depan sekolah dasar tak satu pun layangannya terjual sampai akhirnya ia menjual gratis seluruh layangannya, dan laku! Pada ayahya ia berdalih dengan melakukan hal itu setidaknya ia telah melakukandua kebaikan yakni beramal dan menyenangkan orang lain.

Seminggu pun berlalu, Muslim yang kekeuh bahwa ia bukan pencurisandal yang selama ini meesahkan jamaah masjid pun, diboyong kembali untuk melaksanakan shalat jum’at disana sekaligus untuk membuktikan benarkah bukan ia pelakunya dan meminta keteranga tukang sandal yang mnurut Muslim tahu bahwa ia baru saja membeli sandal baru. Selama di masjid tangannya tak lepas dari borgol yang mengikatnya dengan sang polisi yang otomatis membatasi geraknya. Selepas shalat kejadian kehilangan sandal kembali terjadi dan kali ini menimpa tukang sandal yang biasa mangkal di depan masjid. Dagangannya raib dan ia pun kalang kabut sampai-sampai ia menolak memberikan keterangan. Muslim yang masih terborgol pun hanya menggeengkan kepala sebagai isyarat bukan ia pelakunya tatkala sang polisi melirik ke arahnya. Ia beralibi bagaimana mungkin ia beraksi saat tangannya dalam kondisi diborgol begitu. Sejak saat itu, jamaah dan wara setempat pun manjadi percaya bahwa bukan Muslim lah pelaku pencurian yang selama ini dicari.

Pak lurah pun mendatangi kediaman pak Mansur untuk meminta beliau membebaskan Muslim sebgaimana yang pernah dilakukan Mbok Ijah. Akan tetapi, Pak Mansur tetap pada keputusannya untuk menyerahkan segalanya pada hukum. Ia sama sekali tidak mempunyai dendam pada Muslim, hanya saja penegakkan hukumlah yang ingin ia junjung. Warga yang tidak terima, dengan dikomandoi oleh Pak Lurah, malakukan semacam demo di halamn rumah Pak Mansur yang luas. Disana, mereka masing-masing meningkalkan sepasang sandal butut sebagai bukti kpeedulian atas Muslim yang diperkarakan hanya karena sepasang sandal butut. Maka, ketika mereka akhirnya bubar, tersisa lah tumpukan berpasang-pasang sandal butut di halamn rumahnya. Pak Mansur pun menjadi sedih dan mersa tersudutkan dengan sikap warga yang seolah menempatkannya sebagai orang kejam yang tega memperkarakan orang susah seperti Muslim.

Semnetara itu, selama di penjara, Muslim yang satu sel dengan seorang koruptor kelas teri yang malakukan korupsi uang tani sebesar 10 juta rupiah merenungi nasibnya. Ia berfikir mungkin musibah yang menimpanya sekarang ini terjadi karena ia lalai atau pernah melakukan suatu kesalahan di masa lalu karenanya ia berniat untuk melakukan tobat nasuha. Ia pun turut serta mengajak teman satu selnya yang juga amat mneyesali perbuatannya untuk tobat nasuha. Ia pun lalu berencana untuk bertanya lebih jauh seputar tobat nasuha pada Pak Mansur yang pernah menyampaikan ceramah tentang hal itu selepas bebas dari penjara.

Waktu sidang pun tiba, dan akhirnya Muslim dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman selama dua minggu dipotong masa tahanan. Sang ibu sempat menemuinya lagi di penjara untuk membawakan sejumlah barang serta makanan berikut menghadiahi sepasang sanda baru seperti sandalnya yang hilang dari uang yang ia dapat sebagai hasil penjualan layangan.

Hari-hari pun berlalu, masa tahanan pun usai, maka bebaslah Muslim. Di hari kebebasan Muslim di tempat lain terungkaplah siapa pelaku pencurian yang sebenarnya. Ia tak lain adalah Umam, anak Pak Mansur sendiri, yang diketahui mengidap penyakit clepto mania. maka tak ayal rumah Pak Mansur pun serta merta dikerubuti warga. Dari hasil penggeledahan, di dalam lemari baju Ma’mun ditemukan berpuluh pasang sandal yang selama ini dicurinya termasuk sepasang sepatu dinas sang Polisi yang masih mulus. Pak Mansur yang sedari awal mengembar-gemborkan penegakkan hukum mencoba konsisten dengan merelakan anaknya diboyong ke kantor polisi meski nalurinya sebagai ayah merasa tersakiti. Dan pada akhirnya Pak Mansur pun hanya bisa meratapi sekaigus merenungi nasib anaknya.

Muslim yang bermaksud melaksanakan niatannya untuk bertanya perihal tobat nasuha pada Pak Mansur turut menyaksikan apa yang menimpa Pak Mansur ikut prihatin atas kejadian yang menimpa Ma’mun. Di saat kerumunan warga sudah bubar, ia menghampiri beliau yang termenung di tangga teras rumahnya. Ia memberanikan diri untuk bertanya apa itu sebenarnya yang dimaksud dengan Tobat Nasuha, yang akhirnya dijawab dengan jangan mencuri samda yang bukan milik kita. Muslim pun lantas berfiir bahwa ia bertanya di saat yang tidak tepat.

--mohon maaf video thriller belum bias dipost-kan, mudah2an secepatnya bias dipost-kan--

Selasa, 31 Mei 2011

(Kecewa) Sudirman Cup 2011

Kecintaan penulis akan badminton lah yang membuat penulis rela bertahan di depan TV selama lebih dari tiga jam untuk menyaksikan final Piala Sudirman 2011. Dan, mohon maaf yang sebesar-besarnya, tanpa meniadakan jasa sang stasiun Tv yag telah menayangkan secara live dan penuh semua partai yang dimainkan oleh tim Indonesia (amat berterima kasih untuk itu), penulis keep staying tuned di stasiun Tv tadi sama sekali bukan untuk menambah rating. Sama sekali tidak dan tidak akan pernah. Mohon maaf pula, penulis terlanjur kecewa dengan janji palsu yang diumbar oleh sang station Tv yang (entah mesti bersyukur atau siap-siap kecewa lagi) juga jadi official partner Thomas-Uber Cup 2012. Kan, aturannya jelas ya bahwa ketika berani menayangkan satu event kejuaraan, apalagi beregu, berarti sepaket dari babak penyisihan grup/kualifikasi hingga ke final sebagai puncak terlepas dari siapa yang mencapai final tsb. Okelah, menjadi nasonalis memang sangat penting, namun dalam hal ini bukan semata asalah nasionalisme. Komitmen dan konsistensi yang dibutuhkan disini. Ketika mereka menyatakan diri sebagai official partner berarti ada semacam kewajiban bagi meraka untuk menuntaskan siaran live hingga akhir, partai final, sebagai puncaknya. Amat sangat anti-klimaks ketika partai final justru tidak disiarkan secara live (rerun) atau bahkan sama sekali tidak disiarka hanya karena tim Indonesia tidak masuk final. Betapa naifnya stasiun Tv kita. Come on man, being sportive please. Bagi kami-kami pecinta bulu tangkis asli (bukan musiman yg cuma ngikutin pas udah heboh doank—maaf bila ada pihak-phak yang tersungging—heu) yang kurang beruntung tidak bisa berlangganan Tv kabel dan hanya mampu menggantungkan harapan pada Tv swasta nasional saja, siapapun yang belaga di partai puncak tidak akan menyurutkan semangat kami untuk menyambut dan menyaksikan partai final. Bukan masalah siapa pemenangnya, akan tetapi lebih pada bagaimana permainannya. Kami sangat menikmati bagaimana peman-pemain besar dunia saling menunjukkan dan menampilkan permainan tebaik kelas dunianya. Meski tidak ada Frans/Pia, Alvent/Ahsan, pun Polii/Jauhari, namun kami masih amat menikmati aksi-aksinya Lin Dan, Peter Gade, Cai/Fu, Carsten/Erricsen, Fischer/Pedersen, Xu Chen/Ma Jin, dll. Tentu kami akan sangat lebih berbahagia dan berbangga hati bila yang berksi di final itu ialah tim merah putih, tapi sungguh kami pun tetap menikmati sekalipun bukan Firdasari dkk., yang beraksi disana. Menjadikan tidak tampilnya Indonesia d final sebagai pembenaran atas ditayangkannya pertandingan final secara tunda sama sekali bukan alasan yang logis. Kepentinan pihak stasiun tv pemegang hak siar lah yang menurut hemat penulis enjadi alasan utama. Memang, di malam ketika partai final digelar stasiun Tv yang bersangkutan meluncurkan sebuah tayangan sinetron baru yang diangkat dari film peraih Citra tahun lalu. Padahal yaa kemarin-kemarin saat penulis melihat iklan program tersebut sudah terbersit niat untuk mengikuti alur ceritanya, terlebih komposisi pemainnya—yang salah satunya adalah aktor favorit penulis—dipertahankan sebagaimana di filmnya. Tayangan yang menjanjikan sebenarnya didukung oleh semakin tak keruannya acara televise, terkhusus drama (baca: sinetron) saat ini. Namun, sayang beribu sayang, penulis yang kadung merasa terkhianati oleh janji manis stasiun tv ini di awal kemungkinan besar aan mengurungkan niat untuk menjadi penonton setia tadi. Toh, secara umum ceritanya (seharusnya) akan sama, hanya saja ada pengembangan cerita di sana-sini yang kalau idealisme sang empunya cerita originalnya sudah mampu tergadai akan bernasib sama seperti program sejenis yang bisa beranak pinak hingga sekian season dan ratusan episode dengan perombakan cerita disan-sini yang berujug ngalor ngidul dan banyaknya pemain yang bakal keluar masuk. Maka tidak heran jika hari ini dalam program jenis ini di awal kita diperkenalan si A berpasangan denga si B, tapi nanti di akhir yang kadang maksa atau dipaksakan si A itu ujug-ujug sama si B, C, D, atau bisa jadi (tapi udah mulai jarang kayanya) kembali ke si A tapi itu tadi udah sempet ama si B, C, D, dan seterusnya sesuai kebutuhn cerita. Dan tetep sih bagi penulis selalu ada ketidakaadilan karena biasanya tokoh yang dipertahankan justru si tokoh utama wanita, yang akhirnya dalam satu judul mereka bisa beberapa kali berganti pasangan, berkali-kali jatuh cinta, atau bahkan beberapa kali menikah. Malangnyaaaa para tokoh wanita itu. Naah, kembali ke persoalan awal (jadi keterusan deh curhat seputar kegundahan hati akan program ala drama Korea di awal yang episodenya dikorup sampe berlipat2 di tengah sampeeee akhir yang gak tau kapan sesuka hati produser tergantung sama sampe kapan para penonton yang menurut survey entah darimana dan gimana ngerasa bosenàtetep aja panjang! Haha abisan gregetan…! maaph yaa every body) bahwa sangat tidak adil menjadikan ketidakberhasilan Indonesia mencapai final sebagai alasan untuk tidak menyiarkan final secara live. Jujur penulis sudah menrauh harapan dan ekspektasi yang besar terhadap komitmen sang stasiun Tv untuk menayangkan kejuaraan ini. Maklum saja, hari ini, amat sanga sedikiiiiiiiit stasiun Tv swasta nasional yang masih mau membeli hak siar untuk menayangkan olah raga kebanggaan kita bersama, bulu tangkis. Silakan bandingan cabang olah raga yang satu ini dengan cabang olah raga yang induk orgnanisasinya sedang dilanda krisis kepemimpinan, kisruh pelaksanaan kongressnya, hingga ancaman dikenai sanksi bahkan pembekuan. Baik dari segi prestasi internasional maupun dari segi pembinaan. Iya sih, sekarang ini pembinaan di cabang bulu tangkis juga bukan tanpa maslah, cukup bermasalah malah menilik pada masih minimnya prestasi internasional yang ditorehkan para pemain lapis kedua Indonesia dalam beberapa tahun ini. Tpi tunggu dulu, di sini kita sedang berbicara dalamkonteks internasional artinya bahwa yang dibawa adalah nama Indonesia bukan klub atau perorangan. Se Taufik Hidayat nya kah, Kido/Hendra nya kah, sekali pun mereka sudah tidak lagi menjadi bagian dari pelatnas Cipayung dan memutuskan berkiprah sebagai pemain professional, toh tetap saja mereka dikenal sebagai pemain asal Indonesia dan membawa nama Indonesia. Sama halnya dengan klub yang bertanding di level Asia melalui AFC nya, tetap dikenal sebagai Indonesia. Naah, sekarang mari bandingkan mana yang lebih konsisten dalam menyumbangkan gelar juara yang ujungnya mengahrumkan nama bangsa dan Negara ini sendiri? Tentu para pembaca yang budiman bisa menjawabnya sendiri bukan? Sayangnya prestasi yang cenderung menurun dibarengi tren sinetron stripping dan variety show yang sedang naik daun (apa hubunganya dipikir2!?) membuat para orang dibalik stasiun Tv swasta di Indonesia berlomba-lomba menghadirkan berbagai jenis sinetron, kuis, reality show, kontek adu bakat, acara music, dan proram-program lain yang bersifat hiburan. Banyak juga sih yang menayangkan siaran olah raga, tapi paling liga lokal pun interlokal si kulit bundar dan balap motor. Ada juga yang sesekalimenggelar tinju dan voli. Tapi, bagaimana dengan bulu tangkis yang notabene cabang yang paling banyak menyumbagkan prestasi bagi Indonesia? Amat sangat jarang stasiun Tv yang tergerak untuk membeli hak siar dan menyiarkan secara live pertandingan-pertandingan bulu tangkis internasional. Padahal ya, dalam setahun ada belasan event resmi tingkat internasional yang digelar oleh BWF, induk organisasi bulu tangkis dunia. Mulai dari Super Series yang merupakan level tearatas rangkaian kejuaraan berseri dalam setahun seperti gelaran balap motor itu (bisa sampai10-12 kali di Negara berbeda), sampai ke event yang bersifat incidental tahunan seperti Kejuaraan Asia, Eropa, dan Dunia, maupun kejuaraan beregu dua tahunan seperti Thomas-Uber Cup dan Sudirman Cup ini. Beberapa tahun yang lalu, penulis masih bisa menyaksikan aksi para punggawa merah putih di event-event non kejuaraan beregu (yang memang sejauh ini masih rutin ditayangkan oleh stasiun tv sawasta nasional meskipun tidak di stasiun tv yang sama) seperti China Master (Super Series, China menggelar dua kali Super Series dalam setahun) ataupun All England (juga bagian Super Series) yang merupakan turnamen bulu tangkis tertua sepanjang sejarah. Lain dulu tentu lain sekarang. Jangankan sekedar Super Series (kecuali Indonesia Open Super Series yang masih rutin disiarkan), bahakan sekelas kejuaraan dunia pun sudah tidak ada lagi yang menayangkan (sekelas kejuaraan dunia yang sifatnya insidental gitu loh, yang levelnya di atas super series, yang pemain-pemain terbaik dunia termasuk Indonesia berbondong-bondong ambil bagian dan mengincar gelar juara)! Sungguh ironis! Coba, bandingkan kembali dengan cabang oalah raga yang dimainkan 11 orang dalam satu timnya tadi, liga nya pun rutin disiarkan. Bukan sekedar liga lokal, bahkan liga internasional yang digadang-gadang sebagai liga terbaik dan tersukses yang ada di dunia saat ini, full pula! Padahal ya kalau diitung-itung pastinya biaya yang dikeluarkan sama sekali tidak murah. Stasiun Tv pemegang hak siar sebelumnya saja hanya mampu mendapat jatah kontrak 1 hari penayangan tiap pekannya di hari sabtu pula yang berarti saat itu kami para pecinta liga tersebut (kecuali yang beruntung bisa berlangganan tv kabel) bahkan selalu kehilangan momen ketegangan dan keseruan Big Match yang memang biasa digelr di hari Ahad. Berkaca pada pengalaman tersebut, itulah sebabnya penulis katakan tadi bahwa penulis menaruh ekspektasi yang besar akan disiarkannya ajang Sudirman Cup tadi. Jika liga yang notabene tidak ada Indonesia di dalamnya saja dan berlangsung selama satu musim alias hampir setahun kurang lebih saja bisa konsisten disiarkan (yang bagi penulis amat meanjakan dan memuaskan pecinta BPL di tanah air ini), masa iya di ajang yang Cuma seminggu dan ada Indonesia nya pula tidak akan ditayangkan secara penuh. Namun ternyata apa? Harapan tinggal harapan ekspektasi hanyalah ekspektasi pada kenyataannya penulis merasa dibohongi, merasa dikhianati, merasa dibodohi dengan tdak disiarkannya final Sudirman Cup secara live. Masalah utamanya, di awal satsiun Tv yang bersangkutan kadung menjanjikan untuk menyiarkan secara Live pertandingan di Sudirman Cup kali ini hingga final. Okelah yah kalau misalkan di babak-babak sebelum final yang bersangkutan hanya menayangkan pertandingan yang menampilakan tim Indonesianya. Tapi kan bukan berarti saat langkah Indonesia terhenti di semifinal, maka siaran live pun berakhir sampai disana. Masih ada final yang notabene partai puncak, klimaks dari keseluruhan kejuaraan. Analoginya, banyangkan bila kita sedang mengikuti serial sepanjang 500 episode, sampai di episode 499 kita masih bisa mengikuti tapi tiba-tiba episode ke-500 nya tidak pernah ditayangkan, bagaimana perasaan kita??

Intinya ya penulis amat sangat sangat kecewa dengan keputusan yang telah diambil oleh satsiun Tv yang bersangkutan. Jujur, rasa bangga yang sempat penulis sanjungkan berubah seketika menjadi kekecewaan tatkala ia mengkhianati janjinya. Iklan penayangan yang tak kunjung muncul sebetulnya sudah menjadi sebuah pertanda, namun penulis memilih untuk berkhusnudzon dengan berfikir bahwa sudah tidak ada tim Indonesia jadi ga perlu pake iklan-iklan segala lahà mahal bo kali! Bahkan untuk mengobati rasa penasaran dan kegundahan penulis akan disiarkan atau tidaknya final Sudirman Cup kemarin, penulis pun mencoba mengecek melalui laman salah satu jejaring sosial dimana stasiun Tv tersebut mempunyai account dan senantiasa memberikan informasi seputar kejuaraan SC ini disana. Disana padahal sempat dimunculkan info bahwa yang bersangkutan akan menayangkan partai puncak tapi memang tidak ada kejelasan jam. Bagi sebagian besar masyarakat sebetulnya tidak menjadi maslah toh Indonesia nya udah kalah (paling gitu pikirannya, menurut penulis mahà menurut penulis loh!), tapi kan bagi kami yang benar-benar mencintai olah raga ini?? Kadang melihat pemain yang gagal melaju ke final menyebar di setiap sudut lapangan menyaksikan mereka yang berlaga di final dengan gaya santainya menjadi suatu daya tarik teresendiri. Di satu sisi kita bias melihat sisi casual para atlet yang biasanya banjir keringat kalau sudah di lapang, dan di sisi lain ada satu jiwa dan nilai sportivitas di sana. Karena memang begitulah olah raga, pertandingan, menag dan kalah adalah wajar. Maka sekali lagi terlepas apa pun satu dan lain hal yang menyebabkan tidak ditayangkan secara live nya final SC kemarin, sangat tidak etis jika menjadikan kekalahan Indonesia di semi final sebagai salah satu factor penyebabnya, dan sangat tidak adil bagi para pecinta bulu tangkis yang memang menantikan laga puncak yang mempertemukan dua tim unggulan teratas kemarin. Penulis juga khawatir jangan-jangan tahun depan ketika Thomas-Uber Cup akan terjadi kejadian serupa, yakni: BILA INDONESIA TIDAK MASUK FINAL SIAP-SIAP MENONTON SIARAN TUNDA PARTAI FINALNYA! Semoga itu hanya suudzon nya penulis ya, meski sebenarnya penulis pun sudah malas sih menggantungkan harapan pada stasiun Tv swasta nasional (mana pun sebenarnya) akan penyiaran live event kejuaraan bulu tangkis internasional. Saran penulis ya wahai para gegedug pemegang kebijakan penayangan di setiap stasiun Tv, tolong jika menayangkan suatu gelaran kejuaraan olah raga (apa pun ya terutama bulu tangkis) yang niat, artinya jangan setengah-setengah: Cuma dijatah 3 jam lah (misalnya dari 5 partai kita Cuma bias menyaksikan 2,5-3 partai dalam sekali penyiaran), atau yang lebih parah ya itu tidak menayangkan secara live partai final nya (makanya penulis sih berangan-angan ingin segera berlangganan Tv kabel biar gak makan hati terus! Heuheu)! Memang sih, sebenarnya dengan kondisi pertelevisian di Indonesia hari ini yang dijejali berbagai program hiburan dan ditengah arus komersialisasi yang sebegitu tingginya, ada yang masih mau menayangkan pertandingan bulu tangkis saja sudah Alhamdulillah (terima kasih untuk itu), tapi sekali lagi mohon dengan sangat jangan setengah-setengah. Semoga ke depannya, dengan para pemain muda yang berlaga di SC kemarin, perbulutangkisan Indonesia kembali bangkit dan prestasi internasionalnya pun semakin baik sehingga kepedulian banyak pihak (terutama mereka yang berpengaruh dan bermodal) akan bulu tangkis ini pun kemabali menggeliat dan akhirnya ada yang rela memodali untuk pembelian hak siar live kejuaraanya (terutama Kejuaraan insidental dan Super Series Premierà kalau Super Series biasa ya kebanyakan lah tapi kalau memang memungkinkan, why not!?). kenapa yang bermodal? Karena pasti butuh modal yang tidak sedikit apalagi animo masyarakat terhadap cabang yang satu ini sepertinya dianggap masih belum seheboh olah raga yang ditekuni Lionel Messi dkk. Yaah..kalau bagi penulis si gini, moso iya beli hak siara liga sepakbola internasional (yang notabene berlangsung satu musim sekitar satu tahun) atau balapan motor kelas dunia saja bias, ini bulu tangkis semahal apa sih?? Jadi intinya itu semua balik lagi kepada niat sang empunya modal.

-------------------------------------------semacam epilog---------------------------------------------------

Udah ah, capeeeeeee! Penulis membuat tulisan ini sebagai bentuk kekecewaan penulis akan komitmen dan keseriusan satsiu Tv pegeang hak siar yang semacam tidak menepati janjinya. Tapi penulis menyelesaikan tulisan ini pagi ini jadi yah kalau ada yang kebetulan (lebih tepatnya ditakdirkan membacanya) atau memang sengaja membaca (kalau emang ternyata ada yg niat dan berminat) jangan heran kalau meraakan emosi yang berbeda antara tulisan di paragraph awal dan paragraph terakhir. Bukan bermaksud menyulitkan pembaca yang budiman, melainkan itu hanya semacam apa yaa curahan perasaan yang tidak bias dijeda oleh spasi. Mereka merupakan satu kesatuan uneg-uneg yang terlintas dalam benak penulis saat pertama kali menuliskan postingan ini. Dan, jujur tulisan itu dibuat berlandaskan rasa kecewa sehingga bila terasa emosional dan sensitif yaa memang begitulah adanya. Sementara di paragraph kedua penulis sudah relatif lebih stabil (jadi tidak seaneh di paragraph pertama kan, heuheu). Mohon maaf bila ada merasa tersinggung atau terganggu dengan postingan ini, tidak ada niat untuk menyerang apalagi manjatuhkan pihak-pihak tertentu, tetapi hanya sekedar mengungkapkan curahan hati dan memberi saran berikut himbauan (dari satu dari sekian buanyyaaaaaak pecinta bulu tangkis di tanah air) bagi para penentu kebijakan di tiap-tiap stasiun Tv yang hendak menayangkan siaran olah raga, terutama bulu tangkis. Bagaimanapun dengan adanya stasiun Tv yang berbaik hati untuk membeli hak siar dan menyiarkan secara live dan penuh merupakan suatu dukungan berarti bagi perbulutangkisan di tanah air. Dikhianati atau digantung itu sama sekali tidak enak, jadi mari kita kokohkan komitmen kita bersama demi menuju perbulutangkisan Indonesia yang lebih baik lagi! :))

Jumat, 27 Mei 2011

They (Indonesia) are in it (Sudirman Cup’s Championship) to win it (Sudirman Cup)

Setelah berhasil memenangkan pertandingan terakhir sekaligus penentuan juara grup B melawan Malaysia dengan skor ketat 3-2, Indonesia akan ditantang Jepang yang merupakan runner up grup A di partai perempat final yang akan digelar jum’at (27/05) petang ini. Secara keseluruhan, di atas kertas, Jepang masih berada di bawah Indonesia bahkan Malaysia. Tanpa bermaksud meremehkan, namun sekali lagi ditegaskan bahwa semua itu hanyalah masalah hitung-hitungan di atas kertas yang dalam dunia olah raga tidak akan 100% menjamin keberhasilan suatu tim atau seorang atlet. Pemain Jepang, seperti hanlnya orang Jepang kebanyakan, dikenal memiliki keuletan yang luar bisa maka mereka sering kali menyulitkan lawan-lawannya yang bahkan secara ranking berada di atas mereka. Keuletan pemain Jepanglah yang harus diwaspadai dan diantisipasi oleh para pemain kita.

Kesabaran dan bermain lepas bisaamenjadi kunci sukses Indonesia untuk melawan Jepang. Meski secara peringkat Jepang bahkan masih berada di bawah Malaysia, namun semangat pantang meyerah mereka menjadi kekuatan sendiri bagi tim Jepang. Berbeda dengan saat menghadapi Malaysia yang justru menargetkan poin dari sektor putrid, menghadapi Jepang tim merah putih akan lebih cenderung mengandalkan sektor putra. Pasalnya, sektor putri Jepang relatif lebih kuat dibanding sektor putranya. Simon dan siapa pun pasangan yang diturunkan di ganda putra harus mampu merebut poin jika ingin melenggang ke semifinal keesokan harinya. Sementara untuk sektor ganda campuran seharusnya menjadi milik Indonesia mengingat sejauh ini belum ada nama ganda campuran Jepang yang “meramaikan” babak utama turnamen internasional. Dengan perhitungan di atas setidaknya Indonesia diharapkan mampu merebut tiga dari lima partai yang akan dimainkan guna menembus semifinal.

Menembus semifinal nampaknya merupakan hal yang cukup sulit bagi Simon Santoso dkk. pada awalnya. Kondisi tim yang tanpa didukung oleh para pemain utama semisal Taufik Hidayat, Kido/Hendra, Lilyana Natsir/Ahmad Tantowi yang harus absen karena berbagai hal menggeser status tim merah-putih dari zona unggulan. Namun, menjadi underdog menjadi keunggulan sendiri bagi Indonesia. Pasalnya dengan tidak disematkannya status unggulan dan didukung oleh tidak adanya target khussus yang dibebankan kepada tim Indonesia seharusnya bisa membuat permainan Simon Santosos dkk menjadi lebih lepas. Hal tersebut diharapkan mampu menghantar Indonesia untuk mengalahkan tim Jepang dan melaju ke semifinal berhadapan dengan Denmark/China Taipei yang juga baru akan bertanding petang ini.

Apa pun hasil yang diraih semoga pasukan merah putih tetap bisa focus untuk memberikan yang terbaik bagi negeri ini. Aamiin! IN-DO-NE-SIA !

Selasa, 24 Mei 2011

Piala Sudirman 2011

Mungkinkah Ia (Sudirman) Pulang Kampung Tahun Ini?

Supremasi tertinggi di kancah bulu tangkis beregu campuran ini kini memasuki gelaran ke-12 . Dari 11 kali penyelenggaraannya, tercatat hanya tiga Negara yang pernah memboyong piala ini yaitu Indonesia (1 kali), China (7 kali), dan Korea Selatan (3 kali). Digelar pertama kali pada tahun 1989 di Indonesia, piala ini tidak pernah kembali singgah di kampong halamannya, tanah airnya, Indonesia. Sejak menjadi jawara perdana di negeri sendiri pada tahun penyelenggaraan pertamanya, Indonesia belum pernah menjuarai kembali turnamen ini. Memang, setelahnya Indonesia berasil enam kali mencapai final, namun di partai puncak perjuangannya selalu kandas di tangan lawan-lawannya. Terakhir, Indonesia melaju higga ke final pada tahun 2009 di Guang Zhou, China. Sayangnya, di final skuad merah putih mesti mengakui keunggulan para pemain China yang menaklukan mereka 3-0 tanpa sempat mencuri satu game pun. Halini tentu saja menjadi suatu catatan tesendiri bagi PBSI selaku induk organisasi cabang olah raga andalan negeri ini. Kegagalan Indonesi di enam final Piala Sudirman seharusnya bisa segera dievaluasi dan tentu saja diperbaiki. Bagaimanapun, Indonesia merupakan Negara pencetus lahirnya kejuaraan dunia beregu campuran menyusul even beregu serupa Thomas-Uber Cup yang mempertemukan tim-tim dari berbagai Negara.

Tahun ini Indonesia kembali ujuk gigi di ajang serupa. Event dua tahunan yang kali ini diselenggarakan di Qingdao, China ini berlangsung dari tanggal 22-29 Mei 2011. Diikuti oleh lebih dari dua puluh Negara, kejuaraan ini dibagi ke dalam beberapa kelas (divisi). Kelas utama dikelompokkan menjadi empat grup besar: A,B,C,D yang masing-masing grupnya diisi oleh tiga tim dari tiga Negara berbeda. Tim merah-putih sendiri berada di grup B bersama Malaysia dan Rusia. Menghadapi Rusia di partai pertama seharusnya tidak sulit bagi Simon Santoso dkk untuk melewati pertandingan dengan kemenangan. Dan, Indonesia pun terbukti bisa mengungguli lawannya ini. Rusia sendiri meski kalah bukan berarti tanpa perlawanan, pasalnya mereka mampu merebut game pertama di Ganda Campuran melawan Pia Zebadiah/Frans Kurniawan, 2 set langsung. Sebaliknya, meski menang Indonesia tetap harus waspada terlebih lagi lawan selanjutnya ialah negeri serumpun Malaysia yang memainkan selurh pemain terbaiknya seperti Lee Chong Wei di Tunggal Putra dan Koo Kian Kiet/Tan Boen Heong di Ganda Putra. Semetara di kubu Indonesia praktis sejakmundurnya Taufik serta ketidaksediaan Markis/Hendra ditambah cederanya Lyliana Natsir praktis hanya akan mengandalkan kekuatan skuad mudanya seperti Simon Santoso (Tunggal Putra), Bona Septano/M. Ahsan (Ganda Putra), serta Pia Zebadiah/Frans Kurniawan (Ganda Campuran).

Dengan absennya para pemain utama, otomatis posisi Indonesia sbagai tim unggulan bergeser menjadi tim underdog. Meski secara hitung-hitungan di atas kertas Indonesia diungulkan di posisi ketiga setelah tuan rumah, China, dan Denmark di urutan kedua, namun pada kenyataannya fakta bahwa tim Indonesia kali ini dihuni oleh skuad muda yang masih kalah jam terbang sementara tim lainnya diisi oleh para peain utamanya membuat peluang Indonesia untuk membawa pulang Piala Sudirman menipis. Jangankan menjadi juara, menembus semifinal saja rasanya berat. Tanpa bermaksud mengesampingkan kualitas para pemain muda itu, patut diakui bahwa kekuatan Indonesia mengalami penurunan dari tahun-tahun sebelumnya. Pasalnya masih terbatasnya jam terbang menyebabkan mereka kalah dari segi pengalaman dengan para calon lawannya yang merupakan pemain inti di tiap negera yang hampir tidak pernah absen dalam berbagai event kejuaraan Super Series pun kejuaraan internasional lainnya. Meski demikina, bukan berarti kita mesti meragukan kemampuan para pemain muda tersebut karena pada dasarnya dari segi kemampuan mereka pun tak berbeda jauh dari para seniornya, hanya saja sekali lagi ditegaskan, permasalahannya ialah pada jam terbang.

Sebenarnya PBSI harus mulai mempersiapkan diri dengan kondisi tersebut karena bagaimanpun tidak selamanya pemain senior bisa memperkuat tim merah putih. Faktor usia yang akan berpengaruh pada stamina dan kualitas secara keseluruhan cepat atau lambat pasti akan terjadi. Sudah saatnya PBSI mempersiapkan para atlet muda untuk menjadi penerus estafeta perjuangan para senior yang sejauh ini telah memberikan segudang prestasi bagi skuad Merah Putih. Ada banyak talenta atlet bulu tangkis di Indonesia ini terbukti dengan menjamurnya klub bulu tangkis di berbagai daerah, yang artinya regenerasi sangat mungkin untuk dilakukan. Pembinaan yang intensif menjadi kunci utama suksesnya regenerasi. Bagi mereka yang telah tersaring di Pelatnas Cipayung, alangkah sangat baiknya bila mereka rajin diturunkan di berbagai turnamen intenasional setinkat Super Series bahkan untuk semakin menajamkan kemampuannya dan mengasah pengalamannya.

Mungkin, di ajang Piala Sudirman ke-12 ini Indonesia mencoba untuk realistis dengan tidak mempunyai target khusus menilik pada komposisi tim yang dibawa ke China. Namun, bukan berarti juga Indonesia mesti pulang dengan tangan hampabukan? Justru sekarang saatnya ntuk membuktikan bahwa Indonesia mampu memberikan yang terbaik dan masih amat sangat layak diperhitungkan eski tanpa kehadiran para pemain inti. Toh, pada dasarnya sekalipun Taufik Hidayat, Markis Kido/Hendra Setawan, serta Lilyana Natsir/Ahmad Tantowi dimainkan pun tidak menjadi jaminan 100% mereka bisa mengalahkan lawan-lawannya seperti Lee Chong Wei atau Lindan, Koo Kien Kiet/Tan Boen Heong atau Chai Yun/Fu Haifeng, serta Xu Chen/Ma Jin. Jadi, absennya para pemain utama seharusnya tidak dijadikan alasan utama untuk tidak berprestasi di ajang ini. Siapa tahu justru dengan ketidakikutsertaannya para andalan skua merah putih ini menjadikan suatu motivasi tersendiri bagi para juniornya untk memanfaaan kesempatan ini sebaik-baiknya dengan mengelurakan dan menunjukkan kemampuan terbaiknya guna mengukir prestasi terbaik di ajang kejuaraan beregu internasional kali ini. Bukankah ada pepatah yang berbuyi “yang Muda yang berprestasi”?

Ayoo para pahlawan bangsa, tunjukkan pada dunia, usia muda bukanlah menjadi suatu penghambat, melainkan menjadi suatu keunggulan tersendiri. Meski secara pengalaman masih belum mampu mengimbangi, akan tetapi semangat muda seharusnya tercerin dari semngat bermain dan stamina prima. JAYALAH TIM MERAH PUTIH, berikan yang TERBAIK untuk TANAH AIR, KIBARKAN sang Merah Putih, dan KUMANDANGKAN INDONESIA RAYA seraya MEMBOYONG sang PIALA SUDIRMAN pulang ke KAMPUNG HALAMAN, NEGERI ASAL: INDONESIA. HIDUPLAH INDONESIA RAYA! :))

we are really miss youu... :))

Jumat, 20 Mei 2011

Keindahan Alam Queenstown

halloo..readers..it seems so long since the last time I posted an article here..
hemm..just now I'll post new article, but unfortuntely it's not mine.. I take this article from yahoo by the time I read this because I think this article is intresting, so enjoy yaaa :))

Keindahan Alam Queenstown

Fri Apr 8 3:22am


Film trilogi "The Lord of the Rings", yang meraih 17 Oscar, menjadikan Selandia Baru sebagai salah satu tujuan berlibur dunia yang wajib dikunjungi. Selandia Baru memiliki segudang pemandangan dan tempat wisata lainnya yang mampu memanjakan mata Anda, seperti ditulis oleh Express on Sunday asal Inggris: "Jika saja lokasi film bisa mendapatkan Oscar, Selandia Baru akan memenangkannya."

Tetapi Selandia Baru tidak melulu soal lokasi pengambilan film dan bungy jumping (yang, ngomong-ngomong, merupakan tradisi suku Kiwi). Negara termuda dunia ini masih kental dengan kekayaan alam dan aset wisata lainnya yang menjadikannya sempurna sebagai tempat berlibur.


Pemandangan Danau Wanaka. Kredit foto: Tourism New Zealand Image Library/Kieran Scott

Dengan ruang terbuka yang sangat luas, lanskap pegunungan, pantai-pantai menawan, iklimnya pun hangat serta pemandangan alam yang indah. Dengan segala kesempurnaan ini, para pasangan baru yang ingin berbulan madu, penikmat petualangan sampai keluarga yang berlibur bisa pergi ke negeri ini, karena Selandia Baru bisa membuat terbuai.

Kota wisata Queenstown adalah salah satu dari lebih 150 lokasi tempat sutradara Peter Jackson melakukan syuting film Hollywood-nya. Di kota ini terdapat danau empat musim kebanggaan New Zealand dan tempat penginapan pegunungan. Terletak di tepi Danau
Wakatipu, tempat ajaib ini akan membawa imajinasi Anda melayang, meningkatkan gairah hidup dan semangat Anda.

Sejarah kawasan ini terkait dengan emas. Pada 1862, dua orang pencukur domba ’ketiban rezeki’ emas di tepi Sungai Shotover. Kemudian, kota yang hidup karena penambangan emas itu diberi nama Queenstown karena "..cocok untuk Ratu Victoria."

Kegiatan petualangan seperti olahraga di salju, bungy jumping, perahu jet, berkuda dan arung jeram. Anda juga dapat memanjakan diri saat berlibur sambil mencicipi makanan dan anggur, berperahu di danau, perawatan spa, belanja di butik dan bermain golf.

Queenstown penuh dengan restoran, klub malam dan kafe dan petualangan lainnya, serta penuh dengan aktivitas semangat. Selama bertahun-tahun, kota ini telah cukup banyak melakukan perluasan di bidang pariwisata lain, termasuk perkebunan anggur, galeri seni, kesenian jalanan dan program menantang dari olahraga golf.


Hotel tua di Arrowtown, Selandia Baru. Kredit foto: Tourism New Zealand Image Library

Kendurkan Otot Anda


Makan malam mungkin sebuah hal yang biasa di negara lain, tapi istimewa jika Anda sedang berada di Queenstown. Ada lebih dari 100 restoran cita rasa tinggi di sini – mulai dari restoran berkelas, kafe stylish, restoran keluarga, barsushi, tempat wine ... Anda bisa pilih sesuai selera.

Selama musim panas dan musim gugur, biasanya penduduk lokal senang menyantap makan malam mereka di kafe pinggir jalan, seperti restoran taman, sambil menikmati makanan dan segelas anggur. Anda bisa menikmati semua itu di kala hawa sedang hangat sementara matahari terbenam pada pukul 10 malam. Saat musim dingin, perapian yang menyala serta makanan hangat yang khusus dibuat oleh restoran siap untuk disajikan dengan segelas anggur untuk menghangatkan tubuh Anda.

Queenstown merupakan bagian dari wilayah Central Otago. Anggur setempat telah sering mendapat penghargaan. Setiap saat adalah waktu yang tepat untuk berkunjung ke Central Otago yang terkenal dengan anggur jenis Pinot Noirs. Ada 45 kebun anggur di Central Otago dan anggur-anggur itu terus berkembang pesat hingga terkenal di selurh dunia. Pinot Noirs dari wilayah itu sangat diakui dan dicari, meskipun jenis anggur lainnya berhasil tumbuh juga dengan kualitas tinggi – ditanam di atas tanah shaly dengan iklim keras yang dipercaya sangat kondusif untuk produksi anggur.


Danau di Queenstown tampak makin indah dengan warna-warna musim gugur. Kredit foto: Tourism New Zealand Image Library/Bob McCree

Jika berminat, Anda bisa ikut tur mengenai anggur atau bisa menyewa mobil dan mengunjungi kebun anggur di Gibbston Valley, kawasan utama penghasil anggur di Queenstown. Gibbston Valley Wines, kebun anggur komersial pertama di Queenstown, terkenal dengan jamuan makan siangnya dan mencoba rasa anggur. Anda juga bisa melakukan tur ke gua anggur dan pabrik keju.

Berpengalaman melayani pengunjung selama lebih dari satu abad, Queenstown telah mengembangkan infrastruktur akomodasi di setiap pasar. Terdapat lebih dari enam perwakilan hotel internasional di sini. Banyak hotel dan resor yang bisa dijangkau dengan berjalan kaki dari pusat kota sambil menikmati pemandangan. Beberapa penginapan mewah menampilkan gaya arsitektur yang indah dengan furnitur serta pelayanan yang luar biasa. Tempat penginapan biasanya berukuran kecil, melayani hanya cukup 4-6 orang, dan biasanya termasuk dengan pelayanan yang mewah.

Selain itu, Anda juga bisa menikmati olahraga golf. Queenstown memiliki empat program, termasuk Millbrook. Anda bisa meluangkan waktu sehari dan memanjakan diri Anda di spa, atau menghabiskan waktu di pagi hari dengan berbelanja di butik yang tersedia di Queenstown.

Pelangi yang indah bisa Anda lihat di Danau Wakatipu. Di sana, Anda bisa menangkap ikan tawar pelangi, ikan tawar berwarna coklat dan quinnat salmon sepanjang tahun. Izin bisa didapatkan di kota dan pemandu bisa membawa Anda ke tempat pemancingan
terbaik.


Bersepeda di sekitar Danau Wakatipu. Kredit foto: Tourism New Zealand Image Library/Holly Wademan

Jika Anda ingin bepergian ke danau, Anda bisa menyewa kapal pesiar, yang disesuaikan untuk individu atau kelompok. Jika Anda ingin menyendiri, Anda bisa bepergian dengan kapal pesiar dari Queenstown kemudian berteduh di kawasan pegunungan, terutama di Danau Wakatipu.

Saatnya Bertualang


Jika Anda seorang petualang, Queenstown adalah tempat yang cocok untuk menguji adrenalin Anda. Tempat ini dijuluki sebagai "Adventure Capital of the World" – ibukota petualangan di dunia. Sebuah julukan yang dibuat oleh para pencari sensasi, yang berani memainkan adrenalin mereka, dan bertualang di lingkungan liar.

Aksi bungy jumping yang menakutkan ternyata berasal dari negeri ini. Ada segudang aktivitas yang bisa Anda lakukan disini, seperti: sky diving, mendaki gunung, arung jeram, kayak, memancing, berkuda, bersepeda, berjalan di hutang, terbang indah, berlayar, berselancar, jet boat, meluncur danbungy Nevis! Di musim dingin, pegunungan diselimuti oleh kabut putih yang membuat tempat itu menjadi tempat yang bagus untuk melakukan ski, snow car,snowboard, heliski dan parapent.


Naik lift menuju pegunungan sebelum meluncur di salju. Kredit foto: Tourism New Zealand Image Library/Lake Wanaka Tourism.

Wanaka


Wanaka terletak di balik pegunungan Southern Alps di South Island, Selandia Baru. Tempat ini sangat damai, hanya sekitar satu jam jika Anda berkendara dengan mobil dari Queenstown. Dekat dengan Mount Aspiring National Park, kawasan ini adalah surga alam yang terletak di sebelah danau yang indah.

Hiruk-pikuk kehidupan di Wanaka jauh lebih tenang daripada di Queenstown, namun kawasan itu juga menawarkan kegiatan yang sama. Jadi, jika Anda ingin melakukan paralayang, perahu jet ataurap jumping dalam suasana yang lebih tenang, Wanaka adalah tempat yang cocok.


Sebelum melakukan heliboarding, Anda akan dibawa ke ketinggian ekstrim. Kredit foto: Tourism New Zealand Image Library/Miles Holden

Terdapat pula restoran dengan cita rasa yang baik dan beberapa bar. Banyak rumor yang menyebutkan, kue wortel terbaik bisa didapatkan di kafe-kafe tepi danau di Wanaka.

Danau Wanaka terletak tepat di tengah danau-danau lainnya. Ia merupakan pintu gerbang menuju Mt. Aspiring National Park, yang terkenal dengan gletsernya dan tempat mendaki. Gunung-gunung di sekitar danau adalah surga bagi pecinta ski. Kota itu sendiri memiliki sebuah desa untuk berbelanja dengan berbagai macam suasana untuk bersantai, makan dan minum.

Perlambat langkah dan hayati suasana sekitar. Anda tidak akan bisa merasakan suasana tempat itu sebelum menjelajahinya dengan berjalan kaki.

Eely Point Walk adalah aktivitas berjalan kaki di samping Danau Wanaka. Anda bisa mencapainya dalam waktu 15 menit. Terlindung dari angin, Eely Point adalah kawasan terkenal untuk berperahu dan piknik. Kemudian, hanya butuh waktu lima menit untuk melanjutkan perjalanan ke Bremner Bay, teluk yang dangkal yang sangat populer untuk tempat berenang keluarga.


Dublin Bay di Wanaka, Selandia Baru. Kredit foto: Tourism New Zealand Image Library/Gilbert van Reenen

Dari Bremner Bay, jalur ini akan mengikuti garis pantai Danau Wanaku hingga ke Pantai Penrith, yang menampilkan pemandangan indah danau dan gunung sekitar. Dengan mengikuti jalan dari Penrith Beach, Anda bisa menikmati Lake Outlet Walk.

Waterfall Creek Walk dimulai dari sebelah kiri Roys Bay – yang merupakan pantai utama di Danau Wanaka. Tempat itu mengikuti garis pantai hingga ke bagian Wanaka dari Damper Bay. Wanaka Station Park, di sebelah kiri dekat Waterfall Creek Walk, adalah tempat yang cocok untuk piknik. Rute itu terus berlanjut ke sepanjang jalan di depan Edgewater Resort Hotel dan Rippon Vineyard hingga ke Waterfall Creek. Kemudian terus hingga ke puncak tertinggi, yang menawarkan pemandangan indah dari Wanaka Township dan danau.

Arrowtown


Salah satu pemukiman yang paling indah di New Zealand adalah Arrowtown yang berada di sepanjang Sungai Arrow, yang dulunya merupakan tempat mendulang emas. Kota itu mempertahankan nilai sejarahnya dengan lebih dari 60 bangunan yang dibangun kembali dari abad ke-19. Pesona emas itu bisa Anda lihat di sepanjang jalan (meski Anda masih bisa mengambil emas di sungai).

Hanya 20 menit jika Anda berkendara dari Queenstown, Arrowtown adalah pusat perkebunan anggur terbaik, galeri artis, lapangan golf, memancing dan daerah ski. Anda juga bisa menjelajahi pemukiman para penambang Cina, dan berkunjung ke Museum Distrik Danau, bermain di lapangan golf lokal yang menantang atau mencoba perjalanan 4WD hingga ke Macetown, sebuah kota hantu yang hanya dapat diakses oleh jalur kereta. Arrowtown memiliki berbagai macam kafe, restoran dan toko-toko yang menarik.

Warna-warna musim gugur di Arrowtown, Selandia Baru. Kredit foto: Tourism New Zealand Image Library

Cuaca saat musim dingin dan rindang di musim semi menggantikan hari-hari musim panas yang panjang dan musim gugur yang menakjubkan. Perubahan musim merupakan cerminan terbaik dari sejarah pepohonan yang berjajar di pinggir jalan. Festival musim gugur menampilkan para fotografer handal dan artis yang bisa memberikan inspirasi.

Glenorchy


Sekitar 40 menit dari Queenstown, terdapat sebuah kota pedesaan di Glenorchy, ujung barat Danau Wakatipu, dengan latar belakang hutan milik penduduk asli dan pegunungan yang tertutup salju.


Surga di Glenorchy. Kredit foto: Kredit foto: Tourism New Zealand Image Library/Ian Brodie.

Tempat ini dikenal sebagai pintu gerbang menuju Routeburn, Caples, Greenstone, Rees dan rute jalan Dart Valley. Selain itu, bisa juga jadi lokasi bermain perahu jet dan kayak di Dart River. Anda bisa menghubungi otoritas setempat jika Anda merencanakan untuk berjalan di salah satu trek. Menunggang kuda juga sangat disarankan. Kota ini juga memiliki berbagai macam penginapan, satu hotel dan beberapa kafe. Ide yang bagus untuk membeli perlengkapan mendaki dekat Queenstown.

Kamis, 19 Mei 2011

Semacam Confession

sungguhku tak pernah menginginkannya
sungguhku tak ingin meraihnya
sungguhku tak sanggup (lagi) mengawalnya
sungguhku hanya ingin menjadi bagiannya
tapi sungguh ku tak bermaksud menguasainya

Minggu, 03 April 2011

FILM '?' : Hanung-Reza-Reva

Again, Hanung Bramantyo-Reza Rahardian-Revalina Temat bekerja sama, kali ini dalam sebuah film berjudul Tanda Tanya '?'. Ini merupakan kali kedua bagi ketiganya untuk berkolaborasi dalam sebuah film setelah Perempuan Berkalung Sorban di tahun 2009 yang lalu. Disini Reza-Reva kembali dipasangkan sebagai suami istri, namun tentu saja dengan setting dan plot yang berbeda. Jika di PBS mereka menikah karena perjodohan dan cenderung tidak bahagia, maka di sini keduanya justru menjadi pasangan yang bahagia meski keharmonisannya sering kali terusik oleh status sang suami yang pengangguran. Dari beberapa sumber resensi yang penulis baca, tokoh Soleh yang diperankan oleh Reza nantinya di akhir cerita (sangat mungin-kuat dugaan) sepertinya akan meregang nyawa. itu sih baru kesimpulan penulis saja, kalau ingin tahu benar atau tidak ya mari kita tunggu bersama 7 April nanti sodara-sodara. :))

Selain Reza-Reva, film ini pun diperkuat oleh Rio Dewanto, Hengki Sulaiman, Agus Kuncoro, dan Enditha yang kesemuanya memiliki porsi peran yang sama-sama besar dengan konflik masing-masing. Rio Dewanto memerankan tokoh Hendra, seorang pemuda yang tengah mencari diri dan sering terlibat konflik dengan ayahnya, Tan Kat Sun, seorang Tiong Hoa penganut Budha yang penuh toleransi sekaligus pemilik restoran tempat Menuk manatan kekasih Hendra bekerja. Sementara Enditha memerankan tokoh Rika, janda beranak satu yang baru saja menanggalkan jilbabnya serta beralih keyakinan menjadi seorang Katholik meski Abi, anaknya, dibiarkannya tetap menjadi seorang muslim. Adapun Agus Kuncoro berperan sebagai Surya seorang pemain figuran yang juga kekasih Rika yang lelah dengan kestagnanannya sampai akhirnya mendapa peran utama sebagai Jesus. Nah, Reva sendiri didaulat memerankan tokoh Menuk, seorang wanita soleha istri dari Soleh yang sangat menyayangi suaminya dengan segala kekurangannya serta masih dicintai Hendra mantan sekaligus anak majikan yang amat dihormatinya Tan Kat Sun.

Konflik dalam film ini dibangun dari berbagi perbedaan, terutama dari perbedaan keyakinan. Bagaimana tokoh-tokoh tadi salaing berhubungan di tengah perbedaan? bagaimana konflik yang terbangun? akankah kesemua tokoh di atas bisa mencapai akhir yang bahagia? kejutan-kejutan apa yang akan kita saksikan dalam film yang dari sinopsis, review, dan thriller nya sih cukup menjanjikan? Naah, penasaran kan, yuuk mari kita sama-sama pergi ke Bioskop mulai 7 April untuk menjawab seluh pertanyaan tadi.. Tunggu juga sinopsis dan Review pribadi dari penulis seputar film ini as soon as I've watched this movie.. :))

Naah, sementara untuk mengobati (bagi yg penasaran) atau malah menimbulkan rasa penasaran bagi mereka yang belum, mari kita saksikan trailernya dulu..enjoy :))